Saat sedang
asyik membongkar-bongkar laci kantor, terselip sebuah buku yang
didesain elegan, isinya benar-benar memasuki ruang neverland-ku...
buku itu hadir merasuki alam imajinasiku yang ingin kuraih dalam neverland...
halaman demi halaman kubaca
mengingatkanku beberapa tahun lalu ............
Gelap menyempurnakan dirinya
Dingin angin malam membuat tubuhku gemetar
Langit menebarkan gerimis yang membasahi baju
dan menusuki pori-pori kulitku, membekukan tulangku
Lelah, letih, lapar menemani kesunyian perjalanan keseharianku
Kakiku sudah mati rasa
Tapi aku terus melangkah...dan terus melangkah.
"Korek api...korek api..korek api"
Sepertinya
semua telinga yang ada di sekitarku sedang kena tenung tuli. Seandainya
semua manusia di alam ini mendapat mujizat seperti Beethoven. Yang bisa
menghasilkan sebuah maha repertoar musik walaupun ia tuli, mungkin aku
tidak perlu lagi berteriak-teriak seperti ini Seperti yang pernah
dikatakan Helen Keller, "Hal-hal yang paling baik dan paling indah di
dunia ini tidak bisa dilihat dengan mata, didengar atau disentuh, tapi
dirasakan dalam hati...."
Dalam
ketakutanku atas pandangan yang tak ramah, aku terus menawarkan
korek-korek itu. Berharap sebuah anggukan yang akan membuatku
tersenyum. Aku terus menghimpun harapan yang masih tersisa. Tapi setiap
kata "tidak" yang kuterima membuat harapan itu tercerai berai Lalu
kukumpulkan lagi, satu-demi satu. Telah kudengar seribu "tidak"
menyakiti telingaku dan selalu kukupulkan lagi serpihan-serpihan
harapan itu Berulang-ulang. Entah sampai berapa kali.
No comments:
Post a Comment