Sunday, August 15, 2010

mendoakan orang lain

Saat saya masih duduk di bangku SMU, saya memiliki seorang sahabat, namanya Anton. Karena arah rumah kami sama setiap pulang dan berangkat sekolah, maka kami menjadi sahabat satu sama lain.


Suatu hari saya bertanya pada dia “Nton, kmu sering melakukan doa malam ga?”, tanyaku penasaran. “Iya dunk”, jawabnya. “Lalu apa saja yang kamu katakan pada Tuhan”, lanjutku. “Aku selalu berdoa supaya Tuhan senantiasa memberkati orang-orang di seluruh dunia ini”, jawabnya sederhana. “Dan aku berdoa supaya mereka semua selalu bahagia”.


Pagi tadi, tiba-tiba saya mengingat kembali moment tersebut. Sepertinya saya kembali ke dimensi waktu, beberapa tahun lalu, saat kami berdua di dalam angkot, perjalanan pulang dari sekolah, dengan seragam abu-abu putih kami, beberapa ratus meter sebelum memasuki terminal. Ya, saya masih mengingatnya.


Kenapa saya tersentak kala itu?. Kenapa moment itu justru mengingatkan saya diantara adegan-adegan lainnya bersama sahabat saya ini?. Saya harus mengakui bahwa terkadang kita selalu mendoakan diri kita sendiri. Mendoakan kepentingan dan impian kita sendiri. Kita lupa mendoakan orang lain. Mendoakan orang banyak. Saya harus katakan dengan jujur, betapa egoisnya saya.


Pagi tadi, di gereja, seorang pendeta mengingatkan saya bahwa mendoakan orang lain itu penting. Mendoakan orang yang di samping kita, mendoakan orang yang membenci kita, mendoakan orang yang membuat kita kecewa, mendoakan teman-teman kantor, mendoakan tetangga kita, mendoakan orang-orang yang satu kendaraan dengan kita, dan juga mendoakan bangsa dan negara ini.


Bahkan seperti apa yang di lakukan teman saya, Anton. Dia mendoakan orang2 di seluruh dunia ini. Kenapa, karena setiap orang berharga di mata Tuhan. Dengan kesederhanaannya, saya menyadari bahwa dia ingin mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang. Ada manusia-manusia yang selalu merasa sedih dan berteriak kenapa aku selalu sial, mengapa cobaan ini menimpaku terus menerus?. Padahal satu hal yang saya pelajari dari Anton bahwa Tuhan menawarkan “kebahagiaan” itu Cuma-Cuma. Maka raihlah itu.

No comments:

Post a Comment