Saturday, August 21, 2010

"saya tidak membencimu, pa!"

saya menulis ini
ketika seorang teman bercerita
betapa dia membenci ayahnya
dan tak bisa memaafkannya
karena kesalahaan ayahnya yang pernah selingkuh dari ibunya

mendengar itu
mengingatkan saya kembali
saya memang harus jujur 
bahwa dahulu saya sangat membenci ayah

bahkan jika harus membongkar kembali setiap halaman buku harian saya
kebencian itu benar-benar tersalurkan
dalam ribuan tulisan
ya, saya sangat membencinya

karena membencinya
saya juga membenci semua cowok
tidak mau takluk karena cinta
yang tersimpan di hati ini
hanya dendam..dendam dan dendam

mau tau rasanya dendam itu
insomnia akan menghantuimu
saat sendiri tiba-tiba air mata meleleh begitu saja
tapi saat ramai, kamu menjadi sosok yang dingin dan kejam
kamu akan berteriak-teriak kencang
ingin mencakar semua di sekitar
menjambak-jambak rambut sendiri
menampar muka sendiri
karena apa
karena saat itu
saya sedang berperang dengan dendam
yang menyiksa saya

tapi
suatu hari
saya diketukkan pintu hati
dan belajar
untuk mengampuni
dan melepaskan dendam itu
satu hal yang saya yakini
bahwa segala doa tidak akan terjawab
jika kita masih menyimpan dendam
dan belum mengampuni orang yang kita benci

maka
pelan-pelan
saya belajar
untuk mengampuni dia
rasanya lega
meski sulit
tetapi berkali-kali saya lakukan itu
hingga
jawaban doa saya terkabulkan
lebih dari apa yang saya harapkan

maka
yang 
ingin 
saya
katakan
lagi
adalah
"saya tidak membencimu, papa"

No comments:

Post a Comment