Kamis, 9 Desember 2010
Apa hubungannya antara aku, tante Martina dan Jakarta?
Nama tante Martina tertulis dalam ucapan terima kasih di halaman kata pengantar skripsiku yang kini terpajang penuh manfaat di ruang referensi kampus Fisip UAJY. Beliau salah satu orang yang paling berjasa membantu melewati masa-masa sulitku untuk meraih gelar sarjana, beliau juga yang selalu mendorongku untuk kuat melewati segala kerasnya cobaan menuju sukses, beliau yang selalu memuji dan meyakinkanku bahwa aku bisa dan mampu.
Jakarta juga tertulis dalam beberapa halaman skripsiku yang berhasil kuraih dengan angka “A”. Ketika 50 menit melewati ujian pendadaran skripsi kampus bunda Theresa jln. Babarsari, Sleman, DI. Yogyakarta, ketika itu juga aku bernafas lega mengatakan dalam hati, terima kasih Jakarta!. Jakartalah tempatku di timpa, ditampar dan digembleng. Jakarta sempat menjadi impianku menggapai tantangan yang lebih. Jakarta begitu sakit. Jakarta begitu gila. Jakarta sukses membuatku mengalami tekanan berat. Jakarta sukses member penyakit maag dan gatal-gatal ketika banjir. Jakarta dengan segala kemacetannya, tingkah polah orang-orang yang “semau gue”, biaya hidup yang mahal, got yang kotor, slum area, pengamen, antrian busway, dan supir kopaja yang suka memberhentikan kita seenaknya serta kesempatan memperlakukan seorang karyawan kontrak seperti aku dengan gaji rendah.
Ketika aku tinggal di Jakarta untuk beberapa bulan 2006-2007, aku sempat ngekost, sempat pula tinggal di rumah tante Martina. Beliau kakak papa nomer dua. Usianya 68 tahun tapi lincahnya luar biasa. Tubuhnya kurus, penuh keriput namun gerakannya cepat. Naik turun bajaj dan bus di kota metropolitan dan mengurus rumah dengan 4 pria lain (om dan sepupu-sepupu).
Kekhasan tante Martina adalah: Setiap subuh pukul 5 suara lantunan puji-pujian kidung jemaat dari bibirnya terdengar. Itu pertanda kami sebaiknya bangun untuk segera melakukan doa bersama. Muka kami pasti setengah nyawa semua, lidah masih sepat rasanya menyanyikan puji-pujian, mata setengah watt membaca Kitab Suci. Tapi tante Martina dengan lantang membacakan renungan harian untuk kami.
Malam hari lanjut lagi untuk doa bersama. Kendati kami yang muda suka males-malsan, Tante Martina dengan semangat tetap memimpin lagu dan renungan, Babe, suami tante Martina yang memimpin doa, sedangkan kami yang muda-muda diminta membacakan beberapa ayat Firman. Seperti itu lah setiap hari ketekunan tante Martina.
Jangan pernah merendam baju terlalu lama!.
Kalau kita merendam baju di tempat cucian, dipastikan besok pagi sudah terjemur di atas loteng. Bukan karena Santa Claus. Ya, pasti ini ulah tante Martina yang selalu mencuci bajuku. Sejak berulang kali kejadian, setiap rendam baju sebentar bakal langsung cepat-cepat bilas dan jemur sebelum tangan malaikat membereskannya.
Tante Martina selalu bangun pukul 3 pagi, dia melakukan apa saja di dapur sementara yang lain masih mimpi indah. Tante Martina-lah yang selalu menantiku hingga larut malam ketika aku harus pulang larut malam terjebak macet. Bahkan pernah sampai jam 1 pagi, tante Martina masih tiduran di depan TV mengkhawatirkanku yang pulang hingga dini hari. Dia akan mulai masuk kamar ketika sudah memastikan aku sudah mandi dan makan kemudian tidur.
Tante Martina itu wanita yang luar biasa. Aku mengaguminya. Aku menyadari segala tuaian yang kuperoleh sekarang bukan semata-mata perjuangan dan kemampuanku, tetapi orang-orang yang disekitarku dan kota-kota yang mengajarkan aku banyak hal. Aku sangat mengagumi tante Martina. God Blesses u Autie.
No comments:
Post a Comment