saya menulis ini
ketika seorang teman bercerita
betapa dia membenci ayahnya
dan tak bisa memaafkannya
karena kesalahaan ayahnya yang pernah selingkuh dari ibunya
mendengar itu
mengingatkan saya kembali
saya memang harus jujur bahwa dahulu saya sangat membenci ayah
bahkan jika harus membongkar kembali setiap halaman buku harian saya
kebencian itu benar-benar tersalurkan
dalam ribuan tulisan
ya, saya sangat membencinya
karena membencinya
saya juga membenci semua cowok
tidak mau takluk karena cinta
yang tersimpan di hati ini
hanya dendam..dendam dan dendam
mau tau rasanya dendam itu
insomnia akan menghantuimu
saat sendiri tiba-tiba air mata meleleh begitu saja
tapi saat ramai, kamu menjadi sosok yang dingin dan kejam
kamu akan berteriak-teriak kencang
ingin mencakar semua di sekitar
menjambak-jambak rambut sendiri
menampar muka sendiri
karena apa
karena saat itu
saya sedang berperang dengan dendam
yang menyiksa saya
tapi
suatu hari
saya diketukkan pintu hati
dan belajar
untuk mengampuni
dan melepaskan dendam itu
satu hal yang saya yakini
bahwa segala doa tidak akan terjawab
jika kita masih menyimpan dendam
dan belum mengampuni orang yang kita benci
maka
pelan-pelan
saya belajar
untuk mengampuni dia
rasanya lega
meski sulit
tetapi berkali-kali saya lakukan itu
hingga
jawaban doa saya terkabulkan
lebih dari apa yang saya harapkan
maka
yang
ingin
saya
katakan
lagi
adalah
"saya tidak membencimu, papa"
No comments:
Post a Comment