Beberapa hari lalu aku dan teman-teman peri liburan ke Bandung. Dari Palangkaraya tentu saja kami transit di Jakarta dengan muka kusut, mengapa eh mengapa karena itinerary yang udah kita rancang gatot alias gagal total, bagaimana tidak si “Batavia” delay 3 jam lebih, setibanya di Jakarta setelah maghrib justru terjebak macet. Padahal, rencana kami kalo tadinya ga delay, akan jalan2 ke Ambasador. Walhasil malam itu kita cuman mampir di Grand Indonesia, niatnya sie mo nonton, eh di Blitz blum ada NewMooN. Wa perjuangan yang melelahkan.
Jakarta tak pernah berubah, melihat jalanan sekitar mengingatkan saya pada 3 tahun yang lalu, saat hari-hariku berkutat dengan kehidupan metropolis yang menurutku sempat menjadi moment “penjoglogan” diriku. Tempat dimana aku semakin dibentuk, kota yang mengajarkanku kerasnya kehidupan, dan pengalaman yang mahal. Masih teringat lari-lari kecilku mengejar metro mini diseberang Plaza Semanggi, atau perjalanan 6 km-ku dari Gatot Subroto ke Sudirman saat banjir melanda, tak ada angkutan yang bisa ditumpangi. Aku tersenyum mengingat ini semua. Waktu itu uang di kantong tersisa 5000 rupiah, gengsi minta orang tua, tetap bertahan menunggu sampai gaji yang tidak seberapa turun. Jakarta takkan pernah sepi, Jakarta takkan pergi dari peraduannya, jutaan manusia beradu nasib, namun ku punya pilihan tersendiri, saat ini, aku berkata “aku tak menyesal”, karena aku telah dibentuk
Aku terhentak sejenak dari lamunanku. Di atas mobil APV penyiar radio Female FM berkoar-koar memberitakan suasana jalan raya menjelang liburan. Beberapa teman tertidur pulas, aku tetap di posisi kaki silang di jok paling belakang. Perjalanan menuju Bandung yang seharusnya 2 jam kini ditempuh 5 jam. Pukul 3 pagi lebih kami sampai di Lembang, tepatnya di Villa Istana Bunga. Dari villa kita bias melihat bukit Riung Bandung dan bukit Cimahi. Udara dingin menusuk mulai terasa, kami berlima, cewek semua, dengan muka ngantuk langsung mencari posisi tempat tidur..dan yang pasti petingnya yaitu selimut. Udara Bandung sedingin kota dimana aku dibesarkan yaitu Malang. Tapi tetap saja aku merasa kedinginan..grrrggrr.
Pagi ini (meski kurang tidur), kami bergegas melakukan rutinitas umum para pelancong di Bandung, yaitu B.E.L.A.N.J.A. Sebenarnya aku ga terlalu suka shooping, cumin kalo moment seperti ini, saying banget kalo kita gak punya kenang-kenangan untuk bias dipake and ada ceritanya. Misalnya nie ada yang nanya, eh tas-nya bagus beli dmana? Beli di Bandung, distro lagi (nah, kan keren tuh jawabnya..hihihiihi). Setelah puas ke Rumah Mode, Gramedia, dan Bandung Indah Plaza (BIP), kami langsung menuju SapuLidi. Nah lo tempat apa ini? Nuansanya nyaman, mungkin kalo di Palangkaraya namanya Kampung Lauk, tapi jauh lebih keren disini, karena didalam komplek restaurant ini ada danaunya, bebek2 berenang mengitari danau, sementara dipnggir terdapat cottage. Restaurant ini cukup eksklusif, tapi sepertnya lebih pantas untuk keluarga. Kalo penasaran coba aja dating ke Cihideung, Lembang, Bandung.
Nah, kalo tempat romantic paling pas di Siera CafĂ©, di bukit Dago. Wah, malam-malam duduk ditemani temaran lilin di balkon melihat tmaram cahaya lampu-lampu kota dari atas. Sayangnya kmarin malam minggu, jadi ramai banget, coba kalo sepi, wah lebih menikmati banget dh, apalagi ditemani music Jazz….Ajiiiiipp…..lebih sempurna lagi dinner-nya berdua ajah ama Rob “Edward Cullen” Pattinson yang tiba-tiba ngelamar….bakal diajak terbang keliling Bandung tuh….hwaa kagak nahaaaaannnnn.
Asyiknya liburan ini adalah lengkap banget yang didatangi, ya mal, ya took buku mrah, ya petshop, ya FO, ya alam, dll. Nah, sesi hiking ini yang seru. Kami jalan-jalan menuju air terjun, sumpahhhhhh kereeeennnn perjalanannya. Meski di Malang juga ada, namun Bandung lebih menarik karena tembusan hiking kami yaitu kebun teh. Kami terus mengikuti aliran sungai dimana disinilah pipa pipa kebutuhan air penduduk kota Bandung dialirkan. Sumber mata airnya berasal dari Gunung Burangrang, Gunung Wayang dan gunung Tangkuban Perahu. Airnya dingin bagai es, akhrnya kami sampai di air terjun mini, tempatnya tak jauh dari kebun teh, tinggal naik atas bukit kurang lebih 6 meter, langsung Nampak hamparan terasiring kebun teh. Disinilah bahan baku the yang biasa kita minum “Sariwangi” ditanam. Disekitar situ terdapat desa kecil, tempat yang disediakan pemeritah bagi para pekerja pemetik teh. Honor mereka perbulan sekitar 600rb-an, ada juga yang pekerja buruh harian yang mendapat per-kilonya Rp. 600,00.
No comments:
Post a Comment