Showing posts with label borneo. Show all posts
Showing posts with label borneo. Show all posts

Saturday, August 14, 2010

^^ jenuh ^^

jenuhku seperti cawan yang berbanjir anggur
membuatku mabuk kesepian
berputar-putar di kesendirian

aku menjadi autis
berkelana di dunia maya
saat membuka mata realitas
tak bisa kutepis bahwa aku jenuh

apa seperti ini hidup orang dewasa
atau memang jalan yang kupilih sendiri?
aku bosan dengan semuanya ini

Wednesday, October 28, 2009

diriku yang setengah

Aku yang suka masuk ke dalam kota asing.
Telah lama memikirkan tentang ini.
Cahaya matahari memancar ke istana itu, tapi keindahan akan menghilang dalam suatu hari.
Disana adalah tempat kita untuk memikirkan kenangan yang sudah hilang, aku ingin menetap disini dan maju. Dunia yang aneh, dunia yang kecil, kesepian yang dalam, dengan kebebasan baru juga kesenangan.
Perjalanan ini untuk pencarian yang spesial.

Tiba tiba aku seperti berada diatas sebuah bukit yang tinggi, penuh padang ilalang berwarna kuning keemasan, jika ku pejamkan mata, merasakan wangi alam yang begitu asli, anginnya mengibaskan rambut menutupi mataku.

Aku ingin berteriak, karena tidak ada orang disekeliling, menjadi diriku yang tak biasa namun apa adanya.

Aku sangat suka hujan, setiap kali hujan, maka ku menatap serpihan-serpihan air yang jatuh dari langit menuju peraduannya: tanah

Tiba-tiba air tersebut melebur, dan memecah di bumi
Ibarat puzzle, aku harus menyusunnya kembali
Tetapi mengapa hanya berhasil setengah? Lalu kemana yang lain, sepertinya pergi, hilang dalam perut sang penguasa.

Ah, aku bohong. Sesungguhnya, Aku suka mendung. Tidak terlalu terik, tidak pula terlalu basah. Awan-awan itu seperti mengatakan sesuatu
Tak perlu ada sinar, Tak perlu juga ada air
Tetapi mendung …

Diriku yang setengah ini, begitu lemah, begitu biasa, tak ada yang istimewa.
Diriku yang setengah ini sungguh manusia tak mampu mengambil sikap
diriku yang setengah ini hanya bersembunyi dalam goa ketakutan
diriku sungguh manusia biasa …

cuman satu kata yang ingin kusampaikan saat ini..
MAAF

Palangkaraya, 28 Oktober 2009

Tuesday, September 22, 2009

'my obstinate travelling'

After fasting month, Indonesian’s moslem has celebrated Idul Fitri, so we did long holiday. Accasionally, I did holiday at Malang city, my hometown. But, this year, me and my friends, Eka and Ellen have planned trip to Pangkalanbun and Sampit City. It’s located about 8 hours from Palangkaraya. Administratively, Pangkalanbun is part of Kotawaringin Barat District. Actually, we went to Pangkalanbun instead of perfect planning, besides, this is our first time to Pangkalanbun, we don’t have family or intimate friends, so the title of our travelling is “Obstinate Travelling”.yuhuuuuuuu……

I didn’t believe that Eka, one of my friends has a facebook’s friend. Eka is a freaky, madly, truly flexible friend. Because we will browsing around this city if we have guide to accompany. Her facebook’s friend is Nehemia, he works as apoteker. So, this moment is first time meeting each other. We didn’t care who are they (Mia and his friends, Agus and Singgih), wicked man or violator maybe…. the important for me is “we have a guide to accompany us browsing around this city. cihuyyyy.



Gulf of Bogam, the virgin beach
When I saw this beach, I didn’t believe that Borneo has a great beach. I think borneo only has lot of rivers and forest, no more beach ecosystem, but I was false, I went there in Bogam Gulf, Pangkalanbun. I looked at the blue beach, the sand is different than java’s beach, the small seed delicater than south java beach and the atmosphere is so calm.
I won’t forget that days as long as I live, “obstinate travelling”, I don’t know how to tell my story and our experience. Despite strange place, we met new friends. And of course, I will go anywhere after this crazy moment.


Monday, September 7, 2009

Pondok Kecilku ..

Pondok kecil 2x3 meter yang hampir ‘reyot’ itu ditiduri 13 orang . Saksi bahwa kami telah menginjakkan hutan gambut. Malam itu kami belajar bersahabat dengan alam.

Bintang terlihat begitu dekat, langit cakrawala menguasai malam di pondok nelayan kecil kami. Di dalam hutan rasau dan bakung Sebangau kami merebahkan diri. Suasana begitu gelap, hanya ditemani oleh sebuah senter. Hem, malam ini kami bagai semut di padang pasir, jauh beratus ratus kilometer dari dunia keramaian.

Tiga belas orang. kita berjejer. 12 lelaki dengan diriku ditengah. Kita tidur dengan nyenyak.

Hey teman, aku merindukan kebersamaan kita saat itu.
Aku merindukan suara mesin kelotok.
Aku merindukan celotehan.
Aku merindukan hangatnya Borneo
Aku merindukan misteri Sebangau.

  



Monday, May 4, 2009

adventuress wanna be ...

Perjalanan menjadi bagpacker cukup memberi tantangan tertentu bagiku, dengan barang seadanya malam itu aku menyiapkan pakaian, selimut dan seprei untuk keperluan selama 3 hari di SSI. Alarm berdering pukul 07.00 WIB, aku bergegas membersihkan diri dan menyiapkan bagpacker-ku lengkap dengan topi rimba dan sebotol air mineral. Tidak lupa Nikon D60 pinjaman kantor serta laptop Accer 4315 kesayangan ku bawa manis dalam satu tas. Pukul 07.30  aku naik Taxi (sebutan bagi orang Kalimantan, padahal sebenarnya itu angkot/mikrolet) menuju terminal pasar kemudian oper menuju Pelabuhan Kereng Bangkirai.

Bus Air Tirto Wangi sudah menunggu di dermaga, langkahku semakin pasti, maklum ini pertama kalinya aku berangkat sendiri ke SSI Sebangau. SSI kepanjangan dari Sebangau Sinantra Indah, dulu wilayah ini adalah HPH (Hutan Produksi) manakala kayu dilegalkan. Sekarang wilayah itu dijadikan basecamp/field station bagi Balai Taman Nasional Sebangau dan WWF-Indonesia. Hutan Sebangau yang terletak di antara sungai Sebangau dan sungai Katingan ini merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalimantan Tengah setelah Pemerintah Pusat meresmikan sebuah proyek pertanian di lahan gambut di area yang berbatasan dengan Taman Nasional tersebut, yaitu suatu proyek ‘Mega Rice Project’ yang disebut dengan “Lahan Sejuta Hektar” pada tahun 1995. Hutan ini menjadi Taman Nasional dengan luas kawasan sekitar 568.700 hektar, memang pemahaman tentang Taman Nasional kurang dipahami banyak oleh orang awam. Sebenarnya Taman Nasional ini merupakan wilayah yang keberadaannya dilindungi dan dilestarikan berdasarkan pembagian zonasi. Dimana ada bagian-bagian tertentu dari hutan gambut Sebangau ini yang tidak boleh di lewati/dijamah, bagian untuk penelitian, bagian untuk di manfaatkan masyarakat, bagian untuk ekowisata dan sebagainya.

Perjalanan dari Pelabuhan Kereng menuju SSI dengan menelusuri sungai Sebangau sebenarnya cukup ditempuh 3 jam (bus air), namun sayang, perjalanan ini tak semulus yang dibayangkan, bus air beberapa kali mogok. Dengan bermodal karcis Rp. 82.000,- aku bersama penumpang lain cukup sabar menunggu pak motorist membenahi mesin bus air.  Bus air atau kelotok merupakan satu-satunya transportasi andalan bagi masyarakat Sebangau, media jalan darat belum dapat ditempuh dengan baik karena medan yang begitu berat (terlebih di musim hujan). Bus Air Tirtowangi melayani perjalanan Pelabuhan Kereng, Palangkaraya-Paduran, Pulang Pisau. Jarak ditempuh sekitar 8 jam dengan bus ini, tentu saja sepanjang pejalanan kita hanya melihat rasau, bakung dan pohon-pohon gundul bekas terbakar beberapa tahun lalu. Paduran merupakan salah satu daerah terpencil di Kalimantan Tengah yang memang sulit dijangkau. Penduduknya sebagian transmigrasi Jawa sehingga tidak heran jika bahasa mereka identik Jawa. Sejak tahun 1986 pemukiman itu ada sebagai desa kecil bagi para pekerja kayu. Pasca diberlakukannya UU anti Illegal Logging, desa itu seolah terlupakan.

Tapi perjalananku kali ini tidak ke Desa Paduran, melainkan SSI, tempat yang lebih dekat dari Palangkaraya. Sambil menunggu mesin diperbaiki, aku mendengar pembicaraan para penumpang di belakang. “Kabarnya, dibawah sungai ini banyak emasnya, kedalamannya hanya 6 meter”, sahut seorang penumpang yang berlogat campuran Jawa Banjar. Banyak cerita-cerita masyarakat mengenai peluang untuk meraih keuntungan di kawasan yang dilindungi ini.

Aku telat 2 jam dari waktu yang seharusnya. Tapi untung Mas Jo, seorang rekan lapangan menjemputku di wilayah mangkok. Kondisinya saat itu banjir, air naik cukup tinggi. Saat ini aku berada di wilayah pembibitan dan Penanaman. Lokasi ini merupakan salah satu wilayah kerja WWF-Indonesia. Kondisi air tinggi membuat harapanku bertemu macan dahan musnah. Cerita orang-orang lapangan, tiap pagi macan dahan selalu lewat jembatan yang berjarak kurang lebih 1 km dari field station kami. Tapi kalau kondisi air naik, sangat tidak memungkinkan untuk bergerak kedalam untuk melihat-lihat kanopi.
Tapi tak apa, sampai di field station, orang-orang lapangan menyambut dengan senyum. Ya maklum, kondisi di sana sangat jarang bertemu orang, jarang ada tanda-tanda kehidupan, yang ada menyadari bahwa kita sedang berada di tengah hutan yang sebagian gundul karena terbakar.

Hari kedua di SSI
Sebelum alarm HP berdering, aku terbangun oleh kicauan burung-burung dari balik hutan Sebangau yang saling bersaut-sautan merdu sekali. Sungguh membuatku ingin terus memejamkan mataku sambil menikmati nyanyian burung-burung itu. Tetapi sebelum melihat sunrise aku memaksakan diri mengangkat tubuhku, membenahi tempat tidur dan membuka jendela kamar. Wah, tampak pemandangan alamiah semak belukar direndam air setinggi paha orang dewasa.

Camp kami memiliki 5 kamar ditambah 1 ruang kerja, lengkap dengan pendopo, kamar mandi, ruang tamu dan menara pengintai. Pagi itu juga aku segera mengambil kameraku dan naik menuju atas menara, mencoba melihat bentuk matahari yang mulai mengintip dari kejauhan. Warnanya kekuning-kuningan dikelilingi silau merah yang semakin mempercantik bidikan foto yang kubingkai.

Setelah bebenah diri dan sarapan pagi, kami bergerak menuju wilayah mangkok, satu km dari SSI yang merupakan persimpangan /muara yang terkenal ada buayanya. Tentu saja kedatanganku bukan senekat itu untuk mencari buaya, tetapi hanya ingin memotret lanting, yaitu rumah khas Kalimantan yang berada di atas air. Daerah mangkok memang bukan sebuah pemukiman, disitu hanya dibangun 3 buah lanting yang dipakai sebagai rumah persinggahan bagi nelayan yang bekerja. Kami bergegas mengunjungi Mang Sasi (Amang yaitu panggilan serupa Om/Paman), salah seorang nelayan. Beliau membawaku dengan perahu dayung memutari anak-anak sungai Sebangau. Perahu Dayung hanya dapat di tumpangi 2 orang, dan tentu kita tidak dapat sembarang bergerak karena di kondisi tidak seimbang perahu tersebut bisa saja terbalik. Ha..ha terbayang dunk jika perahu itu terbalik, aku dan Mang Sasi bisa menjadi santapan buaya. Tapi tenang, Mang Sasi sudah ahli dalam jukung-menjukung (baca: dayung-mendayung), karena jalan yang dilalui semakin susah dan penuh dengan dahan-dahan pohon yang mengganggu maka kupuaskan memotret hingga akhirnya kami kembali ke lanting.

Siang hari terik, aku kembali ke lokasi Penanaman. Letaknya 5 km dari mangkok. Dengan naik speed kecil 15 PK kami melintasi kanal atau saluran air yang dulu semasa jayanya jaman kayu dipakai sebagai media mengalirkan log kayu dari dalam hutan. Jangan pula membayangkan hutan dikanan dan kiri, karena sejauh mata memandang hanya ada bekas pohon terbakar serta semak belukar sisa kebakaran tahun 2006. Kanal yang dibuat oleh para pengusaha kayu ini justru merusak fungsi tanah gambut yang memiliki tingkat kelembapan tinggi. Saat musim hujan kondisi hutan banjir dan dimusim kemarau sekitar akan kering sehingga dapat menyebabkan kebakaran hutan. Hutan rawa gambut memang unik, peranan hidrologis-nya sangat penting karena secara alami berfungsi sebagai cadangan air/tampung hujan (reservoir) dengan kapasitas yang sangat besar. Jika hutan  tersebut tidak terganggu, lahan gambut dapat menyimpan air sebanyak 0,8 – 0,9 m3/m3, sehingga dapat mengatur keseimbangan air pada musim hujan dan musim kemarau (Suryadiputera, et.al., 2004). Jika keseimbangan ini tidak terjaga, alhasil kebakaran besar beberapa tahun lalu yang membuat kita ekspor asap ke negara tetangga bisa terulang lagi .

Siang itu sekitar pukul 14.00, sinar matahari begitu menyengat. Kebetulan orang-orang sedang melakukan Penanaman di sekitar lokasi. Kulitku mulai gelap, terbakar karena panas sang raja siang, tapi tak apa, bukan rimbawati namanya jika ke hutan gak hitam. Kami sibuk memotret orang yang sibuk menanam, bekerja di lahan bergambut memang perlu kekuatan fisik tersendiri. Bagi anda-anda yang pernah mendaki gunung dan menelusuri hutan di jawa, maka anda belum dikatakan rimbawan sejati jika belum merasakan kerasnya medan rawa gambut.

Hari Ketiga di SSI
Wah, inilah hari terakhirku. Hari ini lebih banyak tidur di SSI. Beginilah jika kondisi sekitar banjir, tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk bisa bertualang. Air pasang, sehingga sulit bagi kita untuk menelusuri tempat-tempat tertentu disela keterbatasan transportasi. Tapi setidaknya disini tempat yang terbaik daripada di kota. Berada di tempat tenang jauh dari sentuhan-sentuhan kapitalis dan manusia-manusia arogan membuatku sejenak bisa banyak berpikir dan menjernihkan hati supaya bisa refresh.

Hari mulai malam, kami pulang di jemput speedboat milik WWF dari Katingan. Mengendarai speedboat di malam hari memang hal yang nekat, maka pak motorist perlu berhati-hati. Sepanjang perjalanan aku hanya menatap langit. Saat berada di kota, aku tidak pernah melihat langit malam seindah ini. Galaksi saling membentuk gugusannya dengan cantik sekali. Aku benar-benar terkesima oleh keajaiban Tuhan, kenapa begitu “amazing”nya cakrawala buatan-Nya. Rasanya terlalu berat melewati moment terbentuknya gugusan bintang tersebut. Apakah ada Andromeda di sana? Saling berkedap-kedip, ada yang besar dan ada yang kecil, perannya persis seperti kunang-kunang yang menghiasi gelap dan menerangi sekelilingnya. Hingga malam semakin larut, aku mengucapkan selamat tinggal malam karena pagi kemudian menyapaku.

Monday, December 8, 2008

Cerita tahun 2008

Januari 2008
penantian...hanya berisi penantian..
menunggu panggilan kerja...
tetap...tetap saja harus kau jalani status freelancer mu..
Sarjana Ilmu Sosial yang sedang mencari pekerjaan...........

Februari 2008
Sweet banget, meng-konsep acara Valentine Blind Date 'Let's Blind For a While" di Cafe Coklat
sejenak lupa menunggu panggilan kerja...
bulan manis, sekaligus bulan tanpa mawar merah yang tak kunjung datang padaku

Maret 2008
Aku desparate...
aku merasa jatuh...
papa tak menyapa-ku, dia tak peduli
tapi hati-ku berbicara bahwa WWF akan menerima-ku
ya, aku yakin hati-ku berkata benar...

April 2008
Aku di panggil, aku tegang...
bulan ini aku benar-benar akan meninggalkan jogja
terbang menuju negeri hamparan sungai - Borneo

Mei 2008
Happy Birthday...
setidaknya targetmu terpenuhi, lulus dan dapat kerja sebelum usia 23
tapi aku streess
aku harus belajar lagi...
di gerbang yang baru....fight Tira.......

Juni 2008
jalani saja pekerjaanmu
kota ini sepanjang hari mati lampu...

Juli 2008
Semangat...tunjukkan kalo kamu bisa..

Agustus 2008
2 months remaining, i will have been back...
for a while...

September 2008
So hectic..
i miss u

Oktober 2008
back to Palangkaraya
kerja lagi...
pengalaman baru yang sangat menyenangkan

November 2008
aku merasa ada sesuatu yang aneh...
tapi aku semakin menikmati pekerjaanku

Desember 2008
saat introspeksi diri dan mencanangkan resolusi baru tahun 2009

Thursday, May 15, 2008

Awal Petualangan di Negeri Liukan Sungai ...

Borneo, bentang alam peraduan hutan dan sungai, kalimat itu terlintas dari pikiran saya saat terpana melihat dari balik jendela pesawat uniknya bumi Kalimantan menjelang landing di Bandara Tjilik Riwut. Barisan pohon dan sungai yang meliuk-liuk bagaikan kumpulan ular raksasa membuat saya tersihir seakan berada di belantara Tarzan. Rasanya tak salah kalau saya sebut bumi Kalimantan sebagai Negeri liukan sungai. Dimana-mana, dikelilingi hutan, rawa, sungai dan spesies khas-nya Orang Utan. Sesampainya, pemandangan hijau menyegarkan yang saya lihat tadi ternyata sangat bertolak belakang dengan kondisi udara di darat. Cuaca kota Palangkaraya sangat panas. Kalau melihat sepanjang jalan, kondisi tanahnya berpasir seperti di pantai di tambah dengan terik sinar matahari, membuat badan kegerahan. Karena tanahnya berlahan gambut, jangan harap bisa melihat sawah di Palangkaraya.

Inilah awal petualangan saya, jauh berbeda dengan Jawa, inilah menariknya Kalimantan, untuk menuju ke suatu tempat, kita harus berpindah transportasi baik darat maupun air. Seperti kisah perjalanan ini di Desa Bereng, Kab. Pulang Pisau, Sungai Rungan, Tangkiling serta SSI Sebangau.

SSI Sebangau & Mie Goreng ala Basecamp WWF

Letaknya kurang lebih 34 km dari kota Palangkaraya. Kami harus melewati jalur air menuju kawasan SSI (Sinatra Sebangau Indah) Taman Nasional Sebangau dalam waktu dua jam. Longboat 200 pk kami melaju cepat meninggalkan Dermaga Kereng, memotong sungai Sebangau dimana disekeliling kami tumbuh Rasau. Tumbuhannya dari jauh mirip seperti daun pandan, hati-hati menyentuhnya karena pinggiran daunnya penuh duri. Sesekali burung Engang lewat diatas kami, sementara tampak dipinggiran sungai Sebangau yang kami lalui tampak hamparan hutan gundul dan sisa-sisa kebakaran hutan beberapa tahun yang lalu. Sepanjang perjalanan terkantuk-kantuk saya melihat arus air yang dilawan oleh boat kami dan kemudian berlalu terbawa aliran lainnya.

Sesampai di SSI, kami bertemu dengan teman-teman basecamp. Disepanjang lokasi tersebut kita akan melihat pembibitan dan blocking  kanal yang di buat oleh WWF. Penabatan ini dilakukan karena lokasi eks perusahaan Sinatra Sebangau Indah ini sangat rawan akan kebakaran di musim kemarau. Selepas melihat dan menikmati pemandangan, kami di jamu dengan mie goreng buatan para pria di basecamp ini. Emmm…meski mie instant biasa, tapi mereka memasaknya dengan kreatif menambahkan lauk lainnya. Rasanya lezat sekali, mungkin karena saya sangat mengagumi pria yang mandiri dalam memasak. He…

Desa Bereng – Pulang Pisau, Langka Air Bersih

Mengisi hari libur, saya pergi ke suatu daerah di kabupaten Pulang Pisau yaitu desa Bereng. Kurang lebih dua jam perjalanan dengan mobil melewati jembatan Kahayan. Tidak ada yang special dari desa ini, justru jalannya masih rusak dan penduduknya hidup sangat sederhana sekali. Ada beberapa saudara  saya yang masih tinggal disana. Saat meletakkan travel bag, saya tergesa melihat sungai disamping rumah kayu kami. Samar-samar teringat keadaan 17 belas tahun lalu saat usia saya 5 tahun sedang asyik berenang di tepian sungai jernih. Waktu kecil, ibu memang pernah mengajak saya liburan kesini, tapi tampaknya saat itu air sungai tidak sekeruh sekarang. Sangat mengkhawatirkan memang mengapa masalah air bersih didesa ini kurang diperhatikan oleh LSM dan pemerintah, entah penduduknya sendiri yang terbiasa mengkonsumsi air sungai. Saya jadi teringat dengan petualangan saya di Gunung Kidul, DIY Jogja, air menjadi satu hal yang jadi masalah bagi masyarakat setempat.

Menjelang malam sebelum matahari terbenam wajah Desa Bereng Pulang Pisau menjadi begitu cantik. Didepan hamparan sungai, matahari sore itu bergaya manis memerahkan awan-awan sekitarnya. Saya terduduk di dermaga depan rumah sambil memperhatikan perahu dayung yang lalu lalang di depan kami. Wah, ini memang saat-saat yang paling berkesan, sepertinya ini adalah obat terbaik untuk mengatasi kepenatan dan kebosanan riuh dan gaduhnya kota.

Wisata Susur Sungai Rungan, Tangkiling

Lokasinya berada kurang lebih KM 34 sebelah baratlaut Palangkaraya . Dengan berkendaraan mobil dapat dicapai sekitar 30-40 menit dari Palangkaraya. Sejak seminggu menetap di negeri liukan sungai ini, saya terkesima melihat potensi wisata yang sayangnya kurang di blow-up dan pelayanannya kurang dimaksimalkan seperti treking, berkemah, mengamati burung dan orang utan, menyusuri sungai, mancing, dan sebagainya. Anda tidak akan temukan ini di Pulau Jawa, karena justru wisata adventure dan outbond inilah yang patut dibanggakan Kalimantan. Kami sampai di dermaga Tangkiling, sungguh tidak terlintas di pikiran saya bahwa disini terdapat kapal pesiar yang luar biasa cantiknya. Kapal wisata berkonstruksi kayu yang dinamai Rahai'i Pangun milik Lorna Dowson Collin, Partner Director Kalimantan Tour Destinations (KTD)  ini mampu dimuati hingga 25 orang. Kapal ini terdiri dari dua lantai dilengkapi lima dobel kabin dan kamar mandi ala Barat, terletak di bawah dek yang besar.

Dari atas kapal, wisatawan dapat menikmati sajian makanan sembari melihat pemandangan hutan dan alam di sepanjang aliran sungai. Sungai  Rungan mengalir sangat tenang. Sore itu disamping kanan dan kiri sungai, orang utan bebas bergelantungan menikmati ekosistemnya. Menurut cerita Pak Anton, awak kapal tersebut kalau kita melakukan perjalanan sungai pada pagi hari, memberi peluang untuk melihat Burung Tingang (hornbill), Elang, Pekakak (kingfisher), dan kera berhidung panjang (bekantan). Kemudian kami melewati Pulau Kaja, tempat dimana orang hutan di sekolahkan. Mereka setiap hari dibawa ketempat ini supaya menjadi liar. Bisa dikata bahwa orang utan ini harus bisa mandiri dan menjadi “truly orang utan” lagi setelah terlalu lama bergaul dengan manusia, he…he...

Pak Anton menunjukkan kami beberapa titik air yang ada arus bawahnya.  Titik itu sangat berbahaya karena dari permukaan memang tampak tenang namun didalamnya arus sangat kuat. Ini sangat berbahaya jika tidak menguasai lapangan. Tidak jauh dari situ tampak  deretan bukit Tangkiling, sangat jarang melihat dataran tinggi disini, bukit ini menjadi sarana wisata yang pas untuk berlibur orang Palangka Raya. Sepintas saya pikir nama Tangkiling sangat unik, identik dengan sesuatu yang bernuansa oriental. Ternyata benar, kata Pak Anton nama Tangkiling ini berasal dari nama orang dari Vietnam-Cina yang datang ke daerah ini. Hari menjelang malam, kapal kami kembali berlabuh. Anak-anak kecil yang tinggal sekitar situ menyambut kami. Kisah perjalanan hari ini menjadi cerita manis dan layak untuk dipublikasikan.

“Hidden Treasure”, Yang tersembunyi di Keruwing

                Seperti juga suatu zat, ia pun melebur dan luruh dengan alam. Menjadi satu kesatuan dalam interaksi. Padu. Manusia dan alam, begitu erat dan begitu kuat. Air dan hutan menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi penduduk lokal dayak. Habitat orang Dayak pedalaman, rumah-rumah disekitar pinggiran sungai, budaya Nabekas, upacara Tiwah, Tari Manasai merupakan refleksi kearifan lokal, menunjukkan betapa manusia bukanlah mahluk berkuasa, bukan mampu menaklukkan alam tapi bekerjasama dengan alam.

Perjalanan yang seolah menjadikan saya great adventuress. Desa ini berada 4 jam dari kota Palangkaraya. Satu jam melalui jalan darat (Palangkaraya-Kasongan), tiga jam lagi di tempuh melalui jalan air (Kasongan-Keruing & Jahanjang). Dari desa Keruwing kami bergerak menuju tempat yang rencananya menjadi salah satu tempat ekowisata yaitu danau Punggualas. Dengan menaiki kelotok kami melewati anak sungai Katingan yang disebut Sungai Punggualas. Disepanjang aliran sungau yang kami selusuri, terdapat banyak tumbuhan rungas, langkai, kayu gemor, kampung gagas, kayu blengeran dan banyak yang tak terserap oleh ingatan saya. Dibeberapa bagian terdapat keramba, alat menangkap ikan warga setempat. Kami meminta awak perahu untuk mematikan mesin, saya mencoba memejamkan mata dan rasakan desir angin yang berbeda, bau sekitar pun benar-benar bau alam. Dibalik rerimbunan itu terdengar suara burung berteriak memecah kesunyian hutan ini.

Satu jam perjalanan kami menelusuri sungai menuju danau itu. Dan saya merasa menjadi salah satu orang yang beruntung untuk melihat “Hidden Treasure” di Desa Keruwing, begitu kira-kira saya menyebut daerah ini. Meski ada isu terdapat emas yang dibawa penjajah belanda jaman dulu, harta benda terpendam yang saya maksud adalah tempat indah ini yang belum dilihat oleh dunia. Tempatnya benar-benar tersembunyi, jarang terjamah kecuali penduduk setempat. Danau ini tidak terlalu luas, kata penduduk setempat dua tahun lalu tempat ini cukup ramai HPH. Pantas saja, dibeberapa bagian sudut tempat ini tampak bekas bangunan dari kayu. Penduduk menerka-nerka bahwa didalam danau ini terdapat sungai bawah tanah, karena meski Sungai Katingan surut, danau ini tidak pernah surut meski di musim kemarau. Mitosnya, ditengah danau ini terdapat buaya yang keluar jika hujan turun ditengah terik matahari sehingga jangan berharap untuk mandi didanau ini.

Hari menjelang malam, matahari mulai ijin kembali kepersembunyiannya. Pepohonan tinggi diatas kami tampak kekuning-kuningan terkena terpaan cahaya. Kemudian tampak kegerombolan kelelawar keluar dari sarangnya melintas beberapa kaki diatas kami. Kami sempat bertemu monyet, yang wajahnya terkaget melihat kami (saya jadi bingung apa nie maksudnya…jangan-jangan dia kaget karena ada yang mirip.ha25x). Selamat malam Borneo, bawalah aku kembali menuju tempat Hidden Treasure-mu yang lain.


(Tira)