Tuesday, September 15, 2009

Hey, First Love!

Batu, 1997

Pagi di ketinggian 680-1200 m dari permukaan laut, disebuah dataran tinggi, daerah kecil di sebelah timur, 15 km dari kota malang. Kota kecil yang pernah dijuluki Swiss Kecil di Pulau Jawa. Suhu udara dipagi hari mencapai 15 derajat celcius, gadis kecil berseragam putih biru melangkah turun dari angkot yang membawanya dari arah kota Malang. Gadis kecil dengan banyak jerawat di wajahnya, berlesung pipi dan membawa banyak buku dalam tas ransel. Di lengan kanan tertulis label kelas 1F, kelas kebanggaan. Kelas bagi anak-anak terpilih dengan prestasi tinggi dan penuh daya saing. Senyum gadis kecil yang sangat pendiam dan minder, tetapi label di lengan kanannya lah yang membuat langkahnya makin pasti. Usia 13 tahun, pertama kali memberanikan diri belajar naik angkot dan makan diluar rumah dengan teman-teman. Wah, terasa gaul banget....

Melepaskan kucir duaku menjadi awal keputusan untuk menjadi dewasa. Kematian mama angkatku di usia 13 pun merupakan awal keputusan untuk menjadi seorang yang mandiri dan tegar, dan pada usia itu pula aku memaksa diriku untuk hidup bebas dan tidak cengeng!.

Hari semakin cepat berjalan, ulang tahun ke 14 merasakan menstruasi pertama membuat jantungku deg-degan. Semua orang dirumah menatapku dengan tersenyum dan menggodaku dengan berkata 'idih udah gede'. Seiring berjalannya waktu aku semakin menikmati hari-hari di sekolah. Dan merasakan getaran dengan lawan jenis.

Dia anak laki-laki yang sangat biasa, bahkan sering sakit-sakitan. Dia teman sekelas, bangkunya persis di belakangku, sosok yang pendiam, pandai dan rajin. Semula hanya sebuah perjodohan teman-teman yang suka menggodaku. Tetapi selanjutnya ini sebuah perasaan yang akhirnya terbentuk, entah rasanya seperti ada kecebong didalam sini (menunjuk dada) yang menggeliat disetiap sel sel dalam tubuhku, yang tak dapat didefinisikan dengan jelas. Yang pasti, tiba-tiba bocah itu mengganggu hari-hariku, yang membuatku menjadi agak setengah sinting, bukankah aku masih terlalu kecil? Bagaimana mungkin perasaan ini menjadi sangat menggangguku. Setiap detik, wajah lewat dipikiranku, dan aku terdiam terkesima, wajahnya masuk dalam mimpiku, setiap waktu hanya dia yang mengganggu pikiranku dan pertanyaan ini selalu muncul kala itu 'kenapa harus dia?'

1998
Pagi begitu semangat bagi gadis seenergik aku, ke sekolah adalah sebuah kesenangan dan motivasi, tetapi sekolah juga menjadi sepi dan kelam saat dia tidak masuk. Menjelang weekend rasanya begitu mengkhawatirkan, karena jika besok hari minggu, berarti tidak dapat melihat wajahnya walau hanya sehari, sementara kemudian aku menghitung setiap jam yang kulalui agar esok cepat menjadi senin, supaya bisa mendengar suaranya, senyumnya, tatapannya. Cihuy…

Diary kecilku selalu menemaniku di samping bantal tempat tidurku. Diary yang mengajarkanku untuk menulis tentang dia hari demi hari. Tulisan kepolosan dan ketulusan.

Aku lega, caturwulan pertama dia meraih rangking 1, dan aku di rangking 2. Setidaknya setiap nilai yang dia raih adalah sebuah motivasi bagiku, itu adalah sebuah kebanggaan. Ekstrakurikuler yang dia ikutipun dengan cerdik kuikuti juga, mempelajari gamelan jawa cukup menarik, setidaknya melihat dia hari ini sampai pukul 4 sore.

Apa yang menarik dari dia?
Pertanyaan itu yang tak pernah mampu aku jawab, tidak berbeda dengan pertanyaan mengapa kamu mencintai dia?. Tampang childish banget, gaya anak mami banget, tas minta ampun gede banget n berat, orangnya culun abiz, becandaannya jayuz banget, tubuh juga ringkih, romantic juga enggak. Tapi banyak hal bodoh yang aku lakukan selama “tergila-gila”. Berpura-pura sakit di UKS hanya karena dia sedang tergeletak lemah diruangan itu, menelpon dia pada tanggal 17 Juni untuk mengucapkan selamat ulang tahun sebagai penelpon gelap, berpanas-panasan mencari rumah dia meskipun gagal atau mencari sekolah SMU yang berdekatan dengan dia pasca lulus. Apa ini gila?

First love will never die, mungkin pernyataan itu benar, tetapi bukan orangnya yang sampai mati terus dicintai, bukan dia yang saat ini telah beranjak dewasa dan masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Malang, bukan dirinya sebagai seorang pria bernama AAAW. tetapi RASAnya, rasa cinta pertama yang naif, polos dan sangat tulus itulah yang tak bisa kurasakan lagi setelah peristiwa itu. Perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kondisi yang bisa membuat aku menangis dan tertawa secara tiba-tiba. Rasanya pasca itu semua tidak ada lagi bias kudapatkan. Karena saat ini aku terlalu kaku untuk meraihnya kembali. Di mataku hidup ini terlalu kejam jika kita lunak karena cinta.

Jika ingin jujur, ijinkan aku merasakan kembali perasaan cinta polos usia 14 tahunku itu. Kembali ke masa lalu dan menjadi gadis yang lugu. Tolong, kembalikan rasa itu, rasa “mencintai”.


No comments:

Post a Comment