Sunday, February 14, 2010

saat mulai mengenalnya ....

Perkenalan pertamaku dengannya tepat saat rapat pertama kami di selasar mrican. Rapat pengurus baru Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi periode 2005-2006. Tempat favorit anak-anak FISIP yang multiguna. Tempat ngeceng/cuci mata, rapat, tidur, gossip, dan diskusi. Wajah yang ada dihadapanku saat itu begitu tanpa ekspresi, matanya sendu dibalik kacamata, sangat pendiam, bahunya lebar dan tegap, menggunakan jaket bertulis “Lab AVI” – komunitas anak-anak Lab. Audio Visual. Sosok yang cenderung misterius.

Kami adalah rekan sekerja dalam organisasi. Setahun mengenalnya dalam berbagai kegiatan kampus tidak juga membuat hubungan kami dekat. Kami hanyalah teman biasa. Semuanya berjalan biasa saja. Kegiatan Commex (Communications Expo) di Gedung Wanitatama tahun 2006 memang meninggalkan banyak kesan. Meski menyisakan musibah mendalam ketika kami kehilangan laptop di stand pameran. Malam terakhir acara tersebut disambut dengan hujan yang begitu deras, bukannya tawa kepuasan akan keberhasilan acara, namun berisi kecemasan panitia inti untuk mengganti laptop seharga 10 juta tersebut. Sampai dini kala itu, teman-teman berkumpul di rumahku, kami saling terdiam, tanpa kata, sangat kalut, karena yang hanya kami pikirkan hanyalah musibah ini.


Sejak itu, dia selalu mengunjungi rumah. Rumahku adalah tempat yang biasa didatangi teman-teman kampus. Selain tempat kumpul kerja kelompok, tempat rapat, juga tempat ngumpul. Aku sangat merindukan masa-masa itu, masa dimana kami semua berjuang melawan stress ditengah padatnya tugas-tugas dan kegiatan kemahasiswaan. Masa dimana para tetangga begitu kesal menatap kami karena begitu berisik ditengah malam. Aku merindukan Thurtly, kura-kura kesayanganku yang vegetarian, atau Chelsea, anjing kecil yang menjadi kembang komplek idola anjing-anjing tetangga.
Dia sebenarnya bukan tipe cowo yang ada dalam bayanganku, tubuhnya terlalu tinggi (mencapai 180 cm), wajahnya begitu dewasa dari usianya, berkacamata, pendiam cenderung membosankan, tidak bisa main musik, sangat konvensional. Tapi entah cupid mana yang memanahkan panahnya secara pelan-pelan tanpa sadar. Tak tau kapan merasakan itu, semua berjalan begitu saja.

30 Mei 2006, tiga hari pasca gempa jogja, aku harus pergi ke Jakarta. Saat itu aku diterima magang di salah satu stasiun TV selama Piala Dunia 2006 berlangsung. Malam sebelum keberangkatanku saat tengah berbincang, dia duduk diatas kasur hijauku, sementara diriku duduk di meja belajar memainkan PC-ku. Pembicaraanku dengannya tak begitu serius, sampai pada sebuah pertanyaannya yang tiba-tiba, “Tir, jika kamu menyukai orang, tapi kamu gak berani mengungkapkannya, menurutmu gimana?”, tanyanya. Jawabku, “dia pecundang”, jawaban yang lugas, meski tak kupahami apa maksud pertanyaan itu.

                                                                 *****  


Selamat Datang Jakarta,
Kata teman-teman, jangan cuman di jogja aja, Taklukkan Jakarta. Sehari sampai di kota gila ini, sms darinya masuk menanyakan kabar. Sangat tidak biasa. Sampai pada akhirnya kami terbiasa dengan saling sms. Belum 10 hari di Jakarta, kota ini duluan menaklukkanku dengan raib-nya HP satu-satunya milikku (dan satu-satunya barang tersierku) di Mangga Dua Square, tempat off air Piala Dunia diselenggarakan. Dengan raibnya HP, putuslah hubunganku dengan teman-teman di jogja.

Setiap pagi adalah kebiasaanku cek email. Hemmm ada email masuk:

Saturday, June 10, 2006 11:21 PM
From:
This sender is DomainKeys verified
rafael_vangerman@yahoo.com
View contact details
To:
tea_rha_verdant@yahoo.com
waduh...gmana tuh bu tira...koq malah ilang, pasti ilang ari sabtu kan karena jumat malam kan aq sms kmu, pntes ari sabtu mlm aq sms kmu koq ga nyampe2.. koq bisa ilang seh kan sbtu kmu libur toh..yang tabah ya bu tira.. oh ya, aq ada pertanyaan koq sctv ga nyiarin opening ceremony PD dari jerman, malah cuma dari kampung world cupnya doank..trus apa sctv kekurangan presenter bola ampe2 putri pak harto disuruh jadi presenter segala...kacau tuh..mending aq aja jadi presenternya. walau public speakingku jelek tapi minimal aq tau banyak soal bola..huahahaha...tolong nona tira sebagai humasnya menjelaskan..

Rasanya lucu juga membaca pria pendiam yang selama ini kukenal bersikap cukup akrab denganku beberapa pekan ini. Sebulan lebih tlah berlalu. Hari-hari terakhir menjelang kepulanganku ke Jogja adalah hari-hari dimana dia semakin aktif melemparkan serangan-serangan. Kemenangan Italia atas Jerman saat inilah awal dari sebuah alasan besar untuk mentraktir dia karena kalah taruhan.

                                                                     **** 

Yang ada dibenakku selama ini adalah, hidup tak harus berpasangan. Hidup sendiri adalah sebuah pilihan. Itulah yang membuat aku memilih untuk menjomblo selama 4 tahun dan berganti-ganti pasangan HTS (Hubungan Tanpa Status). Komitmen adalah sebuah pengekangan. Bukankah aku burung yang terbang bebas.

Itulah yang menjadi topik diskusiku dengan Iga, teman seangkatanku siang itu di kantin kampus. Kami sedang menunggu kedatangan salah satu dosen untuk bimbingan laporan magang. Sambil menikmati es teh sekedar mendinginkan tubuh kami melawan gerahnya suhu 35 derajat DIY. Yogyakarta. Tanpa sadar aku menatap sosok lelaki yang dari kejauhan dekat parkir mobil kampus FISIP. Saat itu aku tersadar dia dan teringat akan janjiku malam nanti, merayakan kemenangan Jerman.

saat itu aku melihat dia dari kejauhan, jika pria yang sedang berdiri diujung tersebut akan menembakku, pasti jawaban “tidak” akan terlontar dibibirku. Ah, tapi mana mungkin dia berani mengungkapkan perasaan cinta-nya. Mana mungkin?
Tiba-tiba Iga menyentakkanku dari lamunan singkat, meneruskan pembicaraannya, “tapi Tir, saranku, kamu harus belajar membuka hatimu buat orang lain!”, sarannya seolah membaca pikiranku saat itu.
                                                                          ****

15 Juli 2006
23.00
Malam semakin larut, angin malam semakin menggigitku, tapi aku terus menunggu malam ini segera berakhir. Kemudian setiap detik berlalu, setiap menit lewat, dan satu jam lagi hidupku kan berubah. Mengapa setiap pertanyaan harus dijawab? Bisakah kita melakukan segala sesuatu tanpa ketergantungan kita pada aktivitas verbal. Terkadang bibir ini sulit berucap dan lidah terasa berat berkata-kata. Halllooooo…semua makhluk yang ada di bumi ini, dapatkah kalian mengerti maksudku tanpa aku harus berucap?????puff……

23.05
Yang menjadi pertanyaanku adalah apa itu cinta? Terus terang aku tidak tau!. Betapa sulitnya aku mencerna, bahkan lebih berat dari pelajaran fisika yang kubenci atau lebih melelahkan dari olahraga lari keliling lapangan 20 kali. Apakah serumit itu? Baik Tira calm down n stay cool!!!!coba untuk berpikir sederhana!
Saat ini dia ada dihadapanmu, I think…you’ve found your Prince White Horse.....
dia seseorang yang selama ini terlepas dari pikiranku, bahkan tidak terbesit bahwa dia orangnya....orang yang selama ini terlepas dari pengamatanku.....orang yang selama ini tidak pernah terpikirkan......tapi justru dia orang yang benar-benar membuatku terpejat dan membuatku mau berkomitment.......
Saat itu aku hanya merasa..aku tidak sendiri……..
Karena aku tidak ingin sendiri....

16 Juli 2006
time: tak terdeteksi    

Pernahkah kamu tengah malam memutari daerah Kota Baru, pusat Jogja ditengah sepinya malam, berjalan berdua, sambil membicarakan satu hal yang sangat pribadi?. Hemmm…

Hanya bintang dan angin malam yang bisa menjawab keanehan kami berdua, dan menutupi semua rahasia ini agar tidak menghebohkan kampus besok …

(to be continue)

No comments:

Post a Comment