Sunday, September 21, 2014
Wanita itu bernama “Anie Marie Mihing”
Mama Anie, begitu aku memanggilnya. Wanita berambut ikal pendek, bertubuh mungil, berkaca mata plus, berkulit kuning langsat. Dia suka menggunakan bando yang disematkan pada rambutnya yang beruban. Setiap sore tiba, dia selalu memegang bolpoint lalu mengisi teka-teki silang. Dia pandai memasak dan menjahit. Dan seperti orang-orang jaman dulu, suka mendengarkan siaran radio Brama Kumbara yang diputar setiap pukul 2 siang.
Wanita itu pernah menggendongku di tengah hujan deras. Terburu-buru melintasi jalan berbecek yang pinggirnya ditumbuhi pohon salak dan rumput liar. Malam begitu gelap, hanya sedikit penerang lampu diujung belokan yang dipenuhi Laron. Tiba-tiba suara halilintar memekik telinga.
Tangan kecilku menggendong erat lehernya, tubuhku bersandar pada dadanya, dan kakiku melingkar pada pinggulnya. Kakinya terantuk batu, tubuhnya sekejab rebah, demikian pula aku. Kami berdua meringkuk dipenuhi lumpur. Aku hanya memekik sambil memejamkan mata. Tangannya terus mendekapku, tubuhnya menggigil kedinginan. kami sudah basah kuyup.
Kini dia berusaha menopang kakinya sambil mengangkat tubuh kecilku. Kali ini dia menutup wajahku dengan tangannya, melindungiku dari titik air hujan yang sudah terlanjur membasahiku. Kakinya mulai melangkah lagi, suaranya mengaduh, berlalu. Deras hujan itu terus menghajar tubuh kami yang dipenuhi lumpur. Tapi aku merasa aman dalam dekapannya.
Monday, April 8, 2013
Teman, masih ingatkah kamu?
Sedih mendengar ceritamu waktu itu…ketika kita berdiri di orchard road, diantara sekian banyak orang berlalu lalang, namun tak ada satupun yang mengenalmu, dan tak ada pula yang kamu kenal. Mereka tidak tau apa yang kita bicarakan, entah mereka tak peduli atau memang tidak memahami bahasa kita. Tiba-tiba langkah kita terhenti. Aku sedih mengetahui kalau sahabatku sedang hancur. Aku tahu ada yang ga beres sebelum kamu mengatakan hal yang menamparmu itu.
Sunday, February 10, 2013
Jika waktu bisa berputar
Aku ingin mengunjungi masa 30 tahun lalu
Waktu dimana aq belum terlahir di dunia ini
Saat dimana papa dan mama bertemu dan kemudian mengikat janji
Jika saja waktu bisa berputar
Aku ingin menjadi saksi masa muda mereka
Memadu kasih, merenda tangis
Berjalan menuju altar gereja "Shinta"
Jika saja ...
Thursday, May 12, 2011
rumah
Maka kini rumah adalah surga
Jika dulu rumah adalah tangis
Maka kini rumah adalah senyum
Jika dulu rumah adalah gelap
Maka kini rumah adalah terang
Jika dulu rumah penuh dengan umpatan dan cacian
Maka kini rumah penuh dengan doa dan pujian
Jika dulu rumah adalah tempat bagi Lucifer
Maka kini rumah adalah tempat bagi Tuhanku
Jika dulu aku pergi tak ingin pulang
Maka kini aku pergi selalu merindukan rumah
Rumah, tempat bagi keluargaku
tempat bagi Mama dan Papa
tempat bagi saudara-saudariku
Dan ku kira aku tak akan pernah menulis kesaksian ini
tetapi ketika ini benar dan terjadi, aku harus menulisnya.
Thursday, September 9, 2010
RAIN
I like rain
I remember my childhood
When I was child, my mother used to tell me about rain
If it was raining outside, we slept on bedroom
And slept tight
I like rain
I remember my childhood
When I was child, I wished into the rain
Pray and dream
It was a cold green day in late December
a mizzling rain with it
i miss christmas day
in my home town
i like rain...
i love my mom
Tuesday, December 22, 2009
my few secret
Of course I have secrets. Of course I do. Everyone has a few secrets. It’s completely normal (by sophie kissela). Siapa yang tidak punya rahasia. Siapapun memilikinya baik rahasia besar maupun rahasia kecil yang menggelitik, ada pula rahasia yang tersimpan rapi selama beberapa tahun, masih teringat dengan jelas, dan beberapa terlupa dengan sendirinya. Rahasia yang terkadang membuat aku terkikik mengingatnya kembali saat beberapa tahun lalu, kala menginjak usia belasan tahun, sebuah kontemplasi kenakalan masa remaja, sisi introvert diri atau mungkin karena pencarian jati diri.
Pernah punya rahasia dengan orang tua?. Pasti punya, tak satupun yang tak memilikinya, even sedekat kedekatanmu yang intim dengan ortu. Terlebih diriku yang dibesarkan dengan hubungan yang tidak terlalu dekat dengan ortu. Bukan karena jarak jauh, kami satu rumah, tetapi berbagai kesibukan ortu dan aku yang membuat kami jarang bertemu. Rahasia ini masih kusimpan dengan baik di memory otak-ku, tetapi asyik ajah kalo bias di publish di blog tercinta, mumpung ortu agak gaptek, gak salah kalo rahasia disebarkan saja didunia maya .
Secrets from my mother:
When I was 14 years old
Rahasia dengan memes (a.k.a mama, sebutan bahasa slang jawa timuran) semasa remaja memang menggelitik. Siapa yang tau bahwa sewaktu aku duduk di bangku SMP kelas 2 di dalam tas-ku kedapatan rokok saat razia mendadak. Saat kami upacara bendera di lapangan basket, tiba2 guru melakukan inspeksi mendadak di kelas-kelas. Begini ceritanya, actually my mother was a smoker, bahkan bisa dibilang perokok berat, everybody knows her bad attitude, termasuk juga beberapa teman sekelas. Wahyu, teman sekelasku suatu hari menantangku untuk mengambil (bahasa yang lebih halus dari mencuri) rokok memes-ku. Dasar Tira, kalo ditantang suka terima. Walhasil, I did it. Baru sekali mencoba bandel kok ya ketauan, apes banget. Pasca upacara, aku dipanggil wali kelas, meminta pertanggungjawaban. Bingung, mo jawab gara-gara tantangan, bisa-bisa temanku kena juga, karena asas setia kawan, maka berdalihlah diriku membuat pernyataan bahwa rokok tersebut milik ibu yang sengaja disembunyikan biar gak merokok lagi (kyakkk emak gw jadi tumbal, I’m sorry mom). Sebulan kemudian, saat pembagian raport, kebetulan memes yang pengen datang, sedikit was-was apa yang terjadi, mama keluar dengan santainya dari dalam kelas membawa raport. Dengan polosnya memes cerita “Tadi wali kelasmu cerita ke semua wali murid, katanya ada seorang siswanya yang ketauan membawa rokok, ternyata itu rokok milik mamanya, lalu bu guru berharap wali murid yang merasa agar bisa menegur anaknya”, sahut memes, “wah mama was-was, tadi mama kira itu mama yang disindir, tapi kayaknya gak mungkin mama deh, tapi waktu tadi ada juga ibu-ibu yang dandanannya menor banget, mungkin aja ibu itu ya nak yang anaknya kedapatan nyolong rokok mamanya”. Tetep dunk, emak gw innocent, gak ngerasa, dan aku hanya meng-iya-kan kala itu, syukurlah tak terjadi apa-apa. Hihihiiiiiiii.
When I was 17 years old
Saat itu musim handphone, teman-teman banyak yang sudah memiliki handphone. Dan merk handphone yang paling terkenal waktu itu ya “Nokia”. Memes membelikan aku handphone “Ericson” tanpa persetujuanku. Bentuknya flip, rasanya gak seru kalo punya hp djadoel kayak gini, tapi apa daya, kalo gak nerima yang ini ya gak dapat HP. Kebetulan juga waktu itu aku les bahasa inggris di sebuah lembaga namanya The British Institute, yah biaya kursus perbulan cukup mahal. Dengan akal licikku (yang dasarnya suka bosenan kursus di satu tempat dan bertahan ga lebih dari tiga bulan), biaya kursus aku tilep untuk ganti HP baru. Sukseslah diriku melakukan tukar tambah, tidak ada satupun yang tau, termasuk memes (karena yg dia tau aku hanya tukar HP, bukan tukar tambah HP..hihihihi). Tapi emang benar yah teori tabor tuai, apa yang kita tabur, ya itu yang kita tuai. Apa yang menjadi niat jahat, pasti kena azab juga. Belum seminggu HP merk Nokia idaman hasil tilepan tersebut raib dicuri maling diangkot sepulang sekolah. Arrrggggggghhh. Yah begitulah pelajaran yang perlu diambil, jangan memakai sesuatu dari hasil korupsi ya anak manis..hehehhe. Yang pasti, sampai saat ini, memes belum tau juga bahwa HP merk nokia itu emang hasil penyalahgunaan duit kursus. Hihihiii.
When I was 19 years old
Dimata memes, aku adalah anak yang baik, anak yang rajin belajar, dan gak macem-macem (wkakakkakakakakak). Yah itulah yang selalu dia banggakan ke teman dan saudaranya. Itu emang bener, cuman pernyataan terakhir (gak macem-macem) itu yang kuakui enggak juga, malah sukanya macem-macem. Sebenarnya aku punya rahasia besar, em atau rahasia kecil deh, hehehhehe. Masa itu adalah saat kuliah di Jogja, jadi anak kost-kostan yang mulai bebas dan merdeka. Ya bukan berarti aku di kekang saat masih di rumah, cuman sejak kuliah aku jadi lebih suka begadang ajah, dan merasa enak gitu pergi tanpa harus ijin siapapun. Aku ini tipe cewek yang suka penasaran, bisa dibilang suka coba-coba. Dibilang nakal ya antara iya dan tidak. Karena kalo nakalnya coba-coba, kenapa enggak. Habisnya aku suka hidup yang berwarna, gak putih ajah atau hitam ajah. Hidup yang punya banyak cerita. Itu yang selalu aku ciptakan. So, sejak masa euphoria itulah aku suka banget minum alcohol, dugem dan merokok. Gak tiap hari kok, kalo ada kesempatan ajah . Emak gw mana tau. Sssssttt itu kan rahasia.
Secrets from my Father:
When I was 15 years old
Saat menjelang lulus SMP, aku mulai memberanikan diri belajar naik sepeda motor. Sebenarnya aku gak jago naik sepeda motor sampai akhirnya mulai jago dimasa kuliah. Ceritanya begini, waktu itu semua orang dirumah (sepupu, papa dan kakak) pergi keluar kota untuk menghadiri pesta pernikahan. Aku tinggal dirumah dengan bebasnya, meski belum fasih ber-sepeda motor ria, aku jadi penasaran untuk mengendarainya di jalan raya. Melihat kunci motor bergelantung di depan mata, maka dengan “bonek” alias bondo nekat meluncur pergi jalan-jalan. Jiahhhh, apesnya saat dijalan pulang ke rumah, dengan kecepatan 70 aku kaget melihat lubang kecil didepan, walhasil tubuhku terhempas kesamping. Kondisi jalan raya macet mendadak, orang2 sekitar membopongku, kondisi motor hanya sedikit lecet, sedangkan tubuhku penuh bengkak dan luka lecet dimana-mana. Sejak peristiwa itu, tak ada satupun yang kuceritakan dirumah, soalnya ebes itu galak banget, kalo aku ceritaan semuanya bakal babak belur dua kali dan gak dapat garansi belajar naik sepeda motor lagi deh. Maka saat mereka pulang setting-nya adalah seolah tidak terjadi apa-apa, seluruh luka di tubuh dengan cerdiknya aku tutup rapi. Dan rahasia itu aman tersimpan manis sampai saat ini.
When I was 16 years old
Aku gak bisa menyimpan rahasia kala predikat “putri telat” kusandang saat duduk di bangku SMU. Tak bisa berkutik pula saat ebes (a.k.a papa, sebutan bahasa gaul jawa timuran) dipanggil oleh guru tatib karena rekor buku tatibku yang merah merona menyulitkan diriku sebagai siswa. Tapi, tetap ada rahasia yang tidak terbongkar dunk, bahwa selama ini ebes gak tau kalo selama SMU, aku udah pacaran 2 kali. Hohohohoo. Ebesku itu tipe orang yang suka penasaran sama anak gadisnya, buktinya setiap ada telepon berdering dari cowo, maka dengan lagak detektifnya selalu menguping dari jalur parallel telepon dalam kamar. Huih, curang, mo tau ajah. Tetapi dasar aku, paling ga suka urusannya dicampuri, tetap aja ebes ga bisa membedakan mana cowo yang sekedar teman dan mana yang pacar, kan kami punya kode kalo kerasa ada yang nguping. Jadi selama ini yang dipikiran ebes adalah aku mulai punya pacar setelah duduk dibangku kuliah. (hwaaaaa, anda salahhhhhh).
Ok, the truth is I keep my secrets until now. Nobody knows. Its me.
Monday, October 19, 2009
teka teki silang
sangat suka mengisi teka teki silang. Aku yang
sedang bermain di lantai, melihat ke
arah nya dan bertanya, apa yang ia lakukan.
Ia menerangkan bahwa ia sedang mengisi teka teki silang
Aku sangat heran, mengapa kotak-kotak kosong itu perlu diisi.
Mama Ani dengan tersenyum memandangiku dan
berkata dengan lembut, “Sayangku,
saat engkau dewasa, kamu akan tau,
Nanti kalau mama sudah mengisi semuanya
engkau akan kupanggil dan
kududukkan di atas pangkuan mama dan kamu
dapat melihat isi dari teka-teki ini semuanya”.
Dalam kertas tersebut banyak sekali kotak kotak kosong
Ada yang vertical dan sebagian horizontal.
Kemudian, dia mengisi kotak-kotak kosong tersebut.
Dengan mengisi beberapa kata, kotak-kotak tersebut akhirnya terisi penuh.
Kata tersebut terkait baik memanjang kesamping, keatas atau diagonal.
Bahkan hurufnya saling terkait satu sama lain membentuk dua sampai tiga kata.
Kemudian mama ani berkata, “Sayangku, hidup itu seperti teka teki silang,
Sekarang kamu ibarat kotak kotak kosong itu
Putih dan polos
Perlahan-lahan, seiring dengan waktu,
goresan-goresan kata dari pena kehidupanmu
Akan terjadi dengan sendirinya”.
Seiring selama belasan tahun berlalu,
Kini aku mempelajari satu hal:
Bahwa kotak-kotak kosong dalam diriku sedang diisi oleh Tuhan.
Dalam setiap kata “adegan masa” yang begitu terkait satu sama lain
terkadang menurun, terkadang naik, terkadang datar-datar saja
Penuh teka-teki awalnya, tetapi pada akhirnya aku memahami
Bahwa proses tersebut harus kujalani.
Karena goresan pena-Nya, menghasilkan kata-kata yang tepat
Dalam petunjuk rencana yang Dia buat.
Sangat luar biasa.
Sunday, August 31, 2008
IBU
Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.
:+: Khalil Gibran :+:
Syair manis yang benar-benar menegaskan betapa engkau ibu sungguh sosok yang paling kukagumi dalam hidupku. Engkau adalah sumber inspirasi dan motivasi di sepanjang hidupku. Kegagalanmu dan kesalahanmu sebagai manusia tidak menepiskan aku dari rasa banggaku padamu. Biarlah mereka berkata-kata dan menghakimimu sebab mereka tidak mengenalmu. Aku mengenalmu dan mendengar jeritan hatimu. Aku begitu dekat, sejak dalam janinmu, aku tau persis siapa dirimu. Sosok yang luar biasa yang tidak pernah kutemui pada sisi perempuan manapun didunia ini. Tegarmu lah yang menginspirasiku dan membawaku untuk berusaha maju menggapai cita-citaku.
Special to: Kumala Djuwita Mihing
Tuesday, March 27, 2007
si kecil tira
pagi itu....
si kecil tira sedang asyik menatap sang mama yang tengah asyik berdandan
mataku memperhatikan setiap gerak-geriknya dalam pantulan cermin itu
blazer merah marun dipadukan rok span mini, membuatku terkagum-kagum
wah betapa cantiknya mama...
selalu kala pagi..aku terus memperhatikan wanita itu
em....
waktu itu aku berseragam merah putih....
menjelang malam, aku selalu menantinya .
dia tidak kunjung datang ..
hingga semakin larut aku terus menunggunya
menunggu suara ketukan langkah high heels-nya
dan aku berharap ia membawa sekotak ice cream atau chiki sebagai oleh-oleh
aku ngantuk...
mataku dah lelah
tapi aku ingin terus menunggu
mungkin mama akan membawa banyak ice cream
atau setidaknya kue kecil, atau makanan apapun yang enak
aku yakin malam ini mama akan lebih cepat kembali
aku lelah dan mengantuk,
sepertinya aku asyik tertidur pulas
tapi pikiranku terus bekerja
coba bayangkan si kecil Tira sedang berpikir keras (hi.hi)
"akan jadi apakah aku besar kelak?", bisakah aku seperti mama ..yang bekerja diluar.. menjadi wanita karier "wah sepertinya keren...he.he.."
"Aku ingin seperti dia"
itulah yang terus terekam hingga seragamku abu-abu putih
.............
life is so cruelada banyak peluru yang harus kamu siapkan Tir,
maka mulai sekarang kamu harus menabung
hingga saat berperang
KAMU BISA MENANG!!!!
saat ini...
aku menginjak suatu masa yg menuntutku dewasa
aku kuliah
aku bekerja
saat aku pernah melihat tetesan matanya
saat aku melihat tegarnya dia
saat aku pelajari kepolosannya
saat aku tau dia hanya wanita biasa
dia hanya wanita lemah
semua kekaguman itu musnah
bergantikan...
bukan lagi blazer, high heels dan rok spannya itu lagi ...
bukan image perkasa-nya dalam berkarier
bukan kegigihannya membesarkan anak2nya
bukan itu lagi
tapi dia yang kukukagumi sekedar
keTEGARannya disaat JATUHnya
Monday, December 4, 2006
ketika aku belajar mengampuni
”Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu, Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihatMu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku kedalam kemuliaan” (Mazmur 73:21-24)
***
Luka Bathin Seperti Virus, ia kembali datang menyerang saat kekebalan iman kita lengah. Maka Buang Jauh Virus itu!!!
MENGAMPUNI…..MENGAMPUNI….DAN TERUS MENGAMPUNI…..saat merasakan sakit itu lagi..engkau harus AMPUNI DIA…..lagi…lagi dan lagi kekecewaan itu muncul…lagi dan sekali lagi engkau harus ampuni.. Lakukan terus hingga engkau tidak merasakan luka lagi, hingga ingatan pahit itu berubah menjadi damai sejahtera.
Terlahir dari keluarga yang kurang menyenangkan (bisa dikatakan begitu) dan dibesarkan dalam tekanan–tekanan yang menyiksa bathin sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahun memang memakan waktu yang panjang hingga genaplah belasan tahun sampai usia-ku yang ke 21 tahun. Hidup yang dibayang-bayangi oleh percekcokan kedua orang tua, hidup yang dibayangi oleh kekerasan papa semasa kecilku, hidup yang dihantui oleh ingatan bagaimana papa menyiksa mama baik fisik maupun psikologis, dibayangi kenyataan bahwa mereka dulu menikah karena ”kecelakaan” dan hidupku yang dipenuhi oleh teriakan hati betapa kurang kasih sayang mereka terhadapku. Dan hidupku terasa sia-sia saat kusadari betapa selama ini aku terikat oleh dendam, kemarahan, kekecewaan, ketakutan dan kepahitan.
before i said: Yes, i do!
2006
20.12
Aku menatap langit, memfokuskan pandanganku pada rembulan. Semakin serius aku memperhatikan sisi tampak bulan itu. Kalian tau Halo bukan?aku merindukan malam ini bulan diselimuti kabut putih yang mengelilinginya. Mataku sedikit kupicingkan, dan pikiranku berusaha memadukan serpihan bintang-bintang tersebut menjadi sebuah bentuk. Sesaat aku menghela nafas, lelah rasanya memasang puzzle-puzzle itu. Kemarin posisi mereka tidak seperti hari ini, bentuk bulannya pun tidak sebulat sekarang. Sekarang aku tahu, mereka bebas…..mereka benda-benda luar angkasa yang bebas berlari dalam lintasan galaksi, muncul disaat-saat tertentu dan dikagumi banyak orang.
22.20
Aku menguap, sejenak mataku berair, tapi aku tetap terduduk disini. Angin malam mengoyak setiap sela kulitku, menebarkan setiap helai rambutku, dan setiap nafas terhembus dalam kepulan berwarna putih. Wow, malam yang dingin di kota Yogyakarta. Terdengar suara rintihan jangkrik dibalik rerumputan taman depan rumahku, mereka bebas…bebas berteriak dihening malam. Aku melihat langit itu dari sela-sela jendela kamar. Kemudian berpaling dan berkonsentrasi kembali di depan komputer sambil mengalun-alun lagu klasik Hellowen “NeverLand”.