Apa kita bekerja untuk makan? Atau kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Lihatlah para pasukan kuning yang bangun subuh-subuh untuk membersihkan jalanan, atau nelayan yang menyiapkan perahunya pagi-pagi melepaskan jalanya, atau seorang pengusaha yang harus bangun jam 4 pagi ke kantor untuk menghindari macet dan pulang tengah malam setelah kepadatan jalan berlalu.
Apakah bekerja hanya sebatas mencari nafkah? 5-6 hari kita bekerja dan sehari beristirahat, itu berarti lebih banyak hidup kita dihabiskan untuk bekerja. Bahkan kitab Amsal menjelaskan, janganlah engkau makan jika tidak bekerja. Lalu, apakah bekerja bertujuan sebatas untuk memenuhi kebutuhan perut saja?
Sebuah renungan harian menenangkan saya bahwa kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itulah kita bekerja.
Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapa kecilnya pekerjaan. Pasukan kuning terbangun di pagi hari bukan sekedar membersihkan jalanan, tetapi membantu kebersihan kepentingan umum, nelayan bekerja karena kebutuhan lauk pauk banyak orang serta seorang pengusaha yang banting tulang seharian untuk memberi andil atas perekonomian nusa dan bangsa. Belajarlah dari semut, yang bekerja rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Kerja ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor malah tidak bunyi.
Kita bekerja karena Tuhan bekerja. Tiap pagi Tuhan membangunkan surya, Tiap petang Ia menidurkan senja. Ia meniup awan. Ia meneteskan hujan. Ia menghidupkan indung telur. Ia menghembuskan napas kehidupan ke sebuah janin. Ia mengajar ikan berenang. Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.
Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita. Sekali-kali ia menoleh kepada kita. Ia tahu bahwa kita letih. Ia kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan. Apapun yang kita perbuat, perbuatlah dengan segenap hati kita seperti untuk Tuhan. Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti dan hidup memberi arti. Hidup ini CUMA SEKALI. Sekali berarti sesudah itu mati. Pertanyaannya, apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?
(Referensi: M-Times Oktober 2009)
No comments:
Post a Comment