Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang pening, mata yang berat serta tubuh yang amat terasa lelah. Meski merasakan tidur malam, tetapi pikiranku tidak istirahat. Malam tadi tidurku sangat gelisah. Bagaimana tidak, teriakan Mrs, Phobia yang emang rada “social phibia” abis itu mengganggu pikiranku. Menghadapi orang yang punya ketakutan berlebihan bisa jadi gila beneran rasanya.
Mrs. Phobia: “Kita bisa dipecat Tira….ok ini nasib kita berdua, mungkin kamu juga harus siap dipecat, aduh kenapa diriku ini, udah ga makan apa-apa, di pecat gara-gara ini….”.
Aku: “Kenapa harus takut kak, … kita kan jujur, lagian kalo maksud kita baik, kenapa punya pikiran harus berlebihan seperti itu?, kalo ada yang kurang jelas administrasinya ya bisa diperbaiki kan (ga usah heboh n kesannya ngancam gitu dunk *tapi yg ini dalam hati*)”
Begitu yang selalu dan selalu Mrs. Phobia takutkan setiap aku harus berurusan dengan laporan keuangan. Bukan masalah laporannya tetapi “LEBAY”-nya dia terhadap ketakutannya akan pekerjaan yang memang dia hadapi.
Mrs. Phobia: “Aku ga tau lho ya….aku ga tau kalo tim audit menolak semua laporan ini, kalo di tolak tim audit, aku ga mau ikut-ikut, kalian yang tanggung jawab, aku gak mau dianggap seperti koruptori”, salah satu kutipan kata-katanya yang langganan bagi kami semua di kantor. Dengan wajah hebohnya yang takut setengah mati. Seperti nenek-nenek yang kehilangan tongkatnya.
Kami sangat heran, karena terus terang kami merasa laporan keuangan kami baik-baik saja, hanya saja penyajian laporan saja yang kadang tidak memenuhi standar pelaporan keuangan, bukankah itu bisa diperbaiki. Tapi kalo yang kita hadapi adalah seseorang yang selalu takut pekerjaannya salah, salah dan salah….hem…dia menikmati pekerjaannya ga si?.
Saya menyebut dia Mrs. Phobia, dia bagian keuangan sementara di kantor kami. Semua laporan keuangan kegiatan, pembelian barang dan perjalanan diatur oleh dia. Orangnya emang social phobia, ketakutannya lebih pada konsekuensi2 negatif yang mungkin timbul akibat interaksi dengan orang lain. Takut dipecat, takut di bilang koruptor, takut salah hitung, takut disalahkan. Kendati sebenarnya itu wajar karena pekerjaan dia di bagian finance, namun rasa takut yang berlebihan sampai harus bikin heboh satu kantor tiap hari padahal ketakutan itu dipicu oleh stimulus yang tidak benar-benar menakutkan / mengancam keselamatan diri, rasanya bikin kita ngucapin “capek deh………..”.
Mrs. Phobia: Kalian harus mengikuti aturan keuangan, termasuk klien kita!”, dan kita tidak bisa berargumen lagi kala dia akan mengancam, “kalau terjadi kesalahan hitung, aku bisa dipecat …. Aku bisa dianggap koruptor!”. Oh MG. Kok ada orang LEBAY (kedua kalinya aku mengatakan) kayak gini. So, bukannya berhubungan dengan klien tetap harus win-win solutions, masa semua harus sesuai aturan dia cumin gara-gara memahami penyakit phobia dia itu?.
Buatku pribadi, kalau kita mengerjakan sesuatu dengan tidak bermaksud jahat serta menikmati pekerjaan kita dengan sukacita, kenapa harus takut A, takut B atau takut C. Mrs. Phobia emang sangat berlebihan, berkas hilang satu maka akan heboh satu kantor (padahal berkas itu ada di depan computer dia..gubrak), HP tergeletak jatuh ketinggian 2 cm, maka dia berteriak heboh seolah-olah HP nya jatuh dari atas genteng dan tercerai-berai, email udah terkirim ajah heboh dan merepotkan orang sekitarnya ga percaya bahwa emailnya udh terkirim belum (padahal jelas-jelas tulisannya –SENT-, gaptek apa ya?).
Kita jadi kasian, karena phobia nya dia, setiap hari yang dirasakan adalah strees, inilah yang menyebabkan dia belum punya anak setelah pernikahannya yang sudah lebih dari 10 tahun. Dokter mengatakan bahwa ini disebabkan karena strees yang berlebihan (ya karena phobia-nya itu), kerja strees, waktu ga kerja n tinggal dirumah aja juga strees, nah repot…gimana cara nyembuhin orang kayak gitu ya?
No comments:
Post a Comment