Sepertinya cukup lama aku tak memperhatikan nyanyianmu lagi.
Pagiku selalu dilewati dengan melupakanmu. Maaf sahabat. Beberapa
hari ini aku bahkan melewatkan saat teduh. Aku mengacuhkan sang Penciptaku yang
sangat mencintaiku. Maaf.
Dear Panjul,
Akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu. Suara-suara yang lama
memekik telingaku. Namun aku tau bahwa itu pengingat akan mimpiku dimasa lalu.
Membuat orang lain bahagia.
Hidupku terlalu terpusat padaku. Aku. Aku dan aku.
Aku berdalih seolah-olah tak ingin menyakiti siapapun.
Padahal sesungguhnya aku takut menyakiti diriku sendiri. Aku bekerja di sebuah
organisasi social yang melayani banyak orang. Padahal sesungguhnya aku ingin
menyelamatkan diriku.
Tuhan teramat baik padaku, Jul!. Puzzle-puzzle yang tercecer
itu sudah mulai nampak jelas. Jika masa-masa berat dimasa lalu itu telah
menjadikanku wanita dewasa. Aku merasa bahwa diriku sebagai makhluk-Nya sudah
diperlengkapi.
Panjul, aku merasa diriku sangat egois. Aku merasa
hari-hariku hanya memikirkan diriku sendiri. Bahkan doa-doaku hanya berfokus
pada diri sendiri.
Suara-suara itu membisikkanku untuk keluar dari zona nan
nyaman ini. Suara itu mengatakan ,”buka hatimu!”. Suara itu mengatakan bahwa
aku harus mendengarkan setiap ratapan dan tangis. Suara itu mengatakan “lakukan
sesuatu!”. Suara itu memintaku untuk jangan memikirkan diri sendiri.
Panjul, sahabatku.
Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan. Sungguh aku takut
keluar dari zona nyaman ini. Tapi makin hari makin jelas. Terus terang aku tak
melangkah sedikitpun. Suara ini sama seperti 10 tahun yang lalu, ketika jelas
berkata, “carilah damai itu dihatimu!”. Dan aku tak melangkah. Bertahun tahun
kemudian aku melangkah hingga aku mendapatkannya.
Suara kali ini… bagaimana aku menanggapinya? Aku tak tau
harus melangkah kemana. Aku hanya merasa sendiri. Mengikuti suara itukah? Mampukah
aku?

No comments:
Post a Comment