Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Sunday, October 14, 2012

Gerimis


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Feby Indirani
Judul : Gerimis
Pengarang : Feby Indirani
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 139 halaman

Jalan ceritanya sangat sederhana, tapi benar-benar real seperti kehidupan kita sehari-hari. perasaan dan gejolak yang dialami si cewek benar-benar hampir persis seperti yang aku alami. Kemiripan cerita inilah yang buat aku membaca buku ini hanya dalam waktu 2 hari.

Fifty Shades of Grey


Rating:
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:EL James
Novel yang kontroversial, dengan cerita-cerita erotis yang pasti membuat kamu merasa ikut masuk dalam imaginasinya. Gila! Sinting! Ada juga yang mengatakan bahwa buku itu berbahaya karena mengisahkan seorang gadis naif serta pria kaya penganiaya yang gemar memukulinya. Ditambah lagi, gadis itu banyak menerima perlakuan buruk secara seksual dari sang pria.

Belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia, dan aku ga yakin apakah buku ini diperbolehkan untuk dipasarkan di Indonesia :). Aku beli buku ini ketika di Colorado. Kontroversial membuat aku penasaran apa isi dari buku ini, dan cukup membuat aku terkesan dengan EL James.

Friday, September 24, 2010

Panggil Aku Kartini Saja

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Pramodya Ananta Toer
Pada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, ia sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”

Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Titik. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.

Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Hanya segelintir yang tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”. Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disempitkan dan disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

****

Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14) Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang dikemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.

Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu."

Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis.” Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.

Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”? Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.

Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106). Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu dikemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.

Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa balajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya. Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini? Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.

Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.

Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “...dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.

Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.

***

Panggil Aku Kartini Saja bukanlah karya tanpa nila. Dalam beberapa bagian, Pramoedya tampak agak berlebihan dalam melakukan interpretasi. Hanya karena pernah membaca karya penting kaum feminis macam Berthold Maryan-nya Huygens dan Hilda van Suylenberg, Pram berani mendedahkan interpretasi betapa “...Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru.” (hal. 169) Ketika Kartini mengaku telah membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sedjarah TanahAir Belanda), Pram juga dengan berani memberi interpretasi bahwa buku itulah “...yang meresapkan pengertian dalam kalbu Kartini, bahwa kekuatan sesuatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar kecilnya jumlah penduduk, ...pastilah Kartini mengagumi perjuangan patriotik Willem van Oranje, ...dan juga mengagumi perlawanan kesatuan rakyat jelata yang dinamai Watergauzen.” (hal. 145) Interpretasi itu mungkin agak berlebihan, mengingat dalam suratnya, Kartini hanya menyebut betapa menyenangkannya membaca buku itu. Lain tidak.

Dalam historiografi, interpretasi tentu saja bukan barang haram. Bahkan, tak akan ada historiografi tanpa interpretasi. Tetapi, interpretasi hanya dimungkinkan selama sumber-sumber sejarah (baik primer atau sekunder) itu tersedia secara memadai. Di sinilah barangkali pangkal soal terletak. Seperti diakui Pram di pengantarnya, bahan-bahan untuk penelitian ini memang amat terbatas.

Karya ini memang tidak memenuhi target seperti yang dipancangkan penulisnya sendiri yang bermaksud menghadirkan Kartini “bukan sebagai dewa-dewa”. Barangkali, penerbitan dua jilid terakhir naskah Panggil Aku Kartini Saja bisa memenuhi hasrat itu. Sayangnya, kuku bengis nan bar-bar Orde Baru telah menghancurkan dua jilid terakhir buku ini, sehingga cuma dua jilid awal ini saja yang bisa kita nikmati.

Lewat buku ini, Pram ingin mengingatkan betapa kita pernah memiliki Kartini: perempuan yang dikepung berlapis-lapis kerterbatasan dan hambatan, tetapi justru memiliki cita-cita dan potensi yang jauh lebih besar dari yang pernah kita kira sebelumnya.

ZEN RACHMAT SUGITO,
Bekerja di Riset Independen Arsip kenegaraan (RIAK) Jakarta

http://www.ruangbaca.com/resensi/?action=b3Blbg==&linkto=NzY=.&when=MjAwNTEwMjI=

Wednesday, July 14, 2010

Maryamah Karpov

Rating:
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Andrea Hirata

Maryamah Karpov adalah novel keempat karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada November 2008. Maryamah Karpov merupakan buku terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi dan terdiri dari 2 buku , bagian pertamanya dengan sub judul : Mimpi-Mimpi Lintang. Di buku ini rencananya Andrea akan mengisahkan tentang Arai, Lintang, A Ling, dan beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab di 3 buku terdahulu.

Maryamah Karpov dirilis pada tanggal 28 November 2008 di toko buku MP Book Point, Jakarta, dan beredar secara resmi mulai tanggal 29 November 2008.Launching buku ini mendapatkan expose yang cukup besar dari media massa dan mendapat perhatian banyak dari khalayak pecinta buku terutama oleh penggemar tetralogi Laskar Pelangi. Bahkan ada beberapa pihak yang menganggap antusiasme terhadap perilisan buku Andrea Hirata ini sebagai JK Rowling-nya Indonesia.

Petikan dari buku Maryamah Karpov :

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Dengan sepenuh hati, Ikal rela berlayar mengunjungi pulau "Batuan" atau lebih dikenal sebagai pulau tempat para lanun berkumpul dan bersembunyi dari polisi. Ikal bersusah payah ke pulau itu hanya untuk bertemu A Ling, ia tidak peduli akan nyawanya. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir-sihir yang berupa kata-kata dalam bentuk tulisan, Anda akan dibawa Andrea pada kisah-kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sunday, March 28, 2010

Edensor

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Anrea Hirata
…” Pekerjaan itu tidak memberiku kelimpahan, tapi member keamanan financial dan kehidupan yang itu-itu saja, demikian gampang diramalkan kesudahannya. Aku terjamin secara sederhana, terlindung oleh system, stabil secara psikologis, mapan secara social, dan semua itu membuatku bosan. Aku merasa seperti tupai yang sibuk menggendong pinangnya, kura-kura yang mengerut ke dalam tamengnya, atau siput yang sembunyi di balik cangkangnya.

Aku inginmendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar kea rah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup! “

Dari tetralogi lascar pelangi Andrea Hirata, mungkin buku ketiga ini yang luar biasa menggetarkan, membuat saya terkesima, heran, tapi saya tau itu pasti nyata. Sebuah novel yang memesona tentang pencarian diri dan cinta serta mimpi yang menjadi nyata.

Cinta Ikal terhadap A Ling serta dorongan guru SMA-nya Pak Balia membawa dia berkeliling eropa hingga afrika. Rasa rindunya atas surat A-Ling tentang desa Edensor membawanya ke kota kecil tertinggal di Inggris. Dari kesederhanaannya, Katya seorang gadis Jerman idola semua pria terkagum-kagum padanya. Serta Kegigihan para backpacker yang menelusuri dan menjelajahi setiap Negara dengan berbagai bahasa dan karakter orang.
Novel ini luar biasa. Bahkan pengarangnyapun sangat luar biasa, penuh inspirasi, membuka mata setiap orang bahwa mimpi dan khayalan bisa nyata terjadi. Saya sangat tidak sabar bagaimana jika novel ketiga ini di tampilkan dalam layar kaca. Wow, tantangan bagi Miles Production!.

Monday, December 21, 2009

Sang Pemimpi

Rating:
Category:Books
Genre: Other
Author:Andrea Hirata
Ini adalah buku kedua dari tetraloginya Andrea Hirata. Ending yang sangat mengesankan. Alurnya bagus, menarik. Tema cerita yang sederhana tapi terbungkus kalimat-kalimat yang wow penuh makna. Tapi sayangnya ini kurang ada sinergi dengan buku pertama, yang namanya tetralogi kan ada 4 buku, harusnya seh ada kesinambungan yang bagus. Memang, Laskar Pelangi masih sedikit disebut-sebut, tapi belum mewakili kesinambungan yang bagus. Berhubung sudah terbuai sosok Arai, Ikal dan Jimbron. So finally ga masalh lah. PAsti novelnya sangat berkesan dan begitu menggugah.

“3 Seorang pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Maen. Disinilah perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi, Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatus ejak SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah danIbu Ikal. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.

Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sednagkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa aja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arrai selalu menjadi 5 3 besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arrai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan study ke SArbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalu meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabundemi mewujudkan impiannya. Ya, meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk samapi kesana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.

Setelah selesai SMA, Ari dan Ikal merantai ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jombron lebih emmilih untuk menjadi pekerja di ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal spai di Perancis, maka jiwa Jimbronpun akan selalu ebrsama mereka. Berbula-bulan terkatung0katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal ketrima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke kAlimantanTahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. DAn setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.

Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujia begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun ahanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang amsih bekerja sebagai Tukang Sortir, tulsiannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selai, siap yang menyangka. KEjutan yang luar biasa. Warai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalams uatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudha direncanaknnya bertahun-thaun. TErnyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal Risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.

Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke BElitong. Dan ketika ada surat datang, merka berdebar-debar membuka isinya. PEngumuman peberima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin emmbuka kabar tu bersama orang yang sanagt dia rikan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal ketrima di Perhuruan tinggi, Sarbone PErnacis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, Subhannallah, inilah jawaban dari mimpi2 mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Penerbit : Klub Sastra bentang

Penulis : Andrea Hirata

http://blog.its.ac.id/ruktin/tulismenulis/sang-pemimpi

Sunday, October 11, 2009

Twilight

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Stephenie Meyer
Romantisme Kisah Cinta Manusia dan Vampire

Menjadi Kekasih Vampire? Wow..mengerikan sekaligus terasa spektakuler show. Entah kenapa, setiap kali aku membaca buku atau nonton film yang berkaitan dengan Vampire ini versi barat, pikiranku langsung melayang pada hantu-hantu versi Indonesia yang terasa gak sekeren si Vampire ini. Si Manis Jembatan Ancol?! Aduhhh…lewat..kayaknya…

Dalam banyak versi, Vampire selalu digambarkan sebagai sosok setengah manusia setengah hantu yang berpenampilan sopan dan punya paras yang ganteng sekali dan cantik sekali..(tapi giginya bertaring!..hyiii..). Sehingga begitu menggoda ‘mangsa’-nya yaitu manusia. As you may know, manusia selalu tertarik dengan yang namanya penampilan fisik yang ganteng dan cantik..Well, kalo sosok Vampire-nya semacam Brad Pitt (di Film Interview With The Vampire) siapa yang sanggup nolakk….Apakah di sini ada legenda hantu yang sedikit keren?! Sapa tau Nicolas Saputra atau Andika Pratama bisa kebagian peran..hwehehehhe….

Okreh, kembali ke laptop Novel Twilight-nya Stepheni Meyer. Novel ini sebenernya menurut aku terlalu mengedepankan perasaan, ya..secara ditulis dari sisi tokoh utamanya Isabella Swan yang diceritakan gadis muda umur 18-an dan belum pernah merasakan pacaran, nah loh!. Jadi ceritanya sangat melankolis dan mendayu-dayu. Bella pindah dari kota yang penuh cahaya matahari Phoenix ke kota muram yang sering hujan dan masih dikelilingi hutan lebat; Forks. Kepindahan Bella ini karena ingin mamanya Renee yang menikah lagi tidak terganggu pernikahannya dengan Phil, suami kedua-nya. Bella memilih tinggal bersama Charlie, Ayah biologisnya di Forks.

Semula tinggal di Forks seperti memenjarakan diri dengan sengaja, tapi semua berubah ketika Bella bertemu dengan serombongan keluarga dr.Cullen di Sekolah SMU barunya di Forks. Dan salah satu dari kelurga itu yaitu Edward Cullen yang digambarkan memiliki ketampanan yang jahat,dingin namun misterius dan sempurna. Keluarga dr.Cullen yang semuanya Vampire, adalah Vampire yang tidak memangsa manusia..(ada-ada ajah ya!) tapi cuma binatang, sehingga mereka gemar berburu di hutan.

Singkat cerita Bella akhirnya pacaran dengan Edward dan Bella sedikit demi sedikit mengungkap jati diri Edward dan keluarganya. Kebanyakan penduduk Forks tidak ada yang tahu bahwa keluarga dr.Cullen adalah Vampire! Hebat kan?

Rasa penasaran Bella yang menggebu-gebu khas anak muda, membawanya dalam hubungan yang lebih rumit dan dalam dengan Edward. Dan katika ada Vampire dari Koloni lain yang pemburu manusia datang, masalah kemudian timbul. Keluarga Cullen yang sangat membela Bella menjadi sesuatu permainan yang sangat menarik bagi Koloni tersebut. Akhirnya Bella menjadi target buruan bagi koloni tersebut dan Keluarga Cullen tentu saja membelanya mati-matian (eh, Vampire kan udah mati ya..?!).

Lantas bagaimana kisah selanjutnya..jreng-jreng…silakan baca sendiri di Novel Twilight..hehehhe…

Gak seru dong, kalo tak ceritan semua, ntar kejutan-kejutannya jadi gak asik lagi pas baca, karena udah di kasih tahu..ya gak siii…

Baedeweh, meskipun mendayu-dayu, ini novel enak banget dibacanya, Bestseller gitu loh..two tumb up buat Tante Stepheni, jadi kepengan baca kisah lanjutannya, di New Moon-Dua Cinta neehh…

http://eviwidi.wordpress.com/2008/07/04/resensi-novel-twilight-%E2%80%93-stepheni-meyer/

Thursday, January 8, 2009

Shit Happens

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Teens
Author:Christian Simamora & Windy Ariestanty
Seorang teman menawarkan saya untuk membaca novel ini, katanya saat dia membacanya tiba-tiba dia teringat akan saya. ehhh, saya jadi penasaran...
Ternyata novel yang judulnya Shit Happens ( ”gue yang ogah kawin, kenapa elo yang rese?!”) cukup mengelitik dan agak menyentil saya...

Pembahasan yang ternyata mulai aku hadapi pasca menjadi sarjana ilmu sosial tentang pertanyaan “kapan kawin?”, novel ini kecut, sangat metropilis, pembicaraan keseharian, blak-blakan tapi lucu banget & benar2 seperti diangkat dari pengalaman nyata para pengarangnya

Salut deh buat pengarangnya, Christian Simamora & Windy Ariestanty. Mungkin ada sebagian orang yang tidak tertarik dengan bacaan ini, karena cukup kontroversial dengan sistem kita pada umumnya. Namun, justru christian & windy ingin menalarkan sesuatu yang real...yang sebenarnya memang ada dalam segala dilematis kehidupan sebagian orang di belahan bumi ini.

Di sampul belakang ”…not a story about a perfect life, they just try HARD to make it perfect”, lebih cocok buat menggambarkan 2 pengarang ini, yang berusaha memandang status “nikah atau belum/tidak nikah” sebagai sesuatu yang harus dihadapi dengan santai & bukan dengan stress karena dikejar2 sama keluarga ataupun lingkungan. hwaka..ka..ka.......this is real, trust me...!!

Gerhana kembar

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Gay & Lesbian
Author:Clara NG
Gerhana Kembar memiliki warna tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Di saat kisah lain mengisahkan tentang cinta diantara sepasang adam dan hawa, kini saatnya cinta diantara dua orang perempuan dikisahkan lewat kata. Sebelum keluar menjadi novel, cerita Gerhana Kembar pernah dipublikasikan di harian Kompas sebagai cerita bersambung pada Oktober 2007 hingga Januari 2008. Adalah Clara Ng, sang penulis yang menghadirkannya untuk kita.

Novel ini mengisahkan kehidupan tiga wanita yang hidup di tiga zaman berbeda. Ketiga wanita itu adalah seorang nenek, ibu, dan anak. Kehidupan dan hubungan antara ketiganya berubah drastis sejak penemuan sebuah naskah kuno. Diana, sang nenek yang tengah berjuang melawan penyakitnya di rumah sakit; Eliza, sang ibu, seorang workaholic yang terus terpaku pada masa lalunya; dan Lendy, sang anak yang tengah mencari cinta dan jati diri.
Naskah kuno itu ditemukan Lendy tanpa sengaja. Seperti sihir, kisah dua orang perempuan bernama Fola dan Henrietta yang dikisahkan dengan penuh perasaan membuatnya terbuai. Sampai akhirnya Lendy sadar kisah itu bukanlah sebuah kisah semata, melainkan sebuah kisah nyata. Menyelami masa lalu kehidupannya dan dua orang terdekatnya kemudian membuka mata Lendy bahwa cinta itu luas dan tak terbatas.
Gerhana Kembar tidak hanya berfokus pada kisah seorang lesbian. Ia mengangkat arti cinta dan kebahagiaan yang dituturkan dengan indah. Kita pun akan menemukan cinta antara ibu dan anak, nenek dan cucu, dan begitu pula sebaliknya. Novel ini menegaskan bahwa lesbianisme bukanlah suatu akibat dari perkembangan zaman, melainkan sebuah cinta yang terus ada dari masa ke masa. Dengan setting tahun 60-an, kita akan melihat bagaimana alam memisahkan cinta antara dua manusia. Namun pada akhirnya, manusia itu sendiri lah yang harus memutuskan caranya untuk bahagia.

http://id.shvoong.com/books/novel/1848223-gerhana-kembar/

Monday, December 8, 2008

Who Move My Cheese

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Dr. Spencer Jhonson
Who Moved My Cheese, berarti Siapa yang memindahkan Keju saya. Buku ini sebenarnya bukan buku baru. Tapi isinya masih relevan untuk kita baca sampai hari ini. Jika temen-temen sedang bingung menentukan pilihan, misalnya jodoh, jurusan kuliah, atau pekerjaan mungkin buku ini bisa menjadi salah satu referensi untuk menentukan pilihan.

Who Move My Cheese adalah sebuah buku sederhana yang mudah dibaca dan dicerna, Karena tulisannya besar-besar dan lebih mirip buku cerita anak anak. Buku ini bercerita tentang 4 tokoh yaitu 2 ekor tikus bernama Sniff dan Scurry dan 2 orang kurcaci bernama Hem dan Haw. Sniff dan Scurry mewakili karakter yang penuh keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru, sedangkan Hem dan Haw mewakili karakter yang terbiasa dengan zona kenyamanan.

Pada awalnya keempat tokoh ini hidup bersama dalam sebuah tempat yang sama dalam sebuah labirin, yang berisi dengan Cheese yang cukup banyak. Hem dan Haw merasa sangat nyaman, ketika tinggal dalam Labirin ini, akan tetapi Sniff dan Scurry merasa tidak nyaman dan terus menerus mencari labirin baru, yang berisi Cheese yang lebih enak dan lebih baik. Meskipun sering mengalami kesalahan atau tersesat dalam labirin-labirin yang lebih gelap. Akhirnya Sniff dan Scurry berhasil menemukan tempat yang baru yang lebih baik. Lalu bagaimanakah nasib Hem dan Haw, Ada baiknya segera membeli bukunya.

BUku ini memang sederhana, namun siapa mengira setelah membaca buku ini Andy F.Noya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Pimpinan Redaksi Metro TV..

http://menwaums.web.id