Tuesday, October 6, 2009

Gam zeh ya’avor gimel, sayin, yud

'untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun dibawah langit ada waktunya’          (pengkhotbah 3:1)

Ada pepatah yang mengatakan “hidup itu seperti roda”, kadang diatas, kadang dibawah. Saat kita berada diatas dan sesekali di bawah itu masih wajar. Namun, bagaimana jika saat kita berada di bawah as-nya patah?. Begitu sering teman-teman saya mengungkapkan curhatnya “kenapa kesedihan ini terus menerus menimpa saya terlalu lama?”. Dengarlah ungkapan Pengkhotbah bahwa segala sesuatu ada masanya, apapun di bawah langit ada waktunya.  Itu yang hanya bisa saya yakini saat melewati masa-masa roda dengan as patah, terlalu lama dibawah. Yang paling penting adalah bagaimana saat kita berada diatas atau dibawah.

Sebuah renungan harian menghentakkan saya suatu kali dengan suatu kisah yang diangkat di jaman kitab Perjanjian Lama. Suatu kali Raja Salomo (atau Raja Sulaeman atau Salome) meminta kepada Benaya bin Yoyada, menteri kepercayaannya untuk mencarikan cincin yang luar biasa. Jika dipakai, cincin itu bisa membuat orang yang senang menjadi sedih dan orang yang sedih menjadi senang. “Saya akan memakainya untuk Sukkot (hari raya panen Yahudi), yaitu sekitar enam bulan lagi”, kata Salomo.

Tentu saja Benaya kebingungan. Dia berusaha keras mencari cincin itu kesana kemari. Musim semi sudah berganti musim panas tetapi cincin itu belum dia temukan. Saat dia berjalan-jalan dengan frustrasi di daerah paling kumuh di Yerusalem, dia melihat seorang tua yang sedang menggelar dagangannya diatas tikar yang tua juga. “Apakah bapak pernah mendengar tentang cincin yang bisa membuat orang yang sedih menjadi senang dan yang senang menjadi sedih?”. Orang tua itu mengambil cincin emas dan mengukirkan sesuatu didalamnya. Saat Benaya membaca kata-kata yang di grafir pada cincin tersebut diapun melonjak gembira. Dia menemukan apa yang Raja Salomo minta. Saat Salomo menerima dan membaca kata-kata yang disana, diapun bersukacita.

Kata-kata sakti apa yang dibuat oleh orang tua itu? “Gam zeh ya’avor gimel, sayin, yud” yang berarti “Semua akan berlalu”. Jika orang yang senang membaca kalimat ini, dia akan berkata,” iya, kesenangan ini hanya sementara, sebentar lagi kesedihan akan datang”. Sebaiknya, saat dia sedang sedih, diapun sambil tersenyum berkata. “Ah, kesedihan ini akan berlalu!”.

Seperti goresan indah Kahlil Gibran yang mengatakan, ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan. Kesedihan dan kebahagiaan adalah dua saudara kembar yang melakukan kegiatannya secara bergantian. Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia manapun tidak akan bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah. Ia seperti dua sayap dari seekor burung. Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya “burung” kehidupan.

Persoalannya adalah punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran untuk berpelukan mesra dengan kesedihan? Segala sesuatu ada waktunya bukan?. Maka sengsaralah orang yang membenci kesediahan. Kunci kalimatnya adalah: Kesukaan dalam KesukaRan. Mari menjalani hari dengan penuh ucapan syukur.

No comments:

Post a Comment