| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Other |
| Author: | Annie Leclerc |
Buku ini berbeda dengan buku soal perempuan karya-karya Nawal El Saadawi seperti Perempuan di Titik Nol atau Memoar Seorang Dokter Perempuan. Annie membeberkan pengalamannya atau pengalaman kaum perempuan yang sungguh-sungguh mau menggugat budaya patriarki yang andosentris. Ia menertawakan, mencemooh, mencaci-maki, bahkan mengutuk laki-laki.
Mula-mula ia mendiskripsikan "apa-apa" yang menjadi milik perempuan dan perkembangannya. Ia menyebutkan bahwa alat-alat produksi perempuan menikmati banyak "pesta". Sebaliknya, alat produksi milik lelaki hanya bisa mengalami satu-satunya pesta yakni senggama. Perempuan mengalami haid, senggama, mengandung, melahirkan, dan ditambah lagi menyusui. Semua itu sungguh membanggakan perempuan, kata penulis.
Annie mengisahkan secara terbuka pengalamannya itu, katanya: Begitulah awalnya aku menyadari kelamin perempuan yang kumiliki merupakan wahana pesta kesuburan dalam kehidupan ini. Lalu, aku melongok ke dunia laki-laki. Baginya, satu-satunya pesta seks adalah persetubuhan. Sementara itu, kemaluanku mengenal dan mengalami banyak pesta lain, tetapi laki-laki tidak peduli.
Menurut tangkapannya, lelaki menuntut agar "pesta" perempuan itu tak usah dibicarakan, kehadirannya tak boleh mencolok. Sebab, lelaki sudah kadung memproklamirkan bahwa hanya ada satu pesta seks, yaitu pesta laki-laki. (hlm. 9).
Pejuang gender yang peka terhadap segala bentuk subordinasi dari superioritas laki-laki ini sebenarnya bermaksud memberi kesaksian, mengajukan protes terhadap ketidakadilan, atau bahkan terhadap kejahatan yang dilakukan atas perempuan. Akan tetapi, ia tak hendak mempersatukan kekuatan untuk menghancurkan laki-laki atau balas dendam. Ia hanya ingin bekerja sama tanpa diskriminasi, tanpa dominasi, tanpa eksploitasi. Pendeknya ada persamaan, egaliter.
Kritiknya juga ditujukan kepada kaum Hawa. Kekeliruan paling besar di pihak perempuan adalah kebungkaman, katanya. Padahal pembebasan dari "perwalian" dan penindasan laki-laki hanya mungkin terlaksana bila kaum perempuan bicara dan menyatakan sudut pandang sendiri tentang hidup, masyarakat, politik, seni, agama, pendidikan, dan sebagainya.
Seruan Annie tersebut berkaitan dengan praktik perwalian atas perempuan oleh lelaki, di banyak negara Eropa. Untuk melakukan tindakan hukum , perempuan di beberapa negara itu dianggap tak mampu. Maka mereka diwakili oleh walinya, yakni suaminya. Annie ingin perwalian itu tak ada lagi.
***
BUKU 191 halaman itu terdiri dari beberapa bab sebagaimana novel, namun tiap bab tanpa judul. Kita baru mengerti suatu bab bicara soal apa, bila sudah membacanya. Misalnya saja pada bab paling awal ia bicara soal perbedaan lelaki dan perempuan (hlm 1 s/d 11). Lalu bab berikutnya soal martabat perempuan (hlm 12 s/d 31), tentang kesombongan lelaki (hlm 32 s/d 37).
Di halaman 48 s/d 81, Annie berceritera tentang pertumbuhan anak-anak, terutama anak perempuan ketika mengalami perkembangan alat produksinya dari datang bulannya yang pertama sampai berkemampuan hamil. Kemudian bab selanjutnya ia membeberkan soal melahirkan. (hlm 82 s/d 101).
Datang bulan, persetubuhan, hamil, melahirkan, dan juga menyusui anak, menurut penulis tersebut merupakan bagian pesta seks perempuan. Kenyataan itu baginya merupakan kelebihan perempuan dibanding lelaki.
Perihal menyusui, Annie berkata: Jangan berpikir bahwa kebahagian dalam meneteki sama dengan kenikmatan elusan atau kuluman payudara dalam tindak seksual, bahwa kebahagiaan itu hanya semacam pengulangan berjangka, citraan tidak utuh, atau semacam pengkhayalan awal yang tidak jelas. Menyusui menimbulkan kebahagiaan yang khas, padat dan bulat seperti serabi yang berhasil. Suatu kebahagiaan yang tidak mengingatkan atau meramalkan kebahagiaan lain serupa. Suatu kebahagiaan yang berawal-akhir, utuh.
Dan tentang persetubuhan, ia melihat bahwa perempuan bukanlah sekadar melayani nafsu lelaki, melainkan memberi sesuatu kepada lelaki. Memberi jauh lebih tinggi nilainya dibanding melayani. Dan penafsiran demikian ini, menurut Annie, membuat perempuan melebihi lelaki, melingkupi lelaki.
Penafsiran yang sekarang masih berlaku dalam masyarakat bahwa perempuan itu dalam segala hal hanyalah sekadar subordinat dari lelaki, pelayan lelaki, itu hanya akan membuat perempuan senantiasa terkurung dalam inferioritasnya. Perempuan harus mengubah pandangan ini.
Inferioritas itu semula diciptakan oleh lelaki. Kaum perempuan, menurut Annie, harus menyadari cara pandang yang baru, supaya jangan selalu terkungkung dominasi lelaki, berada di bawah hegemoni lelaki. Ia mendorong,-dan dengan novelnya itu memberi contoh- agar perempuan berani membicarakan secara terbuka masalah ini. Dengan demikian akan menjadi wacana umum.
Kisah di balik kehebatan laki-laki membuat pengarang tersebut geli. Aku mempertanyakan atas nama apa mereka menuntut dan merendahkan perempuan, atas dasar apa mereka merasa menang. Dan aku menemukan nilai-nilai mereka yang tercantum dalam cakrawala keagungan dan martabat manusia. Begitu menyadari hal itu, aku mulai tertawa geli. Lalu: Aku asyik mengamati laki-laki di sekitarku dengan penerangan dari keagungan dan martabat manusia.
Ternyata laki-laki yang dianggap makhluk paling bagus, sama sekali tidak seperti yang digambarkan. Mereka lemah tetapi memberi kesan kuat. Mereka pengecut tetapi memberi kesan berani. Picik tetapi memberi kesan jenius. Sempit akalnya tetapi berkesan penuh ilham. Kikir tetapi memberi kesan murah hati. Aku merasa kasihan melihat mereka begitu buruk. (hlm 15).
Lelaki, yang mulanya juga dikandung oleh perempuan, pada hakikatnya selalu ingin berkuasa atas perempuan, selalu merasa superior. Tanpa kehebatan demikian, lelaki merasa bukan lelaki, demikian kesimpulannya dalam membahas pembagian kerja lelaki dan perempuan (hlm 113 s/d 125).
Kondisi perempuan yang disubordinasi, dieksploitasi, diperbudak, dan dibungkam, bukan sekadar merupakan soal kezaliman kaum lelaki, tetapi juga kebodohan perempuan, kata Annie. Penegasan yang juga peringatan bagi kaum perempuan ini muncul dalam kata pengantarnya (yang juga tanpa judul) di halaman v s/d ix.
***
ASLI buku itu, Parole de Femme, pernah diterbitkan di Paris tahun 1974. Khusus untuk edisi Indonesia yang diterbitkan oleh Kanisius Yogyakarta (atas dukungan Departemen Luar Negeri Perancis melalui Bagian Kebudayaan, Ilmiah dan Kerja Sama Kedutaan Perancis, serta Pusat Kebudayaan Perancis di Jakarta), Annie Leclerc memberikan kata pengantar tersebut, bertanggal Paris, Desember 1998.
Narasi dan ucapan-ucapan dalam buku ini blak-blakan, lugas, spontan, dan tajam. Dengan gaya ini, penulis memiliki arah yang sama dengan kaum feminis pada umumnya, yakni ingin mendekonstruksi budaya yang selama ini mengembangkan stereotip perempuan. Pengarang menggugat dominasi wacana laki-laki (dan menawarkan wacana perempuan).
Alangkah puasnya bila kita mampu membaca buku aslinya yang bisa diduga penuh pernyataan telanjang, lebih mengena, langsung ke sasaran tanpa tedeng aling-aling.
Membaca buku ini, kita memperoleh kesan bahwa feminisme yang hidup dalam diri pengarang tergolong garis keras (radikal). Suara kaum feminis sekarang ini memang terus dibutuhkan untuk mengubah paradigma lama, patriarki.
(Dwi Koratno, pengamat buku tinggal di Yogyakarta )
No comments:
Post a Comment