Hari-hari ini angin giat mengikuti musim berjalan. Rimbun dedaunan meranggaskan tubuhnya perlahan menuju tanah. Angin menggerakan serpihan daun kuning yang lunglai itu ke ujung jalan. Tak ada hujan. Juga dingin, ya dingin yang menggigil. Aku sangat menikmatinya. Suasana yang pas untuk menanti kapan hujan kan datang. Disini, di kota yang berada dalam mangkok pegunungan. Namanya Bandung.
Kotanya romantis? Tidak. Tidak seromantis Jogja. Bandung sangat dinamis dan optimis.
Malam ini aku masih bersandar di kursi meja kerja. Dari lantai dua gedung yang terletak di Jln. Sukawangi, Bandung Utara. Deru angin menyelinap masuk jendela menjatuhkan bingkai foto ruangan kami. Tapi aku tak peduli, aku sedang egois menikmati setiap hembusan angin yang menggelitik leherku. Membiarkan helai rambutku berjejalan ditiup olehnya. Sambil menikmati segelas teh hangat. Ditemani alunan saxophone smooth jazz-nya Dave Koz.
Meja kerjaku di pojok, di antara banyaknya bilik-bilik kubikal. Semua staff sudah pulang. Hanya tinggal kak Rumi, seorang staff kantor yang bergulat dengan laptopnya (atau lebih tepat pekerjaannya). Sementara aku? Aku sedang mencari inspirasi untuk membuat presentasiku minggu depan. Sedang memikirkan bagaimana membuat presentasi yang fantastis dan memukau *lebay. Tapi nampaknya inspirasi itu tak kunjung datang. Aku malah terjebak dalam blog ini. Dia memaksaku untuk menulis, katanya, “kamu harus bercerita hari ini!”. Hah, ini pemaksaan namanya. Bodohnya, aku patuh saja.
Showing posts with label dikantor. Show all posts
Showing posts with label dikantor. Show all posts
Tuesday, September 23, 2014
Sunday, March 10, 2013
diam sejenak
Sebuah refleksi.
Satu tahun terakhir saya "pecicilan", istilah slang yang berarti tidak dapat duduk diam. Bukan dalam istilah yang konotatif. Ini karena frekuensi bergerak saya dari satu kota ke kota lain, satu pulau ke pulau lain hingga satu negara ke negara lain paling tinggi dalam satu tahun terakhir ini. Bahkan intensitas traveling paling banyak selama 27 tahun kehidupan saya. Saya melihat hal baru, mendengar bahasa-bahasa baru, mencicipi masakan baru, merasakan indahnya perbedaan itu, semakin menghargai kaki, lidah dan mata ini yang menjadi saksi perjalananku.
Monday, January 28, 2013
Infus
Kayaknya hari ini lucu sekali,
Baru saja tadi siang aku terkapar di Instalasi Gawat Darurat RS. Advent Bandung
Pertama kalinya dalam hidupku ditusuk jarum infus
Cukup satu botol, 3 jam saja di rumah sakit.
Dan tentu dengan kemampuanku merayu dokter untuk tidak rawat inap.
Dua puluh tujuh tahun hidupku tak pernah di infus! Tak pernah masuk IGD.
Baru saja tadi siang aku terkapar di Instalasi Gawat Darurat RS. Advent Bandung
Pertama kalinya dalam hidupku ditusuk jarum infus
Cukup satu botol, 3 jam saja di rumah sakit.
Dan tentu dengan kemampuanku merayu dokter untuk tidak rawat inap.
Dua puluh tujuh tahun hidupku tak pernah di infus! Tak pernah masuk IGD.
Monday, December 31, 2012
21 Memorable Things In 2012
No. 1 Bersepeda di Kampung Inggris, Kediri - Januari
No. 2 Dapat telepon: You have been accepted! Welcome to Compassion! - Januari
No. 3 Perjalanan terakhir di Borneo menelusuri hulu Kahayan dan hilir Katingan - Februari
No. 4 Perpisahan yang mengharukan dengan teman-teman WWF, they are absolutely my family! - Februari
No. 5 My Last Event with Nugie in Palma bareng teman-teman WWF - Februari
No. 2 Dapat telepon: You have been accepted! Welcome to Compassion! - Januari
No. 3 Perjalanan terakhir di Borneo menelusuri hulu Kahayan dan hilir Katingan - Februari
No. 4 Perpisahan yang mengharukan dengan teman-teman WWF, they are absolutely my family! - Februari
No. 5 My Last Event with Nugie in Palma bareng teman-teman WWF - Februari
Sunday, January 22, 2012
perpisahan
Bulan Januari penuh kejutan. Kejutan yang merupakan sebuah perubahan. Sebuah kehidupan yang baru. Tapi ga semua kejutan ini berupa tangis bahagia, tapi sekaligus tangis sedih. Mungkin Gede Prama benar bahwa Kesedihan dan kesenangan itu berasal dari sumber mata air yang sama. Demikian pula saat kau merasakan kesenangan itu di ruang tamu, kesedihan itu sedah menunggu di pembaringan.
Kejutan pertama yaitu aku diterima di sebuah NGO di Bandung. Ya, Bahagia sekali karena akan mendapat tantangan baru, tempat kerja baru, teman-teman baru, dan tentu masa depan yang lebih baik. Bercampur sedih tentunya, karena harus meninggalkan kota Palangka Raya. Meninggalkan tempat kerja dimana aku belajar banyak, tempat kerja dimana teman-teman kantor seperti keluarga bagiku, dan juga petualang-petualangan yang menggetarkan di tanah Borneo. Sedih juga bakal meninggalkan radio tercinta, meninggalkan sahabat pendengar yang selalu stay tune. Semuanya ini akan menjadi kenangan yang membahagiakan selama di Palangka Raya, menjadi conservationist dan announcer. Memang saat-saat yang mengharukan adalah PERPISAHAN. Dan inilah kejutan kedua.
Wednesday, June 29, 2011
gaji pertama
30 Juni 2006
mengenang kembali saat itu tak bisa lepas dalam ingatan, setiap bulan dan tahun berlalu hingga sampai detik inipun aku masih tersenyum. Didalam toilet, duduk diatas closet duduk, disitulah salah satu tempat favoritku disekian banyaknya ruangan berlantai 23 gedung Graha SCTV (sekarang gedung Mitra). Aku sangat suka dengan toilet bersih :)
Hari itu kakiku melangkah memasuki lift, menekan tombol 3, mencari setiap lorong dimana kasir berada. Sepatu high heels berwarna hitam, celana kain satu-satunya, dan kemeja berompi, di tangan memegang erat kartu tanda magang bertulisakan nama dan jangka waktu magang. Yang membanggakan lagi di baris kedua tertulis nama divisi dimana aku bertugas: PUBLIC RELATIONS
Siapa yang tidak bangga bisa duduk di meja magang bagian humas, tidak banyak yang bisa menempati tempat ini. Ada banyak anak magang bisa masuk di stasiun TV ini, tetapi hanya sedikit yang diterima di bagian humas. Tidak terlalu sulit menerima anak magang untuk ditempatkan di bagian news, promo, produksi maupun HRD tetapi tidak mudah diterima di bagian divisi HUMAS. Bukan karena divisinya bergengsi, tetapi karena hanya bisa 1 anak magang yang bisa ditugaskan disini. Hanya dibagian Humas juga mereka mendapat meja khusus dengan fasilitas komputer. Kami sangat diberdayakan disini. Hanya bagian humas juga yang dipilih berdasarkan tes wawancara dan tes tertulis. Yang gagal bisa tidak diterima magang sama sekali atau minta ditempatkan di divisi lain.
Nasib anak magang jelas bagai anak baru kemarin yang bontot. Panggil sini, panggil sana, bawa ini, buat ini itu, dan sebagainya. intinya dikerjain. tapi senang, karena jika divisi lain mengeluh karena banyak nganggur, di mejaku aku bisa disibukkan setengah mati :)
Tidak semua anak magang mendapatkan uang lelah. Tapi tentu saja divisi saya memberi gaji bagi petugas magang-nya. Hari ini aku mendapatkan gaji pertamaku, jumlahnya memang kecil, tapi bagaimanapun inilah gaji pertama dalam hidupku setelah bekerja satu bulan penuh di ruang AC yang sangat dingin itu.
Langkahku sudah sampai di depan meja kasir, memberikan tanda identitas magang, menandatangai bukti penerimaan dan menerima amplop yang di lem rapat. Aku langsung turun melalui tangga, memasuki toilet favoritku di lantai 2, melihat wajah sejenak di depan kaca, mencuci tangan, sedikit membasahi rambut, dan berbicara pada diriku sendiri: Ternyata kamu bisa melakukannya!
Aku langsung memasuki bilik toilet, duduk diatas closet duduk, mengambil amplop dari dalam saku celana. Terdapat 5 lembar uang berwarna merah, masing-masing senilai Rp. 100.000. Aku ingin berteriak senang, tertawa kencang, tapi tertahan, tersenyum sambil berulang kali mengucapkan TERIMA KASIH TUHAN!. Amplop yang kupegang adalah uang pertama kali yang kuperoleh setelah bekerja sebulan. Bukan uang kiriman papa. bukan uang kiriman tante. Bukan pula uang nemu dijalan. Uang terbanyak yang kuterima dari hasil jerih payahku :).
Meski nominalnya tidak besar, dan tetap kurang untuk bertahan hidup di Jakarta, aku tetap mengucap syukur, aku tetap memberikan perpuluhan, dan aku tetap bangga dengan yang kudapatkan. Karena kini jumlahnya berlipat-lipat dari yang kuperoleh waktu itu, dan aku tetap mengingat toilet itu. Tersenyum bila mengingatnya, saat-saat indah menumpahkan rasa kebahagiaanku ketika di dalam TOILET.
Jakarta, Juni 2006
Jakarta, Juni 2006
Thursday, October 15, 2009
Mrs. Phobia
Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang pening, mata yang berat serta tubuh yang amat terasa lelah. Meski merasakan tidur malam, tetapi pikiranku tidak istirahat. Malam tadi tidurku sangat gelisah. Bagaimana tidak, teriakan Mrs, Phobia yang emang rada “social phibia” abis itu mengganggu pikiranku. Menghadapi orang yang punya ketakutan berlebihan bisa jadi gila beneran rasanya.
Mrs. Phobia: “Kita bisa dipecat Tira….ok ini nasib kita berdua, mungkin kamu juga harus siap dipecat, aduh kenapa diriku ini, udah ga makan apa-apa, di pecat gara-gara ini….”.
Aku: “Kenapa harus takut kak, … kita kan jujur, lagian kalo maksud kita baik, kenapa punya pikiran harus berlebihan seperti itu?, kalo ada yang kurang jelas administrasinya ya bisa diperbaiki kan (ga usah heboh n kesannya ngancam gitu dunk *tapi yg ini dalam hati*)”
Begitu yang selalu dan selalu Mrs. Phobia takutkan setiap aku harus berurusan dengan laporan keuangan. Bukan masalah laporannya tetapi “LEBAY”-nya dia terhadap ketakutannya akan pekerjaan yang memang dia hadapi.
Mrs. Phobia: “Aku ga tau lho ya….aku ga tau kalo tim audit menolak semua laporan ini, kalo di tolak tim audit, aku ga mau ikut-ikut, kalian yang tanggung jawab, aku gak mau dianggap seperti koruptori”, salah satu kutipan kata-katanya yang langganan bagi kami semua di kantor. Dengan wajah hebohnya yang takut setengah mati. Seperti nenek-nenek yang kehilangan tongkatnya.
Kami sangat heran, karena terus terang kami merasa laporan keuangan kami baik-baik saja, hanya saja penyajian laporan saja yang kadang tidak memenuhi standar pelaporan keuangan, bukankah itu bisa diperbaiki. Tapi kalo yang kita hadapi adalah seseorang yang selalu takut pekerjaannya salah, salah dan salah….hem…dia menikmati pekerjaannya ga si?.
Saya menyebut dia Mrs. Phobia, dia bagian keuangan sementara di kantor kami. Semua laporan keuangan kegiatan, pembelian barang dan perjalanan diatur oleh dia. Orangnya emang social phobia, ketakutannya lebih pada konsekuensi2 negatif yang mungkin timbul akibat interaksi dengan orang lain. Takut dipecat, takut di bilang koruptor, takut salah hitung, takut disalahkan. Kendati sebenarnya itu wajar karena pekerjaan dia di bagian finance, namun rasa takut yang berlebihan sampai harus bikin heboh satu kantor tiap hari padahal ketakutan itu dipicu oleh stimulus yang tidak benar-benar menakutkan / mengancam keselamatan diri, rasanya bikin kita ngucapin “capek deh………..”.
Mrs. Phobia: Kalian harus mengikuti aturan keuangan, termasuk klien kita!”, dan kita tidak bisa berargumen lagi kala dia akan mengancam, “kalau terjadi kesalahan hitung, aku bisa dipecat …. Aku bisa dianggap koruptor!”. Oh MG. Kok ada orang LEBAY (kedua kalinya aku mengatakan) kayak gini. So, bukannya berhubungan dengan klien tetap harus win-win solutions, masa semua harus sesuai aturan dia cumin gara-gara memahami penyakit phobia dia itu?.
Buatku pribadi, kalau kita mengerjakan sesuatu dengan tidak bermaksud jahat serta menikmati pekerjaan kita dengan sukacita, kenapa harus takut A, takut B atau takut C. Mrs. Phobia emang sangat berlebihan, berkas hilang satu maka akan heboh satu kantor (padahal berkas itu ada di depan computer dia..gubrak), HP tergeletak jatuh ketinggian 2 cm, maka dia berteriak heboh seolah-olah HP nya jatuh dari atas genteng dan tercerai-berai, email udah terkirim ajah heboh dan merepotkan orang sekitarnya ga percaya bahwa emailnya udh terkirim belum (padahal jelas-jelas tulisannya –SENT-, gaptek apa ya?).
Kita jadi kasian, karena phobia nya dia, setiap hari yang dirasakan adalah strees, inilah yang menyebabkan dia belum punya anak setelah pernikahannya yang sudah lebih dari 10 tahun. Dokter mengatakan bahwa ini disebabkan karena strees yang berlebihan (ya karena phobia-nya itu), kerja strees, waktu ga kerja n tinggal dirumah aja juga strees, nah repot…gimana cara nyembuhin orang kayak gitu ya?
Mrs. Phobia: “Kita bisa dipecat Tira….ok ini nasib kita berdua, mungkin kamu juga harus siap dipecat, aduh kenapa diriku ini, udah ga makan apa-apa, di pecat gara-gara ini….”.
Aku: “Kenapa harus takut kak, … kita kan jujur, lagian kalo maksud kita baik, kenapa punya pikiran harus berlebihan seperti itu?, kalo ada yang kurang jelas administrasinya ya bisa diperbaiki kan (ga usah heboh n kesannya ngancam gitu dunk *tapi yg ini dalam hati*)”
Begitu yang selalu dan selalu Mrs. Phobia takutkan setiap aku harus berurusan dengan laporan keuangan. Bukan masalah laporannya tetapi “LEBAY”-nya dia terhadap ketakutannya akan pekerjaan yang memang dia hadapi.
Mrs. Phobia: “Aku ga tau lho ya….aku ga tau kalo tim audit menolak semua laporan ini, kalo di tolak tim audit, aku ga mau ikut-ikut, kalian yang tanggung jawab, aku gak mau dianggap seperti koruptori”, salah satu kutipan kata-katanya yang langganan bagi kami semua di kantor. Dengan wajah hebohnya yang takut setengah mati. Seperti nenek-nenek yang kehilangan tongkatnya.
Kami sangat heran, karena terus terang kami merasa laporan keuangan kami baik-baik saja, hanya saja penyajian laporan saja yang kadang tidak memenuhi standar pelaporan keuangan, bukankah itu bisa diperbaiki. Tapi kalo yang kita hadapi adalah seseorang yang selalu takut pekerjaannya salah, salah dan salah….hem…dia menikmati pekerjaannya ga si?.
Saya menyebut dia Mrs. Phobia, dia bagian keuangan sementara di kantor kami. Semua laporan keuangan kegiatan, pembelian barang dan perjalanan diatur oleh dia. Orangnya emang social phobia, ketakutannya lebih pada konsekuensi2 negatif yang mungkin timbul akibat interaksi dengan orang lain. Takut dipecat, takut di bilang koruptor, takut salah hitung, takut disalahkan. Kendati sebenarnya itu wajar karena pekerjaan dia di bagian finance, namun rasa takut yang berlebihan sampai harus bikin heboh satu kantor tiap hari padahal ketakutan itu dipicu oleh stimulus yang tidak benar-benar menakutkan / mengancam keselamatan diri, rasanya bikin kita ngucapin “capek deh………..”.
Mrs. Phobia: Kalian harus mengikuti aturan keuangan, termasuk klien kita!”, dan kita tidak bisa berargumen lagi kala dia akan mengancam, “kalau terjadi kesalahan hitung, aku bisa dipecat …. Aku bisa dianggap koruptor!”. Oh MG. Kok ada orang LEBAY (kedua kalinya aku mengatakan) kayak gini. So, bukannya berhubungan dengan klien tetap harus win-win solutions, masa semua harus sesuai aturan dia cumin gara-gara memahami penyakit phobia dia itu?.
Buatku pribadi, kalau kita mengerjakan sesuatu dengan tidak bermaksud jahat serta menikmati pekerjaan kita dengan sukacita, kenapa harus takut A, takut B atau takut C. Mrs. Phobia emang sangat berlebihan, berkas hilang satu maka akan heboh satu kantor (padahal berkas itu ada di depan computer dia..gubrak), HP tergeletak jatuh ketinggian 2 cm, maka dia berteriak heboh seolah-olah HP nya jatuh dari atas genteng dan tercerai-berai, email udah terkirim ajah heboh dan merepotkan orang sekitarnya ga percaya bahwa emailnya udh terkirim belum (padahal jelas-jelas tulisannya –SENT-, gaptek apa ya?).
Kita jadi kasian, karena phobia nya dia, setiap hari yang dirasakan adalah strees, inilah yang menyebabkan dia belum punya anak setelah pernikahannya yang sudah lebih dari 10 tahun. Dokter mengatakan bahwa ini disebabkan karena strees yang berlebihan (ya karena phobia-nya itu), kerja strees, waktu ga kerja n tinggal dirumah aja juga strees, nah repot…gimana cara nyembuhin orang kayak gitu ya?
Thursday, June 28, 2007
gerbang selanjutnya! kuliah --> kerja
Aku mulai memasuki gerbang selanjutnya….
Benar kata bapak itu (seorang CEO perusahaan dimana aku bernaung), untuk mencapai kesuksesan bukanlah kepandaian, kecerdasan, kecantikan dan kehebatan modalnya, tapi kemampuan kita cepat beradaptasi terhadap perubahan. Apapun perubahan itu, inilah yang kualami.
Perubahan tuntutan hidup, perubahan lingkungan, perubahan karakter orang disekitar, perubahan globalisasi, perubahan usia......komplikasi perubahan untuk melangkah di gerbang selanjutnya.
Adalah saat-saat menegangkan bagiku saat aku sadar lulus dari sebuah taman kanak-kanak setelah 3 tahun bermain disana. Memasuki dunia yang baru dengan seragam baru putih merah. Diruangan baru, sekolah baru, guru baru, teman-teman baru. Oh Tuhan, seru hatiku, seperti apa ini kujalani.
Life must go on....semua berlangsung cepat. Hingga memasuki tahap selanjutnya. Lulus dari sekolah dasar, suatu masa berat dimana orang-orang tercinta dan memanjakanku sudah jauh...sangat jauh dan tak kembali. Sebuah perubahan dahsyat dimana ku diposisikan untuk hidup mandiri, memutuskan segalanya dengan sendiri dan kesuksesan serta kebahagiaan itu ada ditanganku. Entah bagaimana aku bisa bertahan dengan seragam biru putih, menjadi anak yang minder, dengan sedikit teman, mengalami gejolak transisi anak-anak menuju remaja, merasakan jatuh cinta dan pergaulan ABG.
Dan inilah waktunya kamu menjauhi rasa takutmu untuk berada di lingkungan baru lagi Tir, seragam abu-abu putih, di sebuah sekolah yang tidak ada sama sekali teman yang kamu kenal. Aku sendiri, di tengah keriuhan siswa baru di hari pertama ospek, aku kembali merasakan perubahan, di gerbang selanjutnya, dan pikiranku berkata: Kamu harus eksis disini!!.
Ternyata benar, adaptasi terhadap perubahan akan membawamu pada eksistensi diri! Aku menyiksa diriku dengan masa-masa berat di pemilihan OSIS waktu itu. Banyak siswa yang satu persatu mengundurkan diri setelah melewati berbagai level test. Aku.....aku tetap memaksakan diriku sampai tahap puncak mencari posisi itu. Ya...sebuah eksistensi diri!!!dan aku berhasil meraihnya......! Seragam Abu-abu putih telah mengajarkanku selama tiga tahun untuk belajar bertahan terhadap adaptasi perubahan yang cepat dan berkala.
Ibu Lilik, ya dia seorang guru ekonomi, masih terngiang dikepalaku tentang statement-nya. ”Saat kamu keluar dari gerbang SMU ini, terdapat gerbang baru yang harus kamu jalani, lebih berat, dan masa depan ada ditanganmu saat itu, oleh karena keputusanmu, yang menjadikanmu lebih dewasa”.
Memutuskan untuk kuliah di luar kota (Yogyakarta) adalah masa yang berat, tahun 2003, ya aku masih ingat, itulah perubahan terberat dalam hidupku yang harus aku adaptasi. Bukan lagi semudah transisi TK menuju SD, SD menuju SMP, SMP menuju SMU, jauh...jauh lebih dari itu. Begitu berat, hingga rasanya terlalu sulit bernafas, hingga rasanya sudah habis air mata, hingga rasanya kepala mau pecah, hingga rasanya aku ingin lari jauh dari bumi ini. Beristirahat sebentar di planet lain, ingin tenang, jauh dari mereka, jauh dari lingkungan itu, jauh dari situasi ini.
Tapi ternyata tidak bisa, aku tetap ada disini, aku berada pada ”kenyataan”, aku ada pada ”perubahan”, dan aku...aku harus cepat beradaptasi.
Gerbang itu mulai pelan-pelan kutinggalkan, suatu tempat yang buatku sudah cukup berat beban yang harus dipikul. Dan aku mulai harus memasuki gerbang yang baru, gerbang yang jauh lebih rumit.
Suatu gerbang untuk seorang yang baru beranjak dewasa sepertiku.
Suatu gerbang yang ternyata jauh lebih rumit dengan berbagai tuntutan,
suatu gerbang dimana banyak sekali karakter orang yang berbeda-beda,
suatu gerbang dimana iklim sangat menentukan produktivitas kita.
Gerbang ”dunia kerja”, dan aku semakin menyadari bahwa peluru yang aku bawa bukan sekedar peluru ”skill” dan ”ijazah”, tapi melebihi semua itu adalah peluru ”mental”.
Gerbang yang sangat fenomenal, gerbang dimana didalamnya banyak orang-orang individual, orang-orang yang meng-elu-elukan istilah ”profesional” tapi munafik, orang-orang yang penuh ambisius, para ”penjilat”, para ”pemakai topeng”, saling tikam, saling mengadu, saling menjatuhkan, gila harta, hedonis, tukang perintah, dll. Hingga bisa kusimpulkan bahwa orang-orang yang bertahan eksis dan dilevel aman adalah orang-orang yang pinter ”speak”. Speak terhadap atasan, speak terhadap forum, speak terhadap partner, speak terhadap klien. Sayangnya orang-orang seperti itu tidak pernah membuka telinga mereka untuk mau mendengar jeritan2 orang lemah, orang2 kecil atauorang-orang tertindas.
Gerbang itu didalamnya banyak budak-budak kapitalis, orang-orang yang termakan ideologi pihak tertentu, orang-orang yang mengais demi sesuap nasi dengan melakukan berbagai macam cara. Tapi mereka tidak sadar. Atau mereka sadar tapi mau tidak mau menjalaninya. Ya...inilah hidup. Seperti aku ini, ibaratnya bayi yang sedang belajar berjalan. Apa yang harus kulakukan, ya itu tadi, secepat mungkin menyesuaikan perubahan itu. Perlukah menjadi seperti mereka? Itu dilema. Atau tetap idealis dan sok suci, siap-siaplah kamu tersingkir, atau posisimu akan itu-itu aja. Lalu?
Setelah aku lama berpikir, aku tau jawabannya. Gejolak ini berawal karena betapa aku jauh dari Dia. Kalau aku dekat, mungkin aku tidak akan setakut ini. Iya, aku butuh dukungan yang bisa membawaku menuju gerbang selanjutnya, cuman Dia. Ya.....cuman Dia.
*suatu moment ketika mengalami tekanan ditempat kerja, Radio anak muda di jogja, ketika dihadapkan sebagai mahasiswa yang mulai belajar masuk di dunia kerja profesional. Jogja, Juni 2007
Wednesday, January 3, 2007
^^kejar jakarta^^
Pagi kota Jakarta,
Ga ada yang berubah, layaknya siang dan malam kemarin,
Penuh serpihan debu dan udara kotor yang merong-rong saluran nafasku. Penuh riuh teriakan kondektur bus yang mencari sesuap nasi untuk tarikan pagi ini. Penuh kepulan asap dari ‘pantat’ bus yang saling beradu dengan kendaraan lainnya. Penuh jejalan manusia yang mulai sibuk dengan aktifitasnya hari ini, tapi aku tidak meliat satupun raut wajah mereka yang tenang dan sukacita. Mereka sedang diburu waktu…..
*saat-saat berat menggerjakan skripsi sekaligus kerja di Jakarta!
Gedung SCTV, Jln. gatot Subroto, Maret 2007
Ga ada yang berubah, layaknya siang dan malam kemarin,
Penuh serpihan debu dan udara kotor yang merong-rong saluran nafasku. Penuh riuh teriakan kondektur bus yang mencari sesuap nasi untuk tarikan pagi ini. Penuh kepulan asap dari ‘pantat’ bus yang saling beradu dengan kendaraan lainnya. Penuh jejalan manusia yang mulai sibuk dengan aktifitasnya hari ini, tapi aku tidak meliat satupun raut wajah mereka yang tenang dan sukacita. Mereka sedang diburu waktu…..
Pagi kota Jakarta,
Seperti biasa menunggu Safety Safe 976, sejenis bus yang jauh lebih besar dari metro mini. Sudah pukul 07.50, 25 menit sudah aku menunggu di depan halte, akhirnya dia nongol dihadapanku. Kalau pagi, bujululah…padatnya isi bus, tidak hanya padat didalam tapi juga padat diluar. Macet di perempatan Pancoran, dan perjalananku yang seharusnya 10 menit itu tertunda menjadi 30 menit. “Yupz neng, kaki kiri..kaki kiri!!”, begitu kondektur yang selalu setia mengingatkan penumpangnya untuk turun dengan kaki kiri dulu. Tubuhku mantap turun dari bus dan aku segera berjalan menyebrang di jembatan penyebrangan depan gedung Mitra SCTV. Setiap pagi para satpam selalu setia menyapa orang yg lewat, mereka ramah dan aku harus membayangkan bagaimana setiap menitnya mereka harus menyapa ramah kami *apalagi aku yang manis ini…gubrak…*, aku berlari menuju lantai dua, mengambil presensiku untuk “nyetok” *istilahku buat absen, karena kita harus memasukkan daftar presensi tersebut kedalam mesin waktu dan kalo dimasukkan bunyinya “cetok”…he….*, sebelum menguncur ke ruang kerja, aku mampir ke toilet untuk *absen juga* cuci tangan dan merapikan diri, tau kan kondisi di luar sesuai dengan paragraf satu diatas..hwe….
Dalam Kantor,
Tetap saja seperti hari kemarin, AC diruang Public Relations Departement super duper over dingin. Ini karena sebab musabab dimana posisi meja kerjaku ada tepat dibawah pusat AC, jadi I’ve to use my jacket. Sepi banget….baru ada Mas Uki, PR Officer Media Relations serta Andin, anak Magang dari UNPAD yang sedang saling serius ngobrol. Yah, secara seperti biasa aku menyalakan komputer terlebih dahulu, cek e-mail dan balas sms beberapa teman. Oya, Tir, jangan lupa yah telpon mba Ade bagian produksi yah buat wawancara nanti sore, ingatanku berbicara saat itu…
Aku mulai start kerja, sebenarnya aku pingin banget nelpon Gina, teman SMU-ku ‘n also my lovely Mom, tapi pending dulu karena ruang kerja mulai dipadati oleh manusia-manusia yang lain, ga enakkan pagi-pagi dah main2 telpon. Dalam kantor ini terdapat 9 orang karyawan tetap plus 2 mahasiswi yang sedang menimba pengalaman bekerja, yang satu anak praktek kerja lapangan, Andin *seperti yang telah dijelaskan diatas J* serta akyu sendiri, kerja kontrak 3 bulan yang skalian ngambil skripsi disini, seperti peribahasa sambil menyelam minum cendol, eh aer……..Ok, kembali ke perkenalan, jadi terdapat 11 meja kerja dalam satu ruangan..We Are Great PR…!!n I supposed to be great PR as well!!!ha…..
Our Big Bozz, namanya Bu GS, beliau Assistant Vice Precident Communication Division, panjang yah……dibawahnya ada Pak BD, duh beliau tuh paling gw kagumin di sini, Senior Manager Public Relations, orangnya ramah dan low profile, senang deh kalau bisa mengenal dia. Nah, atasan gw langsung namanya Pak H, dia Assisten Manajer PR, orangnya betah banget dikantor, anak2 magang (mahasiswa) bakalan selalu berhubungan ama dia..Trus ada trio wanita yang selalu ngeramein isi kantor (Mba S, Internal relations, gw assistennya untuk majalah internal SCTV; Mba T, Community Relations & Corporate Promotions, nah buat kamu yang mau ngajuin sponsor n kunjungan hubungi dia yah; n Mba R, Secretary), ada juga yg suka alone, namanya mba I, Corporate Social Responsibility, dia yang ngurusin Pundi Amal SCTV dan Pijar, enak deh kerjaan dia, banyak amalnya, banyak berbuat kemanusiaannya. Ada juga Mas U & Mas A, sebagai Media Relations yang punya banyak kenalan wartawan, asyik yah….!!!!!
Pukul 12.00
Itu pertanda makan siang, he…..saat-saat yang ditunggu, karena aku bisa bebas berkeliaran dan keluar dari ruangan. Terus-terang aku orang yang bosenan, bukan orang behind the desk, jadi setelah aku akhirnya berada di satsiun TV ini, tiba-tiba aku jadi pengen di produksi. Kayaknya kerjanya mobile melulu, asyik deh kayaknya, nah nasib gw disini sekarang, hampir all day di dalam ruang ber-AC yang dingin itchu….Kantin penuh!!!ga kebagian tempat duduk, jadi harus ngantri bentar, tinggal pilih mau mesan apa, ah pesen bakmi ajah…!!!
Kembali Ke Ruangan
Nah, kembali deh bekerja, menelpon orang-orang, wawancara, motret, nulis naskah buat isi majalah edisi Januari ini, nerima telepon pemirsa yang aneh-aneh maunya, juga cek semua kerjaanku yang ga pengen kutunda-tunda. Sekali-kali aku nyempetin diri buat ngerjain skripsi *he..he…licik yah, menggunakan fasilitas kantor dan mencuri waktu buat kepentingan pribadi* Yah, bulan ini adalah bulanku untuk mengejar-ngejar orang produksi, karena mereka menjadi ‘fav Dept of this month’, karena sekedar bocoran bahwa SCTV, Stasiun TV Satu Untuk Semua ini bakal ikut menggencarkan in-house di tahun 2007, he….demi efisiensi dan image dunk!!!
Puff, aku pulang
Sekarang aku pulang, melihat keluar, penuh dengan kemacetan, aku harus cepat sebelum jalanan benar-benar lumpuh total. Aku harus cepat cari bus….ayo Tir, semangat!!!!!!!!
*saat-saat berat menggerjakan skripsi sekaligus kerja di Jakarta!
Gedung SCTV, Jln. gatot Subroto, Maret 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)