Showing posts with label alam. Show all posts
Showing posts with label alam. Show all posts
Friday, September 5, 2014
=sebuah mantra hujan=
di ujung jembatan selepas sore menjelang gelap
tiga gadis kecil berlarian mengangkat sandal jepit diatas kepalanya
hujan tiba
kami berlarian sepanjang jalan kampung sambil riang menyanyikan senandung hujan
udano sing deres
nyambelo sing pedes
macako sing pantes
kuplukan sing ambles
semacam lirik kegembiraan menyambut hujan. Berkali kali kami mencuapkan matra itu.
Mantra itu berhasil, hujan pun makin deras!
Lalu
hujan mulai mereda.
Kami menceburkan diri ke kali, berlarian di pematang sawah, bersorak meneriaki itik yang berbaris.
Kami mencuri buah delima. Mengumpulkan bunga bunga bugenvile yang berjatuhan.
Aku terpeleset, beberapa detik kemudian kami saling menertawakan.
Kakiku dipenuhi koreng. Jari kuku-ku kotor.
Rambutku penuh kutu. Juga berwarna merah karena sengatan mentari.
Sungguh bukan seperti gadis kecil manis yang berkulit mulus.
Aku tak ingin menua.
Aku masih ingin berlarian menyambut hujan.
Menikmati semua alam. Menjadi diriku sebagaimana aku.
Bersama teman-temanku.
Malang, 20 tahun lalu.
Tuesday, September 10, 2013
A Lovely Solitude in the Beach!
Hidupku seperti dimulai pagi ini. Ketika berkeliling sepeda, mengitari perkampungan di Pulau Gili Trawangan. Menyatu dengan keaslian dan kemurnian penduduk setempat. Sepedaku terus mengikuti angin, bergerak menuju arah utara.
Tempat dimana jauh dari keramaian, aku menemukan bibir pantai yang indah. Warnanya biru di ujung garis horizon, kemudian berlapiskan biru yang lebih muda.
Hanya beberapa perahun nelayan saja yang parkir disini. Beberapa turis asing menjemurkan tubuhnya dibawah terik matahari. Saya langsung memarkirkan sepeda keranjang butut dibawah pohon rindang. Ini adalah spot yang sangat sempurna, dibawah pohon bakau, diatas pasir, berebah dan sayup sayup angin menggelitikku. Akupun terlelap.
Mentari Tak Pernah Ingkar Janji
Pagi ini. Segaris horizontal terang muncul dari ujung cakrawala menggantikan gelap. Degradasi hitam, kuning, orange kemudian kemerahan. Bintang masih berkelip dilangit, namun perlahan memudar tertutup awan. Lekukan perbukitan Gili Meno mulai menampakkan diri.
Pagi ini. Di Gili Trawangan. Fajar masih bersembunyi dibalik cakrawala. Pada akhirnya memancarkan warna kemerah-merahan. Pagi ini pukul 5.45 ketika langit berwarna jingga. Semua nampak siluet, kini hanya dua hingga tiga bintang yang bertahan melawan siang.
Tapi mentari tak pernah ingkar janji. Di balik bukit itu, warnanya yang membara muncul. Yah, disinilah aku tinggal. Dibumi Nusantara yang indah ini. Dimana mentari tropis bersinar sepanjang tahun.

Pagi ini. Aku lega. Menjadi saksi bagi fajar pagi. Dan aku mulai berebah bermandikan pasir sambil kemudian tertidur oleh alunan debur ombak yang meraba bibir pantai.
Salah satu rekan saya pernah menanyakan, “apa enaknya traveling sendirian?”. Bahkan sepulang perjalanan saya ke Lombok, beberapa rekan cukup terkaget dan heran dengan kebiasaan saya yang aneh. Solo Traveling.
Either traveling sendirian atau rame-rame prinsipnya sangat menyenangkan. Masing-masing memiliki kesenangan dan kelebihannya sendiri. Kalau ada teman-teman, moment penting buat kebersamaan, buat diskusi dan buat bisa gila-gilaan.
Friday, March 29, 2013
Malam indah ketika...
Selamat malam dunia,
Kamu tau beberapa malam ini aku sangat kesepian.
Tahukah malam indah yang amat kurindukan?
Ketika melarut diatas sebuah sampan kecil, disebuah sungai bernama sungai Muara Mea
Malam itu malam yang cantik, perahu kamu begitu kecil
Diantara dua tebing yang begitu tinggi, diatasnya terdapat pepohonan yang begitu gagahnya.
Purnama malam itu bersembunyi dibalik postur nyiur kelapa.
Indah sekali, karena cantiknya menghilangkan rasa takutku
Teman teman ketakutan kala itu, karena kami harus menyeberangi sungai menuju desa lain.
Tetapi aku tidak. Aku berserah pada alam. Menengadah keatas dan berkata "ini aku".
Kamu tau beberapa malam ini aku sangat kesepian.
Tahukah malam indah yang amat kurindukan?
Ketika melarut diatas sebuah sampan kecil, disebuah sungai bernama sungai Muara Mea
Malam itu malam yang cantik, perahu kamu begitu kecil
Diantara dua tebing yang begitu tinggi, diatasnya terdapat pepohonan yang begitu gagahnya.
Purnama malam itu bersembunyi dibalik postur nyiur kelapa.
Indah sekali, karena cantiknya menghilangkan rasa takutku
Teman teman ketakutan kala itu, karena kami harus menyeberangi sungai menuju desa lain.
Tetapi aku tidak. Aku berserah pada alam. Menengadah keatas dan berkata "ini aku".
Monday, January 7, 2013
Panjul, sahabat baruku
Aku punya sahabat baru. Namanya Panjul. Perkenalan pertama kami saat aku duduk di balkon kost di hari pertama ditahun 2013. Aku baru menyadari bahwa sebenarnya Panjul tinggal didekat kediamanku sudah sejak lama. Tapi entah mengapa, sore itu aku dipertemukan dengan dia.
Setelah 6 bulan tinggal di kediaman ini, tidak sekalipun aku sempat merebahkan diri di balkon depan kamar. Rasanya hari-hari lalu sangat disibukkan dengan aktifitas, saat waktu renggangpun, aku hanya mengurung diri dikamar menikmati kesendirian. Namun, sore itu, entah angin apa yang membawaku terduduk beberapa menit di depan balkon, menikmati mendungnya langit, mencium bau tanah yang basah sisa hujan siang tadi.
Lalu datang dan hinggap seekor burung tak jauh dari pohon mangga depan rumah, dipatuk-patukkannya paruh pada batang pohon itu, mengarahkan matanya padaku seolah-olah menyapa dan berkenalan denganku. Tertegun aku memperhatikannya tanpa mengedipkan mata. Kemudian dia terbang bebas dan lepas, mungkin kembali ke sarangnya yang tak jauh dari situ, mungkin kembali pada anak-anak burungnya yang masih belajar bercicit.
Setelah 6 bulan tinggal di kediaman ini, tidak sekalipun aku sempat merebahkan diri di balkon depan kamar. Rasanya hari-hari lalu sangat disibukkan dengan aktifitas, saat waktu renggangpun, aku hanya mengurung diri dikamar menikmati kesendirian. Namun, sore itu, entah angin apa yang membawaku terduduk beberapa menit di depan balkon, menikmati mendungnya langit, mencium bau tanah yang basah sisa hujan siang tadi.
Lalu datang dan hinggap seekor burung tak jauh dari pohon mangga depan rumah, dipatuk-patukkannya paruh pada batang pohon itu, mengarahkan matanya padaku seolah-olah menyapa dan berkenalan denganku. Tertegun aku memperhatikannya tanpa mengedipkan mata. Kemudian dia terbang bebas dan lepas, mungkin kembali ke sarangnya yang tak jauh dari situ, mungkin kembali pada anak-anak burungnya yang masih belajar bercicit.
Tuesday, December 25, 2012
...... ketika layu dan hilang
Hi bumi, pohon itu tak lagi berbunga
terkulai sayu,
Hi bumi, lihatlah, dedaunannya nampak layu;
Akankah ini saatnya ditebang.
Langit, kemana terbangnya burung- burung itu;
Hilang saat mataku mengamatinya terus
Langit, ini menyedihkan;
Dan jangan sampai senja sore mengetahuinya,
Hi Pencipta cakrawala, aku tak ingin menangis;
Karena Kau sudah mengatakan
Pohon itu akan mati dan burung akan terbang pergi jauh,
Kemudian DIA berkata: Kujanjikan padamu pohon kehidupan dimana burung- burung berlindung didalamnya.
Malang, 24 Desember 2012, Pohon Flamboyan dekat rumahku itu tak berbunga lagi.
Sunday, October 14, 2012
memanggil hujan!
Beberapa hari ini langit Bandung sedang mempermainkanku. Dia seperti mengambang-ngambang hatiku. Memberikan harap harap cemas yang tak kunjung memberikan kepastian. Aku benar-benar merasa di tarik ulur dengan ketidakpastian. Langit Bandung mendung beberapa hari ini, tetapi tidak juga tumpah hujan. Padahal itu yang ku inginkan. HUJAN.
Wednesday, September 5, 2012
what is your dream? see the world (2)
Hidup ga akan berarti kalau kamu ga punya mimpi. Kalau hari ini kamu masih belum punya mimpi, BERMIMPILAH. Tapi sesudah itu jangan biarkan mimpi itu melayang dan akhirnya pergi tanpa kita gengam sedikitpun. Buat kamu yang yakin dengan sesuatu yang spiritual, mimpi adalah bagian dari itu. Pengalaman spiritualku yang membawa aku tetap membawa mimpi itu akhirnya datang padaku. Ya, hubungan spiritualku dengan Bapaku.
Percaya ga bahwa sebenarnya mimpi yang sudah tercatat dan tulisan kehidupanmu itu sudah diberikan jauh sebelum kamu memintanya. Tetapi banyak orang tidak meraihnya karena tidak ada keyakinan serta upaya untuk meraih itu, sehingga mimpi yang sudah didepan mata itu pergi begitu saja tanpa kita mengetahuinya.
tetapi ini nyata, ketika aku meneguhkan janji pada diri sendiri di hadapan Anita, teman SD-ku ketika kami masih di kelas 2 SD (lihat: rencana besar dua gadis cilik). "Anita, aku ingin berkelana, melihat dunia, kalau sudah cukup besar aku mau pergi dari rumah dan melihat apa yang ingin aku lihat".
***
Tiba tiba pikiranku terjaga ketika petugas imigrasi di gate kedatangan San Fransisco berseru:"next", aku meninggalkan garis antrian berwarna kuning, melangkah menuju pria gemuk usia sekitar 50 tahun yang masih aktif bekerja di tengah malam seperti ini membuka passport-ku dan bertanya:
"what is your purpose come to here?"
" business sir, a conference",
"how long you will've been here?".
"1 week, almost 2 week".
Dia membuka setiap lembar, dan mengamati visa yang tertulis jelas "United State of America" di dalamnya. "ok, go!", dia memberikan passport dan kertas form imigrasi. Dan ternyata lolos dengan mudahnya. Kenapa? karena tengah malam dateng, jadi petugas imigrasi ga rese. hehehe.
Rasanya lega melewati wajah wajah tidak ramah itu. Aku merasakan jetleg yang membuat kepala serasa puyeng. Malam di USA, siang di Indonesia, tapi tubuhku masih mengikuti waktu Indonesia. Aku ngantuk sekali di siang hari karena merasa ini malam, dan gak bisa tidur di malam hari karena di Indonesia masih siang. Aneh ya...:)
Tetapi kemudian aku melihat ke jendela luar, melihat wajah belahan dunia lain. Pagi mulai meyingsing, aku melihat cahaya, dan pertama kalinya melihat benua Amerika dari bandara San Fracisco.
Percaya ga bahwa sebenarnya mimpi yang sudah tercatat dan tulisan kehidupanmu itu sudah diberikan jauh sebelum kamu memintanya. Tetapi banyak orang tidak meraihnya karena tidak ada keyakinan serta upaya untuk meraih itu, sehingga mimpi yang sudah didepan mata itu pergi begitu saja tanpa kita mengetahuinya.
tetapi ini nyata, ketika aku meneguhkan janji pada diri sendiri di hadapan Anita, teman SD-ku ketika kami masih di kelas 2 SD (lihat: rencana besar dua gadis cilik). "Anita, aku ingin berkelana, melihat dunia, kalau sudah cukup besar aku mau pergi dari rumah dan melihat apa yang ingin aku lihat".
***
Tiba tiba pikiranku terjaga ketika petugas imigrasi di gate kedatangan San Fransisco berseru:"next", aku meninggalkan garis antrian berwarna kuning, melangkah menuju pria gemuk usia sekitar 50 tahun yang masih aktif bekerja di tengah malam seperti ini membuka passport-ku dan bertanya:
"what is your purpose come to here?"
" business sir, a conference",
"how long you will've been here?".
"1 week, almost 2 week".
Dia membuka setiap lembar, dan mengamati visa yang tertulis jelas "United State of America" di dalamnya. "ok, go!", dia memberikan passport dan kertas form imigrasi. Dan ternyata lolos dengan mudahnya. Kenapa? karena tengah malam dateng, jadi petugas imigrasi ga rese. hehehe.
Rasanya lega melewati wajah wajah tidak ramah itu. Aku merasakan jetleg yang membuat kepala serasa puyeng. Malam di USA, siang di Indonesia, tapi tubuhku masih mengikuti waktu Indonesia. Aku ngantuk sekali di siang hari karena merasa ini malam, dan gak bisa tidur di malam hari karena di Indonesia masih siang. Aneh ya...:)
Tetapi kemudian aku melihat ke jendela luar, melihat wajah belahan dunia lain. Pagi mulai meyingsing, aku melihat cahaya, dan pertama kalinya melihat benua Amerika dari bandara San Fracisco.
Monday, September 7, 2009
Pondok Kecilku ..
Pondok kecil 2x3 meter yang hampir ‘reyot’ itu ditiduri 13 orang . Saksi bahwa kami telah menginjakkan hutan gambut. Malam itu kami belajar bersahabat dengan alam.
Bintang terlihat begitu dekat, langit cakrawala menguasai malam di pondok nelayan kecil kami. Di dalam hutan rasau dan bakung Sebangau kami merebahkan diri. Suasana begitu gelap, hanya ditemani oleh sebuah senter. Hem, malam ini kami bagai semut di padang pasir, jauh beratus ratus kilometer dari dunia keramaian.
Tiga belas orang. kita berjejer. 12 lelaki dengan diriku ditengah. Kita tidur dengan nyenyak.
Hey teman, aku merindukan kebersamaan kita saat itu.
Aku merindukan suara mesin kelotok.
Aku merindukan celotehan.
Aku merindukan hangatnya Borneo
Aku merindukan misteri Sebangau.
Bintang terlihat begitu dekat, langit cakrawala menguasai malam di pondok nelayan kecil kami. Di dalam hutan rasau dan bakung Sebangau kami merebahkan diri. Suasana begitu gelap, hanya ditemani oleh sebuah senter. Hem, malam ini kami bagai semut di padang pasir, jauh beratus ratus kilometer dari dunia keramaian.
Tiga belas orang. kita berjejer. 12 lelaki dengan diriku ditengah. Kita tidur dengan nyenyak.
Hey teman, aku merindukan kebersamaan kita saat itu.
Aku merindukan suara mesin kelotok.
Aku merindukan celotehan.
Aku merindukan hangatnya Borneo
Aku merindukan misteri Sebangau.
Subscribe to:
Posts (Atom)

