Pernahkan membaca buku karya Dr. Spencer Jhonson berjudul “Who Moved My Cheese?”, buku yang mengisahkan tentang Perubahan, bagaimana menyikapinya yang dibahas dalam 4 tokoh imaginer yang mewakili bagian dari kepribadian manusia. Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Buku inilah yang menginspirasi saya beberapa tahun yang lalu untuk memutuskan kuliah keluar kota (Yogyakarta) dan melewati labirin sesat, tapi kemudian menikmati kejunya (zona aman), kemudian kembali melewati lorong labirin ketidakpastian di Jakarta, dan menemukan keju lainnya yang baru dan besar di Palangkaraya, Kalimantan.
Buku ini mengisahkan dua ekor tikus bernama Sniff dan Scurry yang menggunakan naluri serta manusia (kurcaci) bernama Hem dan Haw yang menggunakan otak penuh dogma dan emosi.
Setiap hari kita tentu menjalani kehidupan ini dengan berbagai permasalahan. Suka atau tidak suka, kita pasti pasti punya tujuan, baik itu tujuan hari ini, tujuan dalam bulan ini, tujuan tahun ini, atau tujuan jangka panjang. Apapun bisa menjadi cita-cita, bukankah kita manusia, tanpa impian, kita bagaikan mayat hidup. Dalam berbagai kasus, ada yang ingin mencapai tujuan dalam kariernya, dalam pasangan hidupnya, dalam keluarganya, dalam kesehatannya, dalam studi-nya, bahkan dalam target pekerjaan yang harus kita lakukan hari ini seperti menyelesaikan laporan.
Begitulah yang dikisahkan oleh Dr. Spencer, hidup kita bagai di dalam labirin, yang mau tidak mau dihadapkan pada perjuangan mencari jalan ketidakpastian didepan, penuh liku-liku, terkadang jalan yang salah bisa terlalui. Mengapa kita perlu mengitari labirin itu? Untuk mencari cheese (tujuan itu), kalau tidak mengitari labirin dan diam di tempat, bagaimana kita bisa meraih cheese tersebut bukan?.
Labirin tersebut terdiri dari lorong panjang berkelok-kelok dan ruang-ruang yang beberapa diantaranya berisi cheese yang lezat, namun adapula lorong-lorong gelap dan jalan tak bertuan yang menyesatkan. Sehingga mudah sekali bagi siapa saja yang tersesat didalamnya.
Pernahkan masuk kedalam labirin di taman bermain atau rumah kaca? Bagaimana metode yang biasa kita lakukan? Ada orang yang mencoba melewati semua jalan/lorong, jika tersesat/buntu, maka dia akan kembali mencari jalan yang lain, sampai menemukan jalan yang benar. Langkahnya juga berbeda, ada yang bergerak cepat, ada yang lambat. Namun, ada metode lain, beberapa orang akan menggunakan metode mengamati peta labirin, mengamati panjang dan lebar labirin tersebut, menganalisis tingkat kesulitan, dan mencari jalan dengan tidak asal mencari tetapi berdasarkan perhitungan yang tepat!.
Begitulah kisah sniff dan scurry yang menggunakan metode trial dan error, tetapi tanpa mengesampingkan sisi naluri mereka, sementara Hem dan Ham yang menggunakan otak manusia yang begitu kompleks. Semua tidak salah, sama seperti kita melakukan sebuah penelitian, bukan metodenya yang penting, karena apapun metodenya bisa digunakan yang penting hasil riset tersebut.
Dalam kisah buku tersebut, mereka berempat mendapat cheese disebuah station, katakanlah station itu disebut station c. Kejunya besar sekali. Misalnya saja, keju bisa diartikan pekerjaan kita atau studi kita.
Inilah keju yang besar: Terkadang orang berpikir bahwa apa yang sedang mereka alami adalah sebuah kesuksesan atau kebahagiaan. Mereka tiba-tiba seperti merasa ada di zona aman, karena merasakan kekayaan, kekuasaan/jabatan, kebahagiaan rumah tangga, kepandaian/prestasi pada studi. Bagaimana tidak, meraihnya saja membutuhkan kerja keras sebelumnya.
Tetapi keju yang besar di station c tersebut suatu hari akan habis!. Ada tipe orang yang tidak menyadari bahwa kejunya semakin hari semakin habis dan tidak siap menerima itu, mereka merasa aman, sudah dikenal oleh sekelilingnya, serta takut gagal jika mencari keju baru, tetapi ada yang sudah menyadari bahwa kejunya semakin menipis, dan nalurinya berkata, “saya harus mencari keju yang baru”.
Begitulah perubahan, perubahan terjadi karena keju kita tidak mungkin tetap disana, keju kita perlahan-lahan akan habis karena kita nikmati. Sekuat apapun kecerdasan yang anda miliki, takkan bisa melewatkan yang namanya perubahan.
“Semakin Penting Cheese bagi anda, semakin ingin anda mempertahankannya”. Ada orang yang tidak bisa menerima hilangnya keju, dia terus mengevaluasi, mempersoalkan kemana kejunya berada, sementara ada orang lain yang bergerak cepat mencari kejunya yang baru, "tak ada waktu memikirkan keju yang sudah habis itu". Kembali berlarian dalam labirin yang tidak sedikitpun menjanjikan kepastian, namun dia tau bahwa keadaan semacam itu hanya berlangsung sementara.
“Semakin cepat anda melupakan cheese yang lama, semakin cepat anda menemukan cheese yang baru”. Ketahuilah betapa menyenangkannya mengejar cheese, bukan hasil yang kita nikmati tetapi prosesnya bukan?. Berlarian dalam labirin, mengatasi rasa takut, mengalahkan diri sendiri, bertemu orang-orang baru, situasi dan problema baru. Bukankah itu yang menyenangkan. “Membayangkan diriku sendiri sedang menikmati cheese baru, bahkan sebelum aku menemukannya, telah mengarahkan aku kepadanya".
Hanya kita yang tau bilamana cheese kita telah perlahan habis. Penyebabnya bisa dari dalam bisa pula dari luar diri kita. Dari luar seperti PHK, mutasi, perubahan kebijakan, ganti dosen pembimbing, anak-anak sudah beranjak dewasa dan menikah, dll. Dari dalam seperti kondisi dimana saya tidak mungkin bisa berkembang lagi disini karena terlalu kenyang dengan apa yg sudah saya dapatkan, kondisi dimana saya tidak bisa memberi kontribusi pada perusahaan lagi, kondisi dimana misi saya tidak sejalan dengan mereka/sekeliling saya, kondisi dimana posisi saya terlalu bagus, tetapi ada banyak anak buah yg harus saya beri kesempatan untuk itu,dll.
Perubahan tidak selalu berakibat buruk, tergantung kita yang menyikapinya. Jika Anda Tidak Berubah, Anda Akan Punah. Saat kita mengubah keyakinan kita, maka kita telah berubah.
No comments:
Post a Comment