Ya…kenapa kita harus terpasung oleh ideologi yang dibuat oleh nenek moyang kita, mengagung-agungkan peran laki-laki, meninggikan mereka seolah mereka penguasa bagi perempuan. Ini namanya hegemoni…..ini namanya penanaman ideologi yang secara tidak sadar mencuci otak kita ..sejak bayi ampe bangkot juga kalo u “nrima” ideologi itu semua, lu stupid!!!!!
Tulisan gw bukan sebuah perlawanan, tulisan gw juga bukan sebuah tindak radikal, tulisan gw juga bukan bermaksud menyudutkan kaum pria, tulisan gw hanya ingin membuka mindset orang, baik itu perempuan maupun laki-laki bahwa keseteraan gender itu perlu diwujudnyatakan….
Gw cewek, dengan jenis kelamin perempuan, itu kodrat…dan inget kodrat sebagai perempuan hanya melahirkan dan menstruasi. Lebih dari itu salah besar kalau kita diposisikan beda dengan anda laki-laki. Gender hanya sebatas peran guys….peran kita dilingkungan civil society. Jadi bedakan seks dengan gender!!!!!!!!!!!!!!
Gerakan feminisme merupakan gerakan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan sebagai manusia yang tidak dapat dibedakan dengan laki-laki. Perempuan dianggap memiliki kewajiban dan hak yang sama dalam relasi sosial.tuhhh catet..!!!! Sampai detik ini gw masih mempertanyakan kenapa cewek harus bisa masak? Napa cewe harus telaten dengan urusan dapur? Napa cewek ditempatkan pada sektor domestik sementara cowo ditempatkan pada sektor publik?
Berangkat dari gerakan liberalisme, orang-orang menuntut kebebasan dan hak asasi sebagai manusia. Sepertinya inilah akar dari feminisme itu muncul. Jika sebagai manusia kita bisa bebas ditengah masyarakat, maka sebagai perempuanpun tentu memiliki kebebasan mengekspresikan diri. Intinya bukan pada ideologi patriarki yang sedikit banyak kita akan “pasrah” dengan keadaan yg ada. Coz, someday gw pernah membicarakan hal ini dengan tmn gw, “dunia patriarki ga akan punah, Tir!”. Karena bagaimanapun ideologi yg sudah tertanam itu terlalu kuat. Ok...ok..gw kalah, gw ga mungkin sok idealis, seolah bisa merubah segala sesuatu semudah membalikkan telapak tangan. Tapi gw mencoba membelokkan arah sedikit, gimana kalo bukan dunia patriarki yg perlu dipunahkan,ntar nyesek!!!sakit hati karena perjuangn itu hanya menjadi batasan wacana, tapi perjuangkan penghargaan terhadap kebebasan perempuan dalam berekspresi. Cukup!
Perempuan boleh menjadi ibu rumah tangga, tapi bukan atas dasar pemahaman dia bahwa perempuan harus menjadi housewive, tetapi karena dia merasa nyaman dengan pekerjaannya. Jika sebaliknya, ia tidak nyaman dilingkungan domestik, dan berkarier di ranah publik, itu bukan sebuah “kesalahan” tapi itu kebebasan sebagai manusia merdeka! Jadi Dhani (low..kok malah pentolan Dewa?), lu tuh picik banget!!angkuh!!! Sekarang siapa dunk yg bertanggung jawab terhadap perkembangan anak? (dalam konteks Maia & Dhani), ya dua-duanya dunk…ga semua beban diberikan pada Ibu…
Suatu kondisi dimana kamu sebagai perempuan merasa “terkekang” karena peran gender maka u berada pada posisi “termarjinalkan”, dan u punya hak untuk menuntut persamaan..yukkkss…..
Alangkah lebih baik jika perempuan tidak merasa menjadi makhluk nomor dua dan merasa di definisikan, karena metanarasi tidak hanya bercerita tentang adam (his story), tetapi juga bercerita tentang hawa (her story), karena dalam pandangan post-modernisme tidak ada homology, sudah selayaknya perempuan berkata ia pada dunia ………………
*suatu ketika masih jaman mahasiswa yang idealis!
No comments:
Post a Comment