Thursday, April 30, 2009

ketika mencapai angka 24

1 Mei 2009
Jika mengingat tanggal 1 Mei sebelumnya masih tersimpan ingatan woro-woro demo para buruh di pelataran depan gedung DPRD kota Malang setiap tahunnya. Kala itu, sepulang sekolah kami berkumpul depan sekolah (yang kebetulan berseberangan dengan gedung DPRD) menyaksikan ratusan buruh menaikkan spanduk dan berorasi. Jika itu terjadi, berarti saat itu tanggal 1 Mei. Tidak banyak orang tau bahwa tanggal itu adalah hari buruh sedunia. Tidak banyak juga yang tahu bahwa itu adalah tanggal ulang tahun saya. Tapi siapa saya sebenarnya?

Saya lahir di kota Malang, 01 Mei 1985 di rumah bersalin Tangkuban Perahu, anak kedua dari pasangan Kumala Djuwita Mihing dan Daud Malino. Saya memiliki seorang kakak perempuan (26 thn) dan seorang adik perempuan (17 thn). Mama seorang keturunan Dayak Ngaju yang berasal dari Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, sedangkan Papa seorang suku Toraja yang berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Saya di besarkan di Malang, sebuah kota yang dingin, damai dan nyaman untuk belajar.

Masa kecil tidak terlalu menyenangkan, malah cenderung aneh, pendiam dan cengeng. Tapi sejak kecil saya memang seorang petualang. Sepulang sekolah kegemaran saya bermain di sungai Brantas (sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Timur) dan hutan kecil dibelakang rumah. Saya bersama seorang teman bernama Anita memiliki goa rahasia dan jalan rahasia, itu yang sangat terkenang sampai sekarang. Seumur hidup saya sampai saat ini (24 tahun), saya tidak pernah merayakan pesta untuk ulang tahun. Tidak hanya ulang tahun, bahkan wisuda maupun kelulusan juga tidak pernah, bahkan kebaktian pengucapan syukur sekalipun.

Masa remaja sangat menyenangkan, proses penemuan jati diri yang masih statis. Tapi disinilah saya mulai merancang masa depan. Saya sangat ambisius dan ulet. Saya memiliki banyak teman dan sahabat. IQ saya saat dibangku SLTP tergolong “sangat superior” yang berarti cerdas, memperoleh rangking di kelas, saat itu semua orang mengira saya akan menjadi dokter kelak. Menginjak SMU, IQ saya berkurang drastis “diatas rata-rata” dan dengan mulus masuk kelas IPS (yang notabene dianggap buangan karena tidak bisa masuk IPA), tidak ada yang saya sesali, karena penentuan arah hidup saya dapatkan disini. Menjadi aktivis sosial, bukan dunia eksak!

Saya selalu menganggap diri sebagai kunang-kunang, serangga kecil yang hanya bersinar dan tampak di gelap. Untuk apa menjadi terang di tempat yang sudah terang?, bukankah saat lilin kita nyalakan di terik siang hari tak akan nampak keindahannya? Benderang ditengah kegelapan adalah menyenangkan. Itulah tujuan hidup saya, ‘berarti’ bagi banyak orang. Oleh karena itu, saya cenderung tidak ingin menyia-nyiakan hidup!.

Lulus dari bangku SMU, saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Inilah awal pembentukan saya yang lebih matang untuk menjadi dewasa. Meskipun demikian, saya memang orang yang sangat ingin mencoba-coba, termasuk hal yang negative. Dunia malam sempat menjadi pilihan saya tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa. Hidup ini indah, Hidup ini indah saat kita berarti bagi teman-teman, orang tua dan siapapun. Oleh karena itu, se-belok-belok-nya kita dari jalan lurus yang seharusnya, saya tetap tidak ingin mengecewakan orang tua. Sekesal-kesalnya dan sekecewa-kecewanya saya dengan orang tua, tak kan membuat sedih mereka karena ulah saya. Sukses dengan lulusan tercepat wisuda tahap III tahun 2007 dengan IPK 3,4 (standard-lah) serta puas hasil skripsi nilai A (dan masuk perpustakaan tentunya) menjadi bukti kecil hormat saya pada mereka.

Semasa kuliah saya tertarik dengan wacana-wacana feminis. Bukan berarti saya seorang feminis, tetapi bisa dibilang saya cukup kritis mempertanyakan budaya-budaya partiarki yang cenderung mendeskreditkan perempuan. Dari banyaknya wacan-wacana itu yang terkadang membuat saya suka-suka meletakkan nama belakang pam saya. Terkadang menggunakan nama belakang ibu, dan terkadang pakai nama belakang ayah, atau bahkan tidak pakai sama sekali. Satu hal yang aneh dalam diri saya bahwa sampai usia 24 saat ini tidak ada lelaki manapun yang bisa saya percaya. Saya memiliki kekasih yang sudah jalan 3 tahun, tetapi tidak pernah ada kata “pasti” dalam diri saya mengenai seseorang. Saya adalah orang yang cenderung “anti komitmen”. Meskipun saya tidak pernah disakiti oleh laki-laki manapun, bagi saya mereka semua patut diragukan untuk dijadikan teman hidup. Saya tau mungkin saya salah, tapi beginilah keadaan yang sedang saya alami sekarang.


Adakah burung yang mampu terbang lebih tinggi di dunia ini dari Elang?. Saya mengira bahwa dulu saya bagai burung gereja kecil yang bermimpi jadi Elang. Yang selalu iri melihat keperkasaan dan kegagahannya. Lihat saja, Elang bahkan membuat sarang di ketinggian. Padahal semua tahu bahwa di ketinggian, angin selalu bertiup sangat kencang, terlalu lemah bagi tubuh sekecil saya menembus angin sekencang itu. Konon cerita orang-orang Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Saya menyadari menjadi Elang berarti perlu melewati fase kehidupan yang menyakitkan dan keluar dari zona nyaman kita. Dibalik kegagahan dan kehebatannya, dia mampu melewatinya dengan segala proses. Proses yang membentukmu lebih kuat lagi untuk terbang tinggi. Sama seperti Elang, tidak ada pilihan, lewati dan jalani karena toh Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu cerah.

Dua puluh empat tahun masih sangat muda untuk dilewati, tidak terlalu banyak makan asam garam, tetapi saya menjadikan hidup saya begitu berarti setiap tahunnya. Satu hal yang baru saya pelajari bahwa “Hidup tidak perlu mengejar Label”. Melalui pedoman inilah saya belajar tidak ambisi dalam jabatan tertentu, tidak gila hormat dan belajar setinggi-tingginya tanpa ambisi karena gelar.

Saya merasa hidup yang saya jalani begitu sempurna. Meskipun memiliki tubuh fisik yang pendek, gigi tidak rata dan hidung pantat ayam, bagi mereka saya unik, tentu dengan style sendiri. Kendati bukan “tinggi dan langsing” seperti yang –ideal-nya cantik menurut orang, bagi saya kecantikan dimiliki setiap orang baik berupa kepintarannya, senyumnya, kebaikannya atau keramahannya. Hidup yang Tuhan kasih buat saya sangat manis dan indah sekali rencananya. Semakin sempurnanya hidup saya saat melewati saat-saat kritis, melewati derai air mata, melewati khawatir dan sakit, melewati masa kejatuhan dan berhasil melewatinya.

Sehari menjelang ulang tahun-ku yang ke 24.

3 comments:

  1. mau jadi apa aja, minumnya teh botol sosro...
    hehehee...
    u are what u want.

    ReplyDelete
  2. Kata Covey di 7 habits nya..."disaat kematian kita bagaimana orang bersikap apakah tertawa dgn kematian kita, menangis,mencibir, mengejek, cuek atau apapun.."seperti itulah hasil rangakaian tapak2 kehidupan kita...melihat "AKHIR" untuk menyusun langkah kedepan...

    ReplyDelete