Kepingan masa kecil
Yang tercecer, aku sedang mengumpulkannya
Sebagian kepingan-kepingan itu tersisa air mata
Sebagian adalah kesakithatian
Sebagian lagi kenaifan
Tulisan ini sesungguhnya telah lama tersimpan dalam file laptopku. Sebagai diary yang hanya dikonsumsi pribadi sebagai teriakan hati kala itu. Namun, saya tidak menyangka saat melihat di media TV, seorang King of Pop yang baru meninggal beberapa pekan ini memiliki pengalaman masa kecil yang hampir sama dengan saya. Tidak heran dia begitu mencintai anak-anak. Saya tau hatinya pasti tidak menginginkan anak-anak lainnya melewati masa-masa tidak bahagia sepertinya. Demikian pula diriku. Dan kisahku.
Aku terlahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak terlalu membeda-bedakan gender meski ibuku adalah korban KDRT. Terlepas dari KDRT (yang bahasannya berbeda), mungkin karena anak-anak mama dan papa adalah perempuan semua sehingga kami tidak merasakan perbedaan perlu didoktrin ortu kami.
Dalam hidupku sebenarnya aku tidak pernah mengagumi papaku, meski aku (mencoba harus) menyayanginya. Namun, sejak aku mengambil cara pandang feminis dan melihat sosok lingkungan sekitarku yang sangt tidak adil gender betapa ada satu hal yang kubanggakan dari papa. Dia laki-laki yang tidak terlalu mempersoalkan gender. Dia tidak malu mencuci baju, memasak dan membersihkan rumah. Bahkan pekerjaannya jauh lebih bersih dan rapi. Dia menggantikan popok adikku dan merawatnya. Dia pernah membuatkan teh saat temanku sedang bertamu. Yang selalu ku ingat bahwa siapapun baik laki-laki maupun perempuan harus rajin melakukan pekerjaan domestic.
Mungkin hanya aku, anak kedua dari tiga bersaudara buah hati pasangan Kumala J. M dan Daud M yang paling mengagumi sosok seorang ibunya. Mungkin hanya aku pula yang tetap menganggap dia sebagai wanita yang luar biasa sejak kecil hingga beranjak dewasa sekarang. Hanya aku yang diam-diam membanggakannya.
Tetapi itu kepingan kecil. Ada banyak kepingan lagi yang memang tidak membahagiakan. Jika aku menutup mata dan return ke masa belasan tahun lalu seperti masa yang dipenuhi hari-hari yang ketakutan. Jika aku membuka mataku dipagi hari kala itu, aku takut jika pria yang ada dirumahku tersebut berbuat kekerasan lagi padaku dan kakakku. Aku berharap tidak mendengar teriakan lagi, berharap tidak melihatnya mengambil sapu dan mengarahkannya pada pahaku, tidak merasakan tamparan dan cubitannya di kepala dan wajahku, serta tidak melemparkanku kain lap yang kotor dan bau itu ke wajahku.
Aku berteriak memanggil kakakku agar cepat keluar dari pintu samping saat pria itu mengamuk. Kakak berlari-lari meninggalkan kejaran papa. Dia berlari keluar rumah melewati pintu samping yang aku bukaan untuknya agar dia selamat dari serangan ganggang kayu sapu. Tapi tidak disangka saking kalapnya dia mengejar kakak sampai ke kebun tetangga sebelah rumah. Aku sangat khawatir melihat mereka berkejar-kejaran. Sepertinya pria itu tidak akan puas jika tidak mendapatkan mangsanya. Aku menanti cemas dirumah sambil mematung. Hingga saat mereka berdua kembali, aku hanya melihat ganggang sapu kayu itu sudah patah. Sehari itu aku hanya melihat tubuh kakak yang kebiru-biruan dengan wajah (dan mulut) yang membengkak. Pria itu memang sangat suka mencubit dan memukul mulut kami karena jika dia “beraksi” dia akan berteriak “Jangan Menangis”, “Jangan Melawan” dan “Mulutmu itu!”.
Kendati aku tidak separah kakakku, hal itu karena aku banyak diam. Karena aku takut. Jauh lebih takut. Tetapi mungkin jauh lebih menyimpan kesakitan dibanding kakak. Sakit melihat dia memperlakukan kakakku dan mamaku seperti itu. Aku sangat takut, kala itu dia memukul...dan memukul lagi.........................
Kemudian mama akan datang dan membela kami. Meminta pria itu untuk menghentikan apa yang sedang ia lakukan pada kami. Tapi pria itu tidak menggubris apa yang dikatakannya. Entahlah mengapa dia selalu bersikap kalap seperti itu. Dia seperti kerasukan tiap memukul anak-anaknya. Mama berusaha menghalangi pukulan pria itu padaku, sementara aku hanya mengerang-ngerang berteriak mohon ampun. Mama berusaha menangkis tangannya namun tak kuasa. Saat itu yang kuharapkan adalah lebih baik aku terluka dan mati agar pria dihadapanku ini menyesali bahwa dia membunuh anaknya. Namun, toh aku baik-baik saja, hingga aku tumbuh dewasa, dia tidak membunuhku secara fisik tetapi membunuh hatiku.
Diantara diriku, mama dan kakak. Seharusnya aku yang paling beruntung. Karena dari sisi siksaan, mereka pasti jauh lebih tersiksa. Tetapi karena akupun merasakan siksaan itu membuatku juga jauh lebih sakit. Sejak kecil, kami dibesarkan dengan dibeda-bedakan. Mereka selalu memojokkan kakak dengan menganggapnya bodoh sedangkan aku dibesarkan dengan pujian sebagai anak pintar. Dan mereka akan terus meneriakkan kakak, “Contohlah adikmu”, “Adikmu itu pintar”, “Adikmu itu lebih penurut”, dan segala macam ucapan yang memojokkan kakak. Namun bagiku, tidak ada kebanggaan sama sekali melihat cara mereka yang membanding-bandingkan seperti itu. Mereka tidak dapat merasakan bagaimana perasaan kakak dan aku.
Aku sungguh ingin pergi dari rumah itu. Selama rumah itu tidak ada perubahan. Aku tidak ingin tinggal dirumah itu. Umur 7 tahun aku sudah berencana ingin kabur dari rumah, umur 10 tahun rencana itu muncul lagi, umur 15 tahun aku sangat iri melihat kakak bisa kuliah di Bali, dan umur 18 tahun akhirnya aku bisa pergi dari rumah itu sampai sekarang. Beberapa kali teman menanyakan padaku, kenapa tidak kembali ke kampung halamanmu untuk bekerja disana. Aku? Aku sangat ingin pulang, aku sangat mencintai kampung halamanku, tempat yang sangat nyaman bagiku, tapi aku tidak mungkin kembali ke rumah. Karena aku takut, hatiku yang mulai perlahan dihidupkan ini menjadi mati kembali karena kenangan masa lalu. Masa kecil yang begitu berat.
Jika kepingan-kepingan itu perlahan aku susun menjadi suatu puzzle yang utuh, aku merasa mungkin puzzle itu sudah membuat aku terbentuk saat kini menjadi dewasa. Karier yang kujalani cukup baik bahkan mungkin beruntung. Sekarang adalah senyum, meski saat menoleh ke belakang terasa perih. Maka aku ingin melihat puzzle yang utuh ini saja, karena kepingan-kepingan itu sudah kususun agar ditidak tercecer lagi.
No comments:
Post a Comment