Orang menganggap pernikahan adalah sebuah happy ending. Seperti dongeng Cinderella, Putri Salju, sampai film masa kini The Proposal, The Ugly Truth, Pretty Woman. Kenapa tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri?.
Aku mencintai adegan nenek dan kakek jompo yang saling bergandeng tangan tersenyum duduk dipinggir danau menikmati sore dengan mesra. Saya menyimpan foto itu dalam pikiran. Mungkinkah itu benar-benar terjadi di dunia nyata?.
Orang-orang menyukai foto pernikahan, adegan mesra orang yang sedang dimabuk cinta atau foto keluarga dengan bayi-bayi mereka. Gadis yang menggunakan gaun pengantin itu cantik, adegan film percintaan begitu romantis. Foto keluarga itu tampak rukun sekali. Tetapi itu semua takkan menggugah sekuat adegan nenek kakek jompo itu. Filosofinya sangat mudah, foto pernikahan itu hanya menjadi album memuakkan saat merasakan pernikahan yang penuh nightmare, adegan mersa itu berlanjut pada tangis patah hati serta foto keluarga itu menjadi retak ketika pihak ketiga memasuki keluarga mereka. Sehingga tawa dan kebahagiaan dalam foto/film tersebut berbalik menjadi keterpurukan, teriakan dan tangis. Tapi foto nenek kakek tersebut justru mengajarkan Forever Love, cinta sejati…cinta yang tidak luntur… apakah itu terjadi di dunia nyata ini. Mungkin itu hanya ada di Neverland!.
Saat saya menduduki bangku kuliah, bersama teman, kami termasuk kelompok yang “tidak ingin menikah”. Hem, cukup kontroversial. Orang-orang akan terheran ketika mengetahui pemikiran ini. Tetapi pemikiran itu berangkat dari satu pertanyaan, “Mengapa Kita Perlu Menikah?”, ada banyak jawaban yang tidak pernah memuaskan kami. “Untuk Mencari Kebahagiaan”, oh ya, terlalu banyak orang menjadi tidak bahagia karena menikah. “Untuk meneruskan keturunan”, apakah menikah hanya untuk ber-anak? Lalu bagaimana nasib anak-anak terlantar di panti asuhan, anak-anak jalanan, anak-anak yang mengalami kekerasan dari orang tuanya. Apakah sekedar melahirkan anak dan selesai sampai disitu? Hem, jawaban itu belum meyakinkan kami. “Masa kita hidup sendiri sampai tua?”, kita punya orang-orang disekitar kita yang menyayangi kita bukan, lebih baik hidup sendiri daripada berdua tapi menderita. “Gak tahan dengan kebutuhan biologis”, hem, emang untuk melampiaskan hasrat seksual harus dengan menikah?. “Menikah itu Ibadah”, tetapi menikah menjadi tidak ibadah kalau dihancurkan dengan perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, atau kesakithatian.
Tuh kan, tidak ada yang menjawab pertanyaan kami dengan memuaskan. Berdasar riset kecil kami, menikah merupakan penderitaan. Jika mengingat masa tersebut saya masih terkekeh-kekeh mengingatnya dimana setiap kali melewati gedung acara resepsi pernikahan dari jalan, kami tertawa dan saling mengatakan “dasar orang-orang bodoh itu melakukan hal yang bodoh!!!!”.
Itulah sisi penolakan saya akan pentingnya pernikahan. Beberapa mengatakan saya trauma. Mengapa tidak, dalam hidup saya, sekeliling saya hampir tidak pernah mengalami kebahagiaan dalam pernikahan. Saya sangat heran dengan mama saya (seseorang yang saya kagumi), setiap kali beliau bercerita tentang masa SMP-nya di Tarakan dan masa SMU-nya di Menado selalu saja penuh semangat 45, apalagi cerita mantannya :). Namun suatu kali saya bertanya apakah dia bahagia dengan pernikahannya selama lebih dari 20 tahun itu, dia berkata, ”aku tak pernah bahagia”. Begitu pula Mama Ani, seorang wanita yang merawat saya sejak kecil, pernikahan dia yang menyedihkan, harus tegar menerima suaminya berselingkuh dengan pembantunya, rela melepaskan suaminya untuk menikahi pembantu yang hamil itu, dan keluar kota menjaga saya yang masih berusia 1 bulan. Apakah saya patut heran? Sangat heran, hingga semakin heran saat beranjak dewasa melihat kegilaan hidup ini, dosenku yang berselingkuh dengan mahasiswinya, bos-ku yang genit dan ternyata berselingkuh dengan teman kantorku di Jakarta, beberapa teman kantor yang gagal dalam rumah tangganya, teman-temanku yang di khianati, teman-temanku yang di sakiti, dan masih banyak lagi.
Ternyata benar, saat pasangan pengantin berjalan menuju altar gereja, mengucapkan janji sumpah setia baik suka dan duka, disudut bangku belakang, Iblis sedang menunggu mencari mangsa barunya untuk merusak rumah tangga yang telah dipersatukan oleh Tuhan.
Tiba-tiba aku membuka mataku, mungkin selama ini aku salah. Bukankah setiap manusia haruslah memiliki tujuan hidupnya, yaitu memiliki arti dan memberi arti. Hidup ini pilihan. Apakah pencapaian tujuan hidup itu dilakukan sendiri seumur hidupmu ATAU mencapainya berdua?. Kamu cukup hanya memilihnya!
No comments:
Post a Comment