Telah lama memikirkan tentang ini.
Cahaya matahari memancar ke istana itu, tapi keindahan akan menghilang dalam suatu hari.
Disana adalah tempat kita untuk memikirkan kenangan yang sudah hilang, aku ingin menetap disini dan maju. Dunia yang aneh, dunia yang kecil, kesepian yang dalam, dengan kebebasan baru juga kesenangan.
Perjalanan ini untuk pencarian yang spesial.
Tiba tiba aku seperti berada diatas sebuah bukit yang tinggi, penuh padang ilalang berwarna kuning keemasan, jika ku pejamkan mata, merasakan wangi alam yang begitu asli, anginnya mengibaskan rambut menutupi mataku.
Aku ingin berteriak, karena tidak ada orang disekeliling, menjadi diriku yang tak biasa namun apa adanya.
Aku sangat suka hujan, setiap kali hujan, maka ku menatap serpihan-serpihan air yang jatuh dari langit menuju peraduannya: tanah
Tiba-tiba air tersebut melebur, dan memecah di bumi
Ibarat puzzle, aku harus menyusunnya kembali
Tetapi mengapa hanya berhasil setengah? Lalu kemana yang lain, sepertinya pergi, hilang dalam perut sang penguasa.
Ah, aku bohong. Sesungguhnya, Aku suka mendung. Tidak terlalu terik, tidak pula terlalu basah. Awan-awan itu seperti mengatakan sesuatu
Tak perlu ada sinar, Tak perlu juga ada air
Tetapi mendung …
Diriku yang setengah ini, begitu lemah, begitu biasa, tak ada yang istimewa.
Diriku yang setengah ini sungguh manusia tak mampu mengambil sikap
diriku yang setengah ini hanya bersembunyi dalam goa ketakutan
diriku sungguh manusia biasa …
cuman satu kata yang ingin kusampaikan saat ini..
MAAF
Palangkaraya, 28 Oktober 2009
langkah itu mestinya terus berjalan terlepas saat ini masih setengah, namun mengethui setengah yang sekarang adalah berarti mengetahui setengah lagi kedepan dan itu berarti langkah langkah itu akan terus berarti
ReplyDelete