Wednesday, October 21, 2009

#Tidak menikah#

Aku punya seorang sohib yang lumayan dekat selama kuliah. Kami sempat tinggal satu atap, dan suka berbagi pikiran (alias curhat). Teman aku ini emang cewek yang selama SMA tinggal di asrama yang ketat, sehingga saat kuliah, kehidupan dia bagai ayam keluar dari sangkarnya. Ni cewek emang gak bisa hidup tanpa cowok, andaikan sedang jomblo-pun, dia punya TTM (Teman Tapi Mesra), dia juga suka clubbing, dan pasca putus dengan cowoknya yang pertama dia makin doyan merokok dan minum.

Pada dasarnya dia orang yang baik. Hatinya baik, gak suka punya niat jahat sama orang, bahkan menurutku cenderung lugu. Ya mungkin karena dia anak asrama yang jadi euphoria dengan kebebasan itulah sehingga  jadi ingin tau itu dan ingin tau ini. Waktu kami masih semester awal (masih sama-sama culun), sekitar tahun 2003-2004, dialah teman dugem yang asyik. Karena dasarnya dari SMA aku sudah suka dengan minuman alcohol (hemmmm, nikmat banget), dugem menjadi suatu hal yang menyenangkan. Tapi sohibku ini, meski senang clubbing, awalnya dia gak terlalu suka minum, bahkan enggak merokok (sementara aku merokok waktu itu lho…..).


Nah, setelah beberapa semester kami lalui, ceritanya malah kebalikan (ya pasca dia diputusin bojo-nya yang gak banget itu selingkuh dengan cewek gembrot…hihihih, masak selingkuh dengan yang ancur ). Temanku ini gadis yang manis lho, tiap kali jalan ama dia apalagi ke tempat clubbing, wah aku berasa tenggelam banget, karena para cowok akan mendekati dia. Nah, kembali kecerita dunia kebalik tadi. Justru saat aku udah mulai merasa dewasa dan memikirkan pentingnya masa depan, dia malah jadi menggila. Waktu itu sie satu rumah, tiap malam kerjanya dugem (apes banget ditinggal dirumah sendiri ), dia juga jadi gila ngerokok, di tas nya selalu ada Marlboro Menthol Ijo(waduh, kegemaranku dulu nie), dan juga semua cowok dia ladenin (yah dengan kata lain, bibirnya milik bersama) *busyet emang gitu ya putus cinta & patah hati?*. Tapi dia gak berubah, dia tetap cewek yang lugu dan polos menurutku.

Sampai pada akhirnya diriku lulus,  sementara dia masih sibuk dengan skripsi-nya *yang belum dimulai-mulai, judul aja belom*, kami berpisah, dia sibuk kerja (nah ini dia penyakit mahasiswa kerja, suka lupa skripsi). Agak lama gak kabar-kabarin beberapa bulan, suatu hari aku berlibur ke Jogja, dia dah punya cowok baru ceritanya, tapi entah kenapa setelah berkenalan ama cowok ini, hati kecilku berkata cowok ini “ga benar” dan “ga pantes” ama sohibku. Sesekali aku sampaikan rasa gak sreg-ku itu, ya elah dia malah marah, “Gw sayang ama dia…cuman dia yang ngertiin gw.” Busyet, dasar cinta emang buta yah, atau nafsu yang buta?.

Setelah itu semua berlalu, aku kembali dengan kesibukan pekerjaanku, begitupula dengan dia. Lama kami tidak saling calling. Kalaupun saling kontak lewat conference Yahoo Messenger! Atau fesbuk yang sifatnya hanya say hello!. Sampai suatu hari jederrrrrrrrr..jeder……, aku dapat kabar kalau dia sudah melahirkan *hamilnya kapan?*, alkisah kemudian langsung aku angkat telpon, menghubungi nomor dia. Dan berceritalah dirinya mengenai peristiwa menyedihkan itu.

Teman aku ini hamil dan melahirkan anak tanpa ayah. Yah, seperti dalam cerita sinetron-sinetron bahwa si ayah ini kabur gak mau tanggung jawab *busyet enak buatnya doank, giliran tanggung jawab ogah, huh..pingin gw sunatin 2x tuh orang*. Padahal orangtua si cewek udah datangin ortu si cowok, tapi apa daya, ortu di cowok juga terserah pada si cowok, yang ceritanya jadi BANCI banget saat dihadapkan pada masalah seperti ini.

Aku tau betul temanku ini berusaha tegar, bahkan dia memilih TIDAK MENIKAH, daripada menikah tapi nantinya gak bahagia karena cowok itu sudah menyatakan tidak mencintai dia lagi, demikian pula sebaliknya. Puff, ternyata kata hatiku ga salah saat pertama kali menilai cowok ini, ternyata benar dia cowok yang nilainya NOL.

Beberapa hari lalu aku masih kontak temanku itu, dia cerita kalo si dedek kecil sudah punya akte kelahiran. Aku nanya, nama orang tuanya dimasukin ga? Si blukutuk itu dimasukin ga namanya?. Dia menjawab dengan santai,”di akta kelahirannya tertulis si xxxx anak dari seorang perempuan bernama gue  *aja*”, hihihi, lucu juga, tapi itu bagus, temanku emang punya prinsip. Dia cerita bahwa dia menyadari perbuatan dosa dia, tetapi dia gak mau harus meng-aborsi anaknya. “Udah dosa, gw ga mau dosa dua kali, apalagi nikah ama dia, ga bahagia, trus cerai, bisa dosa tiga kali”. Duh, terharu banget deh, mendengar cerita dia, terus terang aku jadi menangis, benar-benar menangis sampai sebasah-basahnya kala itu.

Pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup Anda sempurna atau bahagia. Tidak menikah adalah pilihan temanku itu. Dan aku sungguh bangga dengan pilihan dia. Untuk pembahasan ini saya ga akan mengasihani atau memposisikan bagaimana perempuan selalu menjadi korban. Tetapi justru sebuah langkah/keputusan perempuan dalam memilih hidupnya. Kalau perempuan sedikit-sedikit menjadi merasa pihak yang dikorbankan, kapan bisa menjadi kuat, lha merasa lemah terus. Oleh karena itu saya menghargai keputusan teman saya itu.

Bicara mengenai keputusan, saya juga merasa sedih dengan teman saya yang lain, yang tidak bisa menentukan keputusan/pilihan atas hidupnya sendiri. Teman saya yang lain ini di poligami oleh suaminya. Tetapi dia tidak ingin menceraikannya meski dia merasa sangat sakit hati. Suatu hari teman saya melakukan bargaining dengan suaminya, “Kalau kamu boleh poligami, berarti saya boleh poliandri dunk”, suaminya membantahnya *busyet, egois banget*, katanya kalau laki-laki menikah dengan perempuan lebih dari satu, tetap jelas siapa ayahnya, sementara kalau perempuan punya banyak suami maka gak jelas dari ayah yang mana.  Padahal, secara biologis, perempuanlah yang bisa betul-betul yakin bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya sendiri.

Tapi saya berharap teman saya yang di poligami ini dapat bisa menentukan keputusannya sendiri apapun itu. Kan pilihannya cuman dua, bersedia di poligami (dengan ikhlas) atau melepaskan dia aja sekalian. Karena kalau masih bersikap suam-suam kuku, di poligami tapi ngedumel dari belakang, bagaimana hidup kita bisa bahagia, bukankah menjalani hidup harus berani mengambil keputusan?.

No comments:

Post a Comment