Monday, May 4, 2009

adventuress wanna be ...

Perjalanan menjadi bagpacker cukup memberi tantangan tertentu bagiku, dengan barang seadanya malam itu aku menyiapkan pakaian, selimut dan seprei untuk keperluan selama 3 hari di SSI. Alarm berdering pukul 07.00 WIB, aku bergegas membersihkan diri dan menyiapkan bagpacker-ku lengkap dengan topi rimba dan sebotol air mineral. Tidak lupa Nikon D60 pinjaman kantor serta laptop Accer 4315 kesayangan ku bawa manis dalam satu tas. Pukul 07.30  aku naik Taxi (sebutan bagi orang Kalimantan, padahal sebenarnya itu angkot/mikrolet) menuju terminal pasar kemudian oper menuju Pelabuhan Kereng Bangkirai.

Bus Air Tirto Wangi sudah menunggu di dermaga, langkahku semakin pasti, maklum ini pertama kalinya aku berangkat sendiri ke SSI Sebangau. SSI kepanjangan dari Sebangau Sinantra Indah, dulu wilayah ini adalah HPH (Hutan Produksi) manakala kayu dilegalkan. Sekarang wilayah itu dijadikan basecamp/field station bagi Balai Taman Nasional Sebangau dan WWF-Indonesia. Hutan Sebangau yang terletak di antara sungai Sebangau dan sungai Katingan ini merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalimantan Tengah setelah Pemerintah Pusat meresmikan sebuah proyek pertanian di lahan gambut di area yang berbatasan dengan Taman Nasional tersebut, yaitu suatu proyek ‘Mega Rice Project’ yang disebut dengan “Lahan Sejuta Hektar” pada tahun 1995. Hutan ini menjadi Taman Nasional dengan luas kawasan sekitar 568.700 hektar, memang pemahaman tentang Taman Nasional kurang dipahami banyak oleh orang awam. Sebenarnya Taman Nasional ini merupakan wilayah yang keberadaannya dilindungi dan dilestarikan berdasarkan pembagian zonasi. Dimana ada bagian-bagian tertentu dari hutan gambut Sebangau ini yang tidak boleh di lewati/dijamah, bagian untuk penelitian, bagian untuk di manfaatkan masyarakat, bagian untuk ekowisata dan sebagainya.

Perjalanan dari Pelabuhan Kereng menuju SSI dengan menelusuri sungai Sebangau sebenarnya cukup ditempuh 3 jam (bus air), namun sayang, perjalanan ini tak semulus yang dibayangkan, bus air beberapa kali mogok. Dengan bermodal karcis Rp. 82.000,- aku bersama penumpang lain cukup sabar menunggu pak motorist membenahi mesin bus air.  Bus air atau kelotok merupakan satu-satunya transportasi andalan bagi masyarakat Sebangau, media jalan darat belum dapat ditempuh dengan baik karena medan yang begitu berat (terlebih di musim hujan). Bus Air Tirtowangi melayani perjalanan Pelabuhan Kereng, Palangkaraya-Paduran, Pulang Pisau. Jarak ditempuh sekitar 8 jam dengan bus ini, tentu saja sepanjang pejalanan kita hanya melihat rasau, bakung dan pohon-pohon gundul bekas terbakar beberapa tahun lalu. Paduran merupakan salah satu daerah terpencil di Kalimantan Tengah yang memang sulit dijangkau. Penduduknya sebagian transmigrasi Jawa sehingga tidak heran jika bahasa mereka identik Jawa. Sejak tahun 1986 pemukiman itu ada sebagai desa kecil bagi para pekerja kayu. Pasca diberlakukannya UU anti Illegal Logging, desa itu seolah terlupakan.

Tapi perjalananku kali ini tidak ke Desa Paduran, melainkan SSI, tempat yang lebih dekat dari Palangkaraya. Sambil menunggu mesin diperbaiki, aku mendengar pembicaraan para penumpang di belakang. “Kabarnya, dibawah sungai ini banyak emasnya, kedalamannya hanya 6 meter”, sahut seorang penumpang yang berlogat campuran Jawa Banjar. Banyak cerita-cerita masyarakat mengenai peluang untuk meraih keuntungan di kawasan yang dilindungi ini.

Aku telat 2 jam dari waktu yang seharusnya. Tapi untung Mas Jo, seorang rekan lapangan menjemputku di wilayah mangkok. Kondisinya saat itu banjir, air naik cukup tinggi. Saat ini aku berada di wilayah pembibitan dan Penanaman. Lokasi ini merupakan salah satu wilayah kerja WWF-Indonesia. Kondisi air tinggi membuat harapanku bertemu macan dahan musnah. Cerita orang-orang lapangan, tiap pagi macan dahan selalu lewat jembatan yang berjarak kurang lebih 1 km dari field station kami. Tapi kalau kondisi air naik, sangat tidak memungkinkan untuk bergerak kedalam untuk melihat-lihat kanopi.
Tapi tak apa, sampai di field station, orang-orang lapangan menyambut dengan senyum. Ya maklum, kondisi di sana sangat jarang bertemu orang, jarang ada tanda-tanda kehidupan, yang ada menyadari bahwa kita sedang berada di tengah hutan yang sebagian gundul karena terbakar.

Hari kedua di SSI
Sebelum alarm HP berdering, aku terbangun oleh kicauan burung-burung dari balik hutan Sebangau yang saling bersaut-sautan merdu sekali. Sungguh membuatku ingin terus memejamkan mataku sambil menikmati nyanyian burung-burung itu. Tetapi sebelum melihat sunrise aku memaksakan diri mengangkat tubuhku, membenahi tempat tidur dan membuka jendela kamar. Wah, tampak pemandangan alamiah semak belukar direndam air setinggi paha orang dewasa.

Camp kami memiliki 5 kamar ditambah 1 ruang kerja, lengkap dengan pendopo, kamar mandi, ruang tamu dan menara pengintai. Pagi itu juga aku segera mengambil kameraku dan naik menuju atas menara, mencoba melihat bentuk matahari yang mulai mengintip dari kejauhan. Warnanya kekuning-kuningan dikelilingi silau merah yang semakin mempercantik bidikan foto yang kubingkai.

Setelah bebenah diri dan sarapan pagi, kami bergerak menuju wilayah mangkok, satu km dari SSI yang merupakan persimpangan /muara yang terkenal ada buayanya. Tentu saja kedatanganku bukan senekat itu untuk mencari buaya, tetapi hanya ingin memotret lanting, yaitu rumah khas Kalimantan yang berada di atas air. Daerah mangkok memang bukan sebuah pemukiman, disitu hanya dibangun 3 buah lanting yang dipakai sebagai rumah persinggahan bagi nelayan yang bekerja. Kami bergegas mengunjungi Mang Sasi (Amang yaitu panggilan serupa Om/Paman), salah seorang nelayan. Beliau membawaku dengan perahu dayung memutari anak-anak sungai Sebangau. Perahu Dayung hanya dapat di tumpangi 2 orang, dan tentu kita tidak dapat sembarang bergerak karena di kondisi tidak seimbang perahu tersebut bisa saja terbalik. Ha..ha terbayang dunk jika perahu itu terbalik, aku dan Mang Sasi bisa menjadi santapan buaya. Tapi tenang, Mang Sasi sudah ahli dalam jukung-menjukung (baca: dayung-mendayung), karena jalan yang dilalui semakin susah dan penuh dengan dahan-dahan pohon yang mengganggu maka kupuaskan memotret hingga akhirnya kami kembali ke lanting.

Siang hari terik, aku kembali ke lokasi Penanaman. Letaknya 5 km dari mangkok. Dengan naik speed kecil 15 PK kami melintasi kanal atau saluran air yang dulu semasa jayanya jaman kayu dipakai sebagai media mengalirkan log kayu dari dalam hutan. Jangan pula membayangkan hutan dikanan dan kiri, karena sejauh mata memandang hanya ada bekas pohon terbakar serta semak belukar sisa kebakaran tahun 2006. Kanal yang dibuat oleh para pengusaha kayu ini justru merusak fungsi tanah gambut yang memiliki tingkat kelembapan tinggi. Saat musim hujan kondisi hutan banjir dan dimusim kemarau sekitar akan kering sehingga dapat menyebabkan kebakaran hutan. Hutan rawa gambut memang unik, peranan hidrologis-nya sangat penting karena secara alami berfungsi sebagai cadangan air/tampung hujan (reservoir) dengan kapasitas yang sangat besar. Jika hutan  tersebut tidak terganggu, lahan gambut dapat menyimpan air sebanyak 0,8 – 0,9 m3/m3, sehingga dapat mengatur keseimbangan air pada musim hujan dan musim kemarau (Suryadiputera, et.al., 2004). Jika keseimbangan ini tidak terjaga, alhasil kebakaran besar beberapa tahun lalu yang membuat kita ekspor asap ke negara tetangga bisa terulang lagi .

Siang itu sekitar pukul 14.00, sinar matahari begitu menyengat. Kebetulan orang-orang sedang melakukan Penanaman di sekitar lokasi. Kulitku mulai gelap, terbakar karena panas sang raja siang, tapi tak apa, bukan rimbawati namanya jika ke hutan gak hitam. Kami sibuk memotret orang yang sibuk menanam, bekerja di lahan bergambut memang perlu kekuatan fisik tersendiri. Bagi anda-anda yang pernah mendaki gunung dan menelusuri hutan di jawa, maka anda belum dikatakan rimbawan sejati jika belum merasakan kerasnya medan rawa gambut.

Hari Ketiga di SSI
Wah, inilah hari terakhirku. Hari ini lebih banyak tidur di SSI. Beginilah jika kondisi sekitar banjir, tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk bisa bertualang. Air pasang, sehingga sulit bagi kita untuk menelusuri tempat-tempat tertentu disela keterbatasan transportasi. Tapi setidaknya disini tempat yang terbaik daripada di kota. Berada di tempat tenang jauh dari sentuhan-sentuhan kapitalis dan manusia-manusia arogan membuatku sejenak bisa banyak berpikir dan menjernihkan hati supaya bisa refresh.

Hari mulai malam, kami pulang di jemput speedboat milik WWF dari Katingan. Mengendarai speedboat di malam hari memang hal yang nekat, maka pak motorist perlu berhati-hati. Sepanjang perjalanan aku hanya menatap langit. Saat berada di kota, aku tidak pernah melihat langit malam seindah ini. Galaksi saling membentuk gugusannya dengan cantik sekali. Aku benar-benar terkesima oleh keajaiban Tuhan, kenapa begitu “amazing”nya cakrawala buatan-Nya. Rasanya terlalu berat melewati moment terbentuknya gugusan bintang tersebut. Apakah ada Andromeda di sana? Saling berkedap-kedip, ada yang besar dan ada yang kecil, perannya persis seperti kunang-kunang yang menghiasi gelap dan menerangi sekelilingnya. Hingga malam semakin larut, aku mengucapkan selamat tinggal malam karena pagi kemudian menyapaku.

No comments:

Post a Comment