Showing posts with label sahabat. Show all posts
Showing posts with label sahabat. Show all posts

Sunday, May 10, 2015

^^gagal itu...^^

Hi Panjul,

aku gagal lagi.
aku di tolak kesekian kalinya untuk mendapatkan beasiswa.
aku tak diterima oleh Universitas.
aku gagal lagi di test English.

siang tadi, email penolakan itu membuat letih.
aku sudah mempersiapkannya sejak setahun yang lalu.
tapi semua terasa sia sia.
apakah aku harus menyerah?

tidak. itu bukanlah diriku yang kukenal.
tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku.

Hi Panjul,
sosok seperti apa yang kau pikirkan tentangku?
menurutmu siapa aku?

apakah aku bisa menggapai impianku?
bolehkah aku mencoba lagi?

Sunday, January 5, 2014

ketika cinta berkata jujur

“Bagaimana jika kamu memilih jalan yang berbeda? Bagaimana kalau mencari keberanian itu dan mengambil langkah selanjutnya? Ketika kamu membuat pilihan itu, percayalah pada sesuatu yang tak tergantikan”.

Cinta selalu membawaku pada pertanyaan besar? MENGAPA?

Itu yang menyebabkan aku tidak pernah memahami perasaan pria. Aku selalu bertanya “mengapa?”. Jika cinta berbicara mengenai hati, haruskah kepala tak meng-intimidasi?. Jika aku terus menggunakan kepalaku, apakah aku takkan mengenal cinta dengan hati?.

Ada banyak rahasia dalam hati pria, yang tersembunyi dan tak pernah bisa terungkapkan. Yang tak pernah bisa dibaca dan dipahami. Perempuan nampak lebih rumit. Pria begitu sederhana. Aku yang rumit ini tak bisa menjelajahi isi mereka yang begitu sederhana. Namun mengapa Tuhan menciptakan keduanya. Untuk saling mencintai dan dicintai, bukan?.

Monday, April 8, 2013

Teman, masih ingatkah kamu?


Hai my dear best friend,

Rasanya lega mendengar kabar terakhirmu via twitter beberapa hari lalu:
“Tira, apa kabar? Long time no see..Tira mama aku sudah pulang Puji Tuhan.. Kamu sekarang ada dimana?rindunyaa….”
“Wah, syukur alhamdulllah ya”, jawabku gaya Syahrini.
Yah, sudah cukup lama tak bertemu. Mungkin 3 tahun atau 4 tahun. Terakhir kita bermain, menikmati liburan bersama.

Sedih mendengar ceritamu waktu itu…ketika kita berdiri di orchard road, diantara sekian banyak orang berlalu lalang, namun tak ada satupun yang mengenalmu, dan tak ada pula yang kamu kenal. Mereka tidak tau apa yang kita bicarakan, entah mereka tak peduli atau memang tidak memahami bahasa kita. Tiba-tiba langkah kita terhenti. Aku sedih mengetahui kalau sahabatku sedang hancur. Aku tahu ada yang ga beres sebelum kamu mengatakan hal yang menamparmu itu.
“mamaku di sel”
“apa?”, memastikan mungkin yang aku dengar itu salah.
“mamaku di penjara”, untuk kedua kalinya kamu mengulang pernyataanmu dengan vocabulary yang berbeda. Dan aku tau itu tidak mudah. Itu terlalu berat untuk diucapkan. Mungkin saja kala itu kamu ingin berteriak dihadapan semua orang bahwa dunia sungguh tidak adil. Kamu sedang berlari dari orang-orang dekatmu. Sejenak meninggalkan kotamu. Pergi jauh ketempat orang-orang yang tak mengenalmu.
Aku tidak kaget. Aku tau betul suatu pencobaan sedang kamu alami sebelum keberangkatan kita kala itu. Kamu banyak menghindar dari pergaulan. Kamu menghindari banyak orang. Kamu bukan lagi kamu yang dulu. Kamu yang selalu memberi keceriaan bagi teman-temanmu. Kamu yang memberi passion untuk kampus. Kamu yang eksis didunia hiburan Yogyakarta. Kamu yang selalu memberi tawa dalam setiap siaranmu. Radio adalah duniamu. Entertainment adalah nyawamu. Kerja keras adalah motto-mu. Kamu punya semuanya.
Masih ingatkah kamu ketika kita duduk makan siang di sebuah food court – Universal Studio, kamu bercerita bahwa banyak orang mengkhianati mamamu, menjadikan mamamu tameng, menjadikan posisi dia yang bersalah dan mencapakkannya kedalam penjara. Disitu aku belajar bahwa kamu sedang dicoba menjadi kepala keluarga bagi adikmu.
Masih ingatkah kamu ketika kita “mengejar Jakarta”, anak kampus dari kota Jogja yang mencoba peruntungan di kota Metropolitan yang gila, dimana kamu pernah diculik oleh segerombolan penjahat dan seluruh barangmu dicuri. Akulah orang yang kamu telepon setelah tantemu disebuah wartel yang kamu sendiri tak tau dimana. mereka melemparmu begitu saja dari mobil. Jakarta yang gila, begitukan?.Terima kasih untuk selalu ingat no hp-ku. Kamu terlalu kuat melewati ujian itu. Kamu terlalu banyak mendapat tempaan, kawan.

Monday, January 7, 2013

Panjul, sahabat baruku

Aku punya sahabat baru. Namanya Panjul. Perkenalan pertama kami saat aku duduk di balkon kost di hari pertama ditahun 2013. Aku baru menyadari bahwa sebenarnya Panjul tinggal didekat kediamanku sudah sejak lama. Tapi entah mengapa, sore itu aku dipertemukan dengan dia.

Setelah 6 bulan tinggal di kediaman ini, tidak sekalipun aku sempat merebahkan diri di balkon depan kamar. Rasanya hari-hari lalu sangat disibukkan dengan aktifitas, saat waktu renggangpun, aku hanya mengurung diri dikamar menikmati kesendirian. Namun, sore itu, entah angin apa yang membawaku terduduk beberapa menit di depan balkon, menikmati mendungnya langit, mencium bau tanah yang basah sisa hujan siang tadi.

Lalu datang dan hinggap seekor burung tak jauh dari pohon mangga depan rumah, dipatuk-patukkannya paruh pada batang pohon itu, mengarahkan matanya padaku seolah-olah menyapa dan berkenalan denganku. Tertegun aku memperhatikannya tanpa mengedipkan mata. Kemudian dia terbang bebas dan lepas, mungkin kembali ke sarangnya yang tak jauh dari situ, mungkin kembali pada anak-anak burungnya yang masih belajar bercicit.


Wednesday, October 28, 2009

diriku yang setengah

Aku yang suka masuk ke dalam kota asing.
Telah lama memikirkan tentang ini.
Cahaya matahari memancar ke istana itu, tapi keindahan akan menghilang dalam suatu hari.
Disana adalah tempat kita untuk memikirkan kenangan yang sudah hilang, aku ingin menetap disini dan maju. Dunia yang aneh, dunia yang kecil, kesepian yang dalam, dengan kebebasan baru juga kesenangan.
Perjalanan ini untuk pencarian yang spesial.

Tiba tiba aku seperti berada diatas sebuah bukit yang tinggi, penuh padang ilalang berwarna kuning keemasan, jika ku pejamkan mata, merasakan wangi alam yang begitu asli, anginnya mengibaskan rambut menutupi mataku.

Aku ingin berteriak, karena tidak ada orang disekeliling, menjadi diriku yang tak biasa namun apa adanya.

Aku sangat suka hujan, setiap kali hujan, maka ku menatap serpihan-serpihan air yang jatuh dari langit menuju peraduannya: tanah

Tiba-tiba air tersebut melebur, dan memecah di bumi
Ibarat puzzle, aku harus menyusunnya kembali
Tetapi mengapa hanya berhasil setengah? Lalu kemana yang lain, sepertinya pergi, hilang dalam perut sang penguasa.

Ah, aku bohong. Sesungguhnya, Aku suka mendung. Tidak terlalu terik, tidak pula terlalu basah. Awan-awan itu seperti mengatakan sesuatu
Tak perlu ada sinar, Tak perlu juga ada air
Tetapi mendung …

Diriku yang setengah ini, begitu lemah, begitu biasa, tak ada yang istimewa.
Diriku yang setengah ini sungguh manusia tak mampu mengambil sikap
diriku yang setengah ini hanya bersembunyi dalam goa ketakutan
diriku sungguh manusia biasa …

cuman satu kata yang ingin kusampaikan saat ini..
MAAF

Palangkaraya, 28 Oktober 2009

Monday, July 27, 2009

--tiba tiba aku menangis --


Kenikmatan ini ketika terkungkung oleh kepuasan orgasme.., mengagung-agungkan libido. Ketika aliran deras memuncak mengalir di celah nadi-nadi.

Apakah pria hanya melihat perempuan dari sudut lubang kenikmatan saja?. Dan hasrat tegangan tinggi milik mereka yang tersemburkan. Yang tersisa hanyalah ceceran cairan kental bercampurkan sperma.

Lalu apa itu tanggung jawab?

Tiba-tiba air mataku keluar, menetes beberapa detik sesudahnya, sambil kembali merenung betapa gagalnya aku menjadi teman yang baik.  Entah mengapa aku menangis. Mengapa aku bersedih mendengar kabar itu. Aku hanya merasa sungguh menyesal mengapa aku tidak berbuat sesuatu untukmu. Aku cinta kebebasan, maka demikian aku juga tidak pernah mengekang kebebasan orang lain. Jogja memang negeri antah berantah.

Tetapi air mataku terus mengalir. Entah mengapa aku benar-benar sedih. Untuk kesekian kalinya aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku sedih mengapa perempuan selalu berada pada posisi korban.

Terserah seberapa penting atau tidak penting arti virginitas itu.
Terserah sebebas apa dirimu menentukan tubuhmu untuk apa dan siapa

Tapi jangan menjadi bodoh
Jangan menjadi tolol
Karena aku tidak tega
Dan tak berdaya melihat tangisan bayi-bayi tanpa ayah
Teriakan bayi-bayi tanpa kasih sayang
Kepolosan bayi-bayi dari kedurjanaan orang tuanya
Anak anak yang akan dibesarkan dengan beribu pertanyaan
Dan kebahagiaan masa kecil mereka akan dicuri oleh kesakithatian

Temanku,
Aku sedih
merasa ini sebuah ketololan
ya, atau apalah namanya ...
Dengan laki-laki yang hanya mengandalkan penis mereka
Padahal otak dan hatinya bernilai “nol”

Tapi inilah jalan hidup teman,
Kita menempuhnya masing-masing

Tiba-tiba aku menangis ...


untuk seorang sahabatku!